Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
57. Kembalinya Masa Lalu


__ADS_3

Lukman baru selesai mandi, saat di luar terdengar ada ramai suara orang berbincang, Lukman pun menghampiri Ibu yang di ruang tengah sedang minum teh sambil makan gorengan.


"Ada siapa Bu, di depan?"


Tanya Lukman.


"Ini, Mas Rahmat dan Mas Munir, datang mengunjungi Kang Mas mu,"


Kata Ibu,


Gorengan hangat di atas piring yang kini tengah dinikmati Ibu pastilah buah tangan keduanya, termasuk kue talam dan juga kue pipis.


"Ooh..."


Lukman mantuk-mantuk.


"Mas Yanto mau bangun?"


Tanya Lukman pula setelah menoleh ke arah kamarnya yang pintunya terbuka, Ibu mengangguk,


"Tadi dibujuk Mas Munir,"


Ujar Ibu.


"Oh, pantesan."


Lukman terlihat tidak begitu kaget, karena mengingat Munir memang termasuk teman paling dekat kakaknya selama ini.


"Mbak Ukha belum pulang Bu?"


Dan Lukman baru saja bertanya soal Mbak Ukha, manakala di depan terdengar suara Mbak Ukha yang sepertinya pulang dari beli sarapan.


"Biasa, dia kalau beli apa-apa lama karena pasti ngobrolnya ke mana-mana."


Kata Ibu kemudian,


Lukman mengangguk,


"Makanya anak-anaknya pada dimasukkan pesantren sama suaminya, daripada nanti ketularan kebiasaan ibunya."


Ujar Lukman sembari tertawa sambil masuk kamar untuk mengambil kaos ganti,


"Ke Nyi Parijem, Man."


Kata Ibu mengingatkan,


"Iya Bu, ini mau ganti baju dulu."


Sahut Lukman dari dalam kamar,


"Nopo Bu?"


Terdengar Mbak Ukha bertanya dari belakang Ibu duduk,


"Oh Kha,"


"Antri di Bu Sum, diajak cerita juga sama Bu RT nya di wilayah tempat tinggal Yanto."


Mbak Ukha meletakkan bungkusan-bungkusan sarapan yang baru dibelinya di tempat Bu Sum.


"Lah ini banyak gorengan, tahu gitu aku tidak usah beli tahu isi sama bakwan."


Kata Mbak Ukha pula,

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ini dari Munir sama Rahmat, itu lagi ngunjungi Yanto."


Kata Ibu,


Mbak Ukha mantuk-mantuk,


"Iya tadi kelihatannya Yanto sedang cerita serius dengan Munir, kalau Rahmat itu ngobrol sama Paman, rame sekali, mbahas pohon Jati di kebon depan itu Bu."


Kata Mbak Ukha,


"Kamu bawakan saja itu bakwan sama tahu isinya ke depan, ini kan sudah ada gorengan."


Ujar Ibu,


Mbak Ukha pun mengangguk setuju.


Di dalam kamar, Lukman yang semula akan ganti baju, tiba-tiba penasaran dengan cincin yang tergeletak di atas meja belajarnya.


Tampaknya, Yanto memang tak berniat membawanya saat menemui Munir hingga cincin itu diletakkannya di atas meja saja.


Lukman meraih cincin itu, dilihatnya bentuknya yang tampak tak ada beda dengan cincin lainnya.


Karena masih penasaran, Lukman pun mencoba melihat ke bagian dalam ring cincin, yang kini terlihat ukiran nama,


Yanto.


Lukman menggenggam cincin itu,


Ini sudah jelas nama yang tertulis adalah nama Mas Yanto, berarti ini cincin seharusnya adalah cincin yang dipakai Mbak Mirna. Batin Lukman.


Tapi...


Lukman kemudian mengingat dulu Mbak Mirna sepertinya tidak pernah memakai cincin dengan model ini.


Siapa yang memakai cincin ini? Batin Lukman.


Dan karena rasa penasarannya, Lukman pun akhirnya memutuskan membawa cincin milik Yanto itu untuk nanti akan ia bawa ke tempat Nyi Parijem.


Tentu saja, ia harus menanyakan cincin ini, cincin yang tiba-tiba ada di depan rumahnya semalam.


Pasti ada sesuatu pada kakaknya, entah apa itu Lukman belum tahu pasti.


Tapi demi agar semua masalah bisa cepat selesai, Lukman akan minta bantuan Nyi Parijem.


**-----------**


"Jadi, maksudnya, cincin itu sudah lebih dari dua belas tahun tidak kamu lihat?"


Tanya Munir pada Yanto,


Tampak Yanto mengangguk,


"Di mana cincinnya?"


Tanya Munir.


"Di kamar."


Jawab Yanto.


"Apa yang akan kamu lakukan Yan?"


Tanya Munir,

__ADS_1


"Katamu teman Winda ada yang pinter, pergi saja dengannya."


Kata Munir pula.


Yanto menghela nafas, ia tampak menerawang jauh ke depan,


"Aku tidak tahu apakah akan menemui Winda lagi atau tidak."


Sahut Yanto.


"Lho, kenapa?"


Tanya Munir,


"Aku merasa Mirna mendatangiku salah satunya karena Winda, Nir."


Ujar Yanto,


Munir begitu mendengarnya tampak terkesiap, ia tiba-tiba jadi ingat saat ia pulang mengantar Yanto ke pemakaman,


Ya...


Hari itu, saat ia seperti mendengar ada sebuah bisikan,


Munir sejenak kembali merasa sedikit merinding karena mengingat kejadian waktu itu.


"Bagaimana kalau Nyi Parijem saja Yan."


Ujar Munir akhirnya,


Yanto mengangguk,


"Mbak Ukha akan ke sana hari ini, harusnya aku ikut, tapi biarlah dia dulu, tubuhku rasanya lelah sekali."


"Kamu harusnya jangan terlalu jauh tenggelam dalam situasi itu Yan, lusa harusnya kamu sudah bisa kembali beraktifitas seperti biasanya."


Ujar Munir.


Yanto pun mengangguk membenarkan, memang harusnya ia bisa kembali bekerja mulai lusa, dan tak boleh membiarkan dirinya terlalu berlarut-larut mengurus masalah semacam ini.


Saat hari duka telah berlalu, semestinya ia sudah bisa kembali mampu memulai semuanya lagi dari awal.


Seberat apapun, mustinya Yanto memang sudah bisa fokus lagi bekerja.


"Atau perlu aku temani?"


Tanya Munir,


Yanto menoleh ke arah Munir sejenak, lalu tersenyum sekilas lalu, sebelum akhirnya menjawab pula,


"Ya Nir, nanti aku akan ke sana, tenanglah."


"Bukan masalah tenang atau tidak tenang Yan, memang masalah ini juga harusnya cepat diselesaikan, kamu tak bisa membiarkannya berlarut-larut, ini bukan hanya soal kamu harus cepat kembali bekerja, tapi juga bagaimana caranya kondisi di dalam kehidupanmu, dan juga di wilayah kita ini bisa kembali nyaman. Sori Yan, bukan aku bermaksud kalau..."


Munir rasanya kesulitan memilih kalimat yang harus ia sampaikan pada Yanto, lalu...


"Tak apa Nir, aku paham, semua mulai benar-benar terganggu, aku juga sama. Hanya saja, aku memang bingung harus mulai dari mana dulu menyelesaikan semua ini. Apalagi, kemunculan cincin yang telah hilang lebih dari dua belas tahun itu rasanya semakin membuat otakku berpikir aneh-aneh. Ini benar-benar terasa aneh."


Tutur Yanto.


Munir menghela nafas.


Sungguh dulu isterinya meninggal dalam posisi hamil dan kecelakaan saja tak ada penampakan yang seaneh mendiang isteri Yanto, ini membuatnya benar-benar jadi ikut pusing memikirkan masalah Yanto.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2