
"Apa kau tidak pernah melihatnya sama sekali? Sedangkan sudah banyak sekali warga yang melihat penampakannya..."
Kata Mbak Ukha.
Yanto melihat ke arah Tita yang masih dipeluk Bibik Nur,
"Kalian pindahlah, jangan sampai Tita mendengar."
Omel Ibu dengan suara seperti bisik-bisik,
Mbak Ukha lalu menarik tangan Yanto menuju ruang belakang, yang dekat dengan dapur rumah mereka.
Mbak Ukha meletakkan kresek belanjaannya yang baru ia dapatkan dari warung dekat rumah, yang nantinya akan diolah untuk lauk makan malam.
"Isterimu jadi kuntilanak, kau harus mempercayai aku."
Ujar Mbak Ukha.
Yanto menatap nanar kakaknya,
"Ak... Aku mendapati keanehan di rumah, Winda membawa temannya melakukan pembersihan. Aku tak melihat penampakannya secara wujud dengan jelas, aku hanya melihatnya dalam mimpi."
Kata Yanto,
"Dan tadi... Suara Lukman, tatap mata Lukman."
Kata Yanto.
"Tidak ada Lukman, itu pasti Mirna yang menyerupai Lukman."
Ujar Mbak Ukha.
Yanto kakinya terasa lemas, bersandar ia di dinding ruang dekat dapur rumah Ibunya tersebut.
Sungguh, ia hanya ingin Mirna hidup lagi untuk minta maaf, tapi bukan ia menjadi hantu...
Ini terlalu menakutkan thor...
(Isssh)
"Kau yakin teman Winda bisa membentengimu dari gangguan Mirna?"
Tanya Mbak Ukha.
Yanto menggeleng,
__ADS_1
"Entahlah, aku belum tahu, ia hanya mengatakan bahwa rumah sudah dipagari, jadi tidak ada hantu yang bisa masuk. Foto-foto yang ada di seluruh dinding rumah sudah diturunkan dan dibuang, alasannya tentu karena gambar berupa manusia adalah tempat yang paling disukai hantu untuk rumah mereka."
"Rumah ini juga diberi pagar oleh Nyi Parijem, sayangnya ia tidak mau mengusir hantu Mirna agar tidak lagi mengganggu sama sekali,"
Kata Mbak Ukha.
"Apa alasannya?"
Tanya Yanto,
Mbak Ukha menatap tajam Yanto,
"Sepertinya kau sebetulnya pasti tahu alasannya bukan Yan?"
Mbak Ukha menyelidik,
Yanto tercekat, ia sungguh seperti terdesak pada posisi yang benar-benar tidak enak saat ini.
"Nyi Parijem ingin memberikan kesempatan Mirna menyelesaikan masalahnya, dan jika itu denganmu, maka kau harus bersiap bertemu dengannya."
Ujar Mbak Ukha.
Yanto tampak tubuhnya kembali bergetar karena takut, bayangan wajah Lukman saat tadi bicara kembali melintas di pelupuk mata, pun juga dengan suaranya.
Kalimat ancaman tentang Winda dengan jelas gamblang dikatakannya, yang tentu saja itu berarti memang inilah masalahnya.
Yanto sejenak berpikir dengan lebih dalam,
Kenapa Mirna masih begitu marah pada Winda?
Padahal satu bulan sebelum melahirkan semuanya sudah terlihat kembali normal.
Mirna juga lebih sibuk mempersiapkan persalinan, di samping ia juga harus istirahat penuh karena kesehatannya menurun kala itu.
Yanto sungguh tidak mengerti, meski ia memang masih sesekali bertemu dengan Winda diam-diam, tapi selama satu bulan itu jelas Mirna tidak pernah menyinggung sama sekali.
Hingga kemudian ia melahirkan dan meninggal, Yanto merasa sangat terpukul karena bagaimanapun ia memang belum sempat meminta maaf, dan ia sungguh bingung hidup sendirian jika harus mengurus Tita dan Panji.
Meskipun Winda tentu bersedia untuk dinikahi, tapi bagi Yanto, ia belum sepenuhnya yakin ingin menikahi Winda dalam waktu dekat ini.
Yanto tentu sadar betul, bahwa Ibunya pasti akan menentang keras pernikahan itu jika sampai terjadi, belum lagi hujatan dari masyarakat sudah pasti pula akan Yanto terima.
Apalagi, Yanto adalah seorang pamong di kelurahan, ia cukup dikenal di tengah masyarakat selama ini, gerak-geriknya akan sangat dipandang oleh banyak orang.
Itulah sebab, Yanto sangat menjaga hubungannya dengan Winda, karena ia berusaha untuk tidak sampai menjadi pergunjingan.
__ADS_1
Kemarin saja, Winda sampai menginap pun, Yanto memastikan dengan benar-benar, agar tak ada yang melihat.
Yanto menghela nafas,
Rasanya, memikirkan apa yang sebetulnya ingin Mirna tuntut lagi membuat Yanto merasa semakin takut jika harus menikah dengan Winda.
Mungkinkan Mirna memang sudah terlanjur membenci Winda?
Kenapa dia begitu membenci Winda padahal mereka belum pernah bertemu secara langsung?
Mirna hanya tahu Winda dari chat yang ia baca, tahu nama Winda dari cerita Mbak Ukha yang selalu mengatakan mantan-mantan Yanto yang paling cantik adalah Winda.
Jadi, apa mungkin hanya karena kecemburuan yang sebetulnya belum selesai?
Atau apa mungkin karena kemarahan yang sejatinya belum sepenuhnya tersampaikan?
Yanto menghela nafas lagi, dadanya kini tiba-tiba terasa berat.
"Atau kau sebaiknya carilah orang yang sepadan ilmunya dengan Nyi Parijem, namun mau mengusir hantu Mirna dari sini, bagaimanapun dia sudah bukan lagi manusia, jelas di sini bukan lagi tempatnya. Kau harus tegas Yanto."
Kata Mbak Ukha.
Yanto mendengarkan kata-kata Mbak Ukha dengan baik, ia mencoba memikirkannya karena ada benarnya apa yang diutarakan Mbak Ukha.
"Kita saat ini seperti diteror, bahkan memalukannya, semua warga desa juga jadi ikut diteror, padahal mereka tak salah apa-apa bukan? Ini mencoreng nama keluarga kita Yan."
Ujar Mbak Ukha.
Yanto mengangguk pelan, ia ingat Pak RT menemuinya juga karena masalah ini, masalah penampakan-penampakan yang sepertinya memang cukup mengganggu masyarakat.
Bagi Yanto sebagai pamong, ini memang cukup membuatnya tidak nyaman, pertama kali mendengar Mirna dikata penampakan saja rasanya ia sama sekali tidak terima.
Namun...
Ternyata bukan satu dua orang saja yang akhirnya bercerita telah melihat penampakan Mirna,
Bahkan di rumahnya sendiri, di rumah Ibunya, dan sekarang Mbak Ukha juga mengaku melihat, bahkan tadi, meskipun kelihatannya seperti Lukman, tapi jelas tatapan mata dan cara berbicaranya adalah...
"Daripada terlambat Yan, daripada ternyata nantinya Mirna juga melukai Tita."
Kata Mbak Ukha lagi.
Yanto menatap Mbak Ukha, jelas apa yang dikatakan Mbak Ukha seluruhnya adalah benar.
Ya, Tita...
__ADS_1
Tampaknya Tita juga diganggu, dan Yanto tentu khawatir jika nantinya itu akan mengganggu kejiwaan Tita.
**--------------**