Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
22. Sosok Dari Masa Lalu


__ADS_3

Hari telah pagi, saat Winda akhirnya pamit pulang. Sebelum pulang, ia menyempatkan diri menggorengkan Nuget yang masih ada satu bungkus di kulkas yang masih utuh, dan membuatkan mie goreng untuk sarapan Tita dan Yanto.


"Siang nanti, aku akan ajak orang pinternya ke sini Mas, kamu belum berangkat kerja atau hari ini mau mulai masuk?"


Tanya Winda, mantan pacar yang belakangan memang diam-diam dekat lagi.


Meskipun, memang belum sampai tahap memiliki hubungan khusus, tapi sejak mereka bertemu di kantor desa saat Winda akan membuat surat kematian Kakaknya karena harus mengurus akta tanah di kantor PPAT, mereka memang diam-diam sudah sering berkomunikasi.


Hal ini sempat membuat Yanto ribut dengan Mirna, bahkan satu bulan sebelum melahirkan, Mirna sempat ingin pulang saja ke rumah orangtuanya jika saja Tita tidak menangis meminta Mamanya tetap tinggal.


Tita tidak mau ditinggalkan Mamanya, dan juga tidak mau meninggalkan Bapaknya.


Tentu hal ini selalu dirasakan semua anak-anak, yang merasa bahwa betapapun tidak akurnya kedua orangtua mereka, tetap saja mereka ingin kedua orangtuanya tetap bersama.


Karena hal itu, maka Mirna pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi, dengan akhirnya Yanto menghapus kontak nomor Winda dari ponselnya.


Masalah Mirna yang sempat cemburu dengan Winda hingga sempat ribut besar dengan Yanto, membuat kondisi kesehatan Mirna kurang baik, dalam satu bulan terakhir itulah ia juga tiba-tiba sering sakit.


Ibunya Yanto sendiri sama sekali tak tahu menahu soal apa yang terjadi pada rumah tangga anaknya, meskipun Lukman setiap pagi mampir untuk ikut sarapan, tapi ia layaknya anak remaja laki-laki yang selalu bersikap bodo amat, tentu tak menyadari hubungan kakaknya sedang bermasalah atau tidak.


Winda sendiri sejak dulu pacaran dengan Yanto sebelum akhirnya putus dan masing-masing menikah dengan orang lain, memang hanya bisa dekat dengan Mbak Ukha saja.


Saat dulu Mbak Ukha buka warung kecil-kecilan di rumahnya sendiri, ia memang kerap mengambil barang dagangan dari tempat Winda di pasar, itu sebabnya hubungan mereka pun tetap baik dan dekat hingga sekarang.


Kini, Mirna telah tiada, Winda dan Yanto masing-masing akhirnya telah sendiri lagi, seolah jalan mereka untuk bisa bersama kembali terbuka.


Tapi...


Winda menghela nafas saat melewati ruang depan dan ada foto Mirna masih dipasang di sana.


"Mas, itu nanti fotonya diturunkan saja, kayaknya di sanalah hantu itu tinggal."


Bisik Winda pada Yanto yang mengantarnya menuju keluar rumah.

__ADS_1


Yanto menoleh ke arah fotonya bersama Mirna yang berukuran besar, yang memang masih dipasang di dinding ruang depan rumahnya.


"Ya nanti aku akan turunkan. Jam berapa kamu ke sini dengan orang pintar kenalanmu?"


Tanya Yanto.


"Mungkin habis dzuhur, biar aku masak dulu untuk kalian makan siang. Kamu belum masuk kerja kan berarti hari ini?"


Winda mengulang tanya, tampak Yanto mengangguk,


"Mungkin lusa aku baru akan berangkat, Tita juga harus mulai sekolah senen lusa."


Kata Yanto.


Winda mengangguk setuju.


"Ya dia harus sekolah, kalau tidak sekolah nanti ingat Mamanya terus."


Kata Winda.


"Ya, dia memang harus cepat ada kegiatan. Besok aku juga ingin ajak dia jalan-jalan supaya agak terhibur, kalau hari ini aku harus ke tempat Ibu melihat anakku yang kecil."


Kata Yanto.


"Siang ini juga?"


Tanya Winda.


Yanto menggeleng.


"Sore setelah kamu dan temanmu datang, pagi ini aku mau tidur, semalam aku tak bisa tidur sama sekali, kamu kan tahu."


Ujar Yanto.

__ADS_1


"Ya, tidurlah, aku tidak mau kamu sakit."


Kata Winda lembut.


Yanto, sang duda, yang baru kehilangan isteri, dan memang pada dasarnya memiliki rasa pada Winda sejak dulu, tentu saja hatinya langsung tergetar mendapat perhatian semacam itu.


"Ya sudah Mas, aku pamit dulu, kamu sarapan lalu tidur yah."


"Terimakasih kamu sudah begitu baik dan mau direpotkan."


Kata Yanto.


Winda tersenyum manis.


"Maaf soal dulu, dan maaf Mirna sempat melabrakmu."


Kata Yanto.


Winda mengangguk, lalu akhirnya benar-benar pamit, berjalan menuju motornya dan kemudian pergi meninggalkan pelataran rumah Yanto.


**--------------**


Sesosok bayangan perempuan tampak duduk di atas pohon depan rumah Yanto.


Ia terlihat meneteskan air mata yang bercampur darah, ia begitu menyedihkan, ingin berbuat sesuatu tapi ia telah tak berdaya.


Ditatapnya Yanto yang berdiri diam di teras dengan mata yang terus ke arah jalanan di mana Winda tadi pergi.


Jelas sudah bahwa memang ada rasa yang masih besar Yanto rasakan untuk mantan kekasihnya itu.


Sosok perempuan itu lantas menatap ke arah lain, ia melayang, dan melongok ke layar ponsel pembaca.


"Bantu aku... buuun..."

__ADS_1


**----------**


__ADS_2