Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
35. Mama Juga Rindu


__ADS_3

Setelah berbincang cukup banyak dengan Mbak Ukha, tubuh Yanto seperti tak ada tenaga sama sekali.


Ia berjalan lunglai masuk ke ruang tengah lagi, di mana saat ini hanya tinggal Ibu dan dede bayi Panji saja.


Tita diajak pergi ke rumah Bibik Nur, karena Bibik Nur.


Yanto tampak duduk di kursi meja makan, Ibu yang sudah berpindah di tempat tidur menunggui dede Panji menatap Yanto, lalu menatap Mbak Ukha yang berjalan di belakang Yanto.


Mbak Ukha berjalan ke arah kamarnya yang memang letaknya ada di dekat ruang TV dan makan, ia hendak berganti daster karena harus masak untuk makan malam.


Ibu menghela nafas, entah apa sebetulnya yang terjadi sekarang ini, Ibu bahkan tak menyangka Mirna yang selama ini begitu baik, menjadi menantu pun tak banyak berbuat aneh-aneh, ternyata bisa tidak tenang setelah meninggal.


Entah ada apa sebetulnya.


Ibu selama ini tentu saja tak pernah banyak tahu karena Yanto dan Mirna termasuk pasangan yang terlihat baik-baik saja.


Ada masalah pun sepertinya mereka lebih memilih menyelesaikannya sendiri, tak pernah mengadu-ngadu pada Ibu.


Hingga...


Ooa... Oaaa...


Bayi dede Panji tiba-tiba terbangun dari tidur lelapnya dan menangis, Yanto menoleh ke arah anak laki-lakinya itu, yang kini langsung diraih Ibunya ke dalam pelukan.


Ibu dengan telaten menenangkan cucunya dengan penuh kasih sayang, seolah ia sungguh-sungguh tak ingin anak itu meski kehilangan Ibunya lalu jadi terlantar.


Tapi...


Yanto ingat tujuannya datang ke rumah Ibu, adalah sejatinya ia ingin menyampaikan keinginannya membawa dede Panji.


Hanya saja, melihat Ibunya begitu sayang pada Panji, pastinya akan sangat berat untuk Ibu melepaskan Panji dalam perawatan orang lain.


Yanto menghela nafas, ia pun sebetulnya tidak tahu lagi ia harus bagaimana saat ini.


Mendengarkan semua yang dikatakan Mbak Ukha, dan juga pengalaman bicara dengan Lukman yang sebetulnya belum pulang, membuat otaknya benar-benar buntu.


Dan...


Tak lama berselang, terdengar suara motor Lukman masuk ke halaman rumah, tepat saat Mbak ukha keluar dari kamarnya.


"Itu baru Lukman."


Kata Mbak Ukha,


Yanto terdiam, matanya menatap pintu pembatas ruang tengah dan ruang depan, di mana pastinya lukman tak akan lama lagi muncul di sana.


Tok tok...


Terdengar ketukan di pintu, seiring dengan derap langkah kaki yang semakin mendekat.


Lukman benar muncul dari ruang depan menuju ruang tengah, ia terlihat menggendong ransel hitam, kaosnya basah oleh keringat, jelas ia baru main futsal.


"Kau baru pulang?"


Tanya Yanto.


Lukman mengangguk, ia tampak acuh tak acuh berjalan menuju kulkas pendek yang taj jauh dari rak TV.


Mbak Ukha mendekati Lukman,

__ADS_1


"Tadi Yanto bicara denganmu di halaman depan, katanya itu kamu, padahal belum pulang."


Kata mbak Ukha,


Lukman yang baru mengambil botol air dingin tampak menoleh ke arah Yanto,


"Betul Mas?"


Tanya Lukman memastikan, tampak Yanto menganggukkan kepalanya,


"Aku baru pulang,"


Kata Lukman yang kemudian menutup pintu kulkas, dan membawa botol air dinginnya ke meja makan.


Diambilnya satu gelas kosong dari wadah, lalu dituangkan air dingin itu untuk kemudian langsung diteguknya hingga habis.


"Mungkin kau berhalusinasi Mas, kau pasti kurang tidur."


Kata Lukman kemudian sambil meletakkan gelas kosongnya di atas meja.


Yanto menggeleng,


"Tidak mungkin itu halusinasi, sudah jelas dia bisa bicara dan bersalaman pula, hanya saja kemudian suara dan tatap matanya berubah."


Ujar Yanto kembali merinding.


Lukman tersenyum, ia duduk di kursi meja makan, lalu sibuk melepas sepatunya sambil bicara,


"Kau dibayangi rasa bersalah, sebaiknya kau minta maaf pada Mbak Mirna, supaya semua berakhir."


Kata Lukman, lalu setelah sepatunya lepas semua, ia berdiri lagi dan menenteng sepatu serta ranselnya ke kamarnya.


Yanto menatap Lukman masih dengan ekspresi tak percaya adiknya bicara demikian, pun juga dengan Mbak Ukha.


Mungkinkah sebetulnya ia tahu sesuatu?


**------------**


Dan...


Akhirnya, Yanto pun sampai pamit pulang tak mampu mengatakan apapun pada Ibunya.


Ia tak berani mengatakan keinginannya mengambil Panji dari Ibunya.


Tentu saja, melihat semua yang terjadi, Yanto sudah tahu bahwa Ibu tak akan mengijinkan sama sekali, apalagi Ibu bahkan belum apa-apa meminta Yanto untuk meninggalkan Tita saja di sana.


Ia tak ingin Tita dibawa pergi, ia ingin Tita juga berada bersama Ibu saja, agar nantinya Ibu bisa mengurus Tita pula.


Yanto yang benar-benar pusing memikirkan semuanya akhirnya sempat kehilangan fokus saat pulang dari rumah Ibu.


Yang niatnya ia akan mengajak Tita ke supermarket, iapun jadi hampir saja lupa dengan mengemudikan mobil ke rumahnya sendiri.


"Bapak nyetirnya sambil melamun sih."


Begitu Tita kesal pada Yanto.


Tampak Yanto hanya bisa memaksakan satu senyuman.


"Ya ini kita ke supermarket,"

__ADS_1


Kata Yanto mengarahkan mobilnya melewati rumah.


Tita menengok ke arah rumah, ia seperti melihat seseorang berdiri di bawah pohon depan rumahnya.


Sosok itu membelakangi jalan, menatap bangunan rumah.


Sosok perempuan berambut panjang dengan gaun putih menjuntai ke tanah.


Siapa dia?


Batin Tita yang tak bisa melihat wajah sosok perempuan itu.


Tita yang penasaran sampai melongok dari kaca jendela mobil yang ia buka.


"Ada apa Ta?"


Tanya Yanto.


Tita lantas menoleh ke arah Bapaknya, ia duduk di kursi mobil lagi.


"Ada orang di depan rumah, rambutnya panjang, pakai gaun putih. Siapa ya Pak?"


Tanya Tita.


Mendengar itu sontak saja tangan Yanto gemetaran, ia langsung mengerem mobilnya secara mendadak.


Untunglah, ia masih di jalanan kampung yang sepi, jika di jalan raya, sudah jelas langsung menyebabkan kecelakaan.


Yanto wajahnya pucat pasi, menatap Tita dalam ketakutan,


"Tita jangan suka bercanda macam itu, Tita mau Bapak jantungan!"


Kata Yanto,


Tita mengerutkan kening.


"Tita benar melihat, Tita bukan bercanda, Tita juga tidak mau Bapak jantungan."


Kata Tita jadi malah takut melihat Yanto marah.


"Mana mungkin Tita ingin Bapak jantungan, tidak ada Mama saja Tita sedih."


Kata Tita dengan mata berkaca-kaca.


Yanto yang melihat Tita malah jadi mau menangis akhirnya semakin pusing.


Ia pun menelungkupkan wajahnya di atas setir dan tangannya.


Tita menatap Bapaknya dengan bingung, entah apa salahnya, di mana salahnya? Tita tidak mengerti.


Sementara itu, di kursi belakang mereka di dalam mobil, sosok perempuan yang Tita lihat telah ada di sana.


Duduk menatap Tita dengan sedih.


Ia ingin sekali bisa memeluk anak itu dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Jangan khawatir. Mama juga sama merindukan Tita.


Sangat merindukan Tita...


Angin berhembus dari luar masuk ke dalam mobil dari kaca jendela mobil di sebelah Tita duduk.

__ADS_1


Semilir angin itu lantas membuat aroma bunga pemakaman tercium jelas di dalam mobil.


**------------**


__ADS_2