
"Pak Yantooo... Pak Yantooo..."
Terdengar suara orang memanggil dari luar, Yanto yang pagi ini berencana akan pergi ke rumah Ibunya setelah kemarin sore batal, terlihat tergopoh-gopoh menuju pintu rumah untuk membukanya.
Di depan pintu tampak Pak RT berdiri ketika pintu dibuka Yanto.
"Oh Pak RT, ada apa Pak?"
Tanya Yanto.
"Maaf Pak, apa ada waktu sebentar?"
Tanya Pak RT.
Yanto melihat ke arah jam dinding sejenak di dalam ruangan depan rumahnya, bersamaan dengan itu Tita muncul dari ruang dalam telah berpakaian rapi karena memang ia akan ikut ke rumah Nenek sekaligus pulangnya sesuai rencana Yanto ingin mengajak Tita jalan-jalan agar tak terus menerus ingat Mamanya.
Tita memang sejak kemarin ngambek dan nangis terus menerus karena Yanto tetap membuang foto-foto Mirna yang biasa dipajang di dinding.
Buat Tita, tentu rasanya semakin sedih karena melihat Mama di foto saja sekarang tidak bisa.
"Ta, nanti sebentar ya, Bapak mau bicara dengan Pak RT dulu."
Kata Yanto pada anaknya.
Tita sejenak melihat Pak RT, lalu akhirnya mengangguk malas dan kembali masuk ke ruang dalam.
Yanto mempersilahkan Pak RT masuk, dan duduk di set kursi ruang depan rumah.
"Maaf Pak, agak berantakan, maklum tidak ada yang ngurus rumah."
__ADS_1
Ujar Yanto.
Pak RT menganggukkan kepala,
"Ya Pak Yanto, justeru ini saya datang salah satunya mau membicarakan soal itu, tapi perkenankan saya untuk meminta maaf soal kejadian tempo hari di mana semuanya jadi sempat kacau gara-gara kabar penampakan Bu Mirna yang padahal tidak bisa dibuktikan kebenarannya."
Kata Pak RT.
Yanto tersenyum sekilas, agak masam karena tentu saja ia masih ingat betul bagaimana Pak RT juga ikut ngotot soal penampakan Mirna.
Tapi...
Yanto sekarang tak bisa semarah hari itu, karena bagaimanapun Yanto juga merasakan bahwa sepertinya memang ada hantu yang tengah berusaha meyakinkan diri Yanto jika itu adalah hantu Mirna.
"Ya Pak RT, saya juga minta maaf, karena haru itu saya juga mungkin terlalu emosi hingga tidak bisa duduk dan bicara secara baik-baik dengan warga."
Kata Yanto.
"Saya memahami posisi panjenengan Pak Yanto, bagaimanapun pastinya memang sangat berat ditinggalkan isteri sementara masih ada anak yang membutuhkan sosoknya."
Kata Pak RT.
Yanto mengangguk membenarkan,
Ya...
Memang salah satu yang paling membuat Yanto sangat kehilangan Mirna adalah karena anak-anak mereka yang masih sangat kecil.
Ada juga beberapa hal lain yang sulit bagi Yanto rasanya untuk menjelaskannya.
__ADS_1
"Saya mewakili seluruh warga minta maaf nggih Pak Yanto."
Kata Pak RT lagi, tampak Yanto kemudian mengangguk mengiyakan.
"Dan untuk hal kedua yang ingin saya sampaikan adalah, kabarnya setiap RT ini diminta untuk membuat tim mencari kebenaran, bahwa wilayah kita bersih dari santet dan semacamnya, atau nanti yang terbukti terlibat akan langsung dikenakan sangksi."
Kata Pak RT menjelaskan,
Yanto mengerutkan keningnya.
"Memastikan wilayah kita bersih dari santet dan pelet? Apa ada yang merasakan keanehan?"
Tanya Yanto,
"Pak Yanto belum dengar ya, barusan di RT sebelah ada kabar bahwa pak penjual kerupuk meninggal kecelakaan sehabis isya, tapi semalam tepatnya setelah larut malam, ada bapak-bapak yang cerita bahwa mereka melihat Pak penjual kerupuk itu pulang, bahkan baru turun dari angkutan."
"Maksudnya, penampakan hantu lagi?"
Tanya Yanto.
"Ya Pak,"
Yanto terperangah tak percaya, jika sekarang harus ada hantu lagi.
Ada apa ini?.
Batin Yanto.
Lalu...
__ADS_1
**-------------**