Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
36. Tita Sayang


__ADS_3

Tita menoleh ke belakangnya, ia merasakan seperti ada yang duduk do sana, ada yang memperhatikannya di sana, tapi entah kenapa di matanya kursi mobil itu kosong tak ada siapapun.


Yanto yang sebetulnya merasakan tengkuknya merinding, begitu menghirup aroma bunga pemakaman, tampak ikut menoleh ke arah kursi belakang.


Sejenak Yanto dan Tita saling berpandangan, Ayah dan anak itu sama merasakan ada sesuatu di dalam mobil mereka saat ini, hanya saja mereka tak mau saling mengucap karena sama-sama dilanda rasa takut.


"Ki... Kita jalan lagi saja ya Ta."


Kata Yanto ingin cepat melarikan diri dari sana, ia khawatir sebetulnya bukan di dalam mobilnya yang bermasalah, melainkan tempat di sekitar mereka kini berhenti yang merupakan tempat penggilingan padi yang di hari seperti sekarang telah sepi orang, dan memang juga terkenal angker.


Tita mengangguk, meskipun gadis kecil itu lantas kembali menyempatkan diri menoleh ke belakang lagi.


Mobil mulai berjalan pelahan menuju jalan raya utama, tujuan Yanto membawa mobilnya adalah jelas menuju supermarket di mana ia bukan hanya akan mengajak Tita belanja, namun juga makan malam di sana.


Ya, Yanto tahu, jika Tita sejak Mamanya meninggal pasti sudah lelah sekali menangis terus, apalagi saat akhirnya semua foto Mamanya di rumah dibuang, ia pun seperti makin terpukul.


"Tita mau beli baju dan makan di rumah makan yang biasa kita makan sama Mama ya Pak."


Kata Tita.


Yanto mengangguk menyanggupi,


Tita tersenyum senang, benar-benar senang.


Melihat Tita tersenyum sesenang itu, membuat Yanto rasanya jadi ingin menangis, rasa bersalahnya pada keluarga kecilnya kini kembali mengusik.


Tita menatap keluar kaca jendela mobil, memperhatikan semua yang mereka lewati sambil bersenandung kecil lagu-lagu anak jaman dulu yang sering diputar Mirna ketika masih hidup.


Hal ini tentu saja membuat sesosok makhluk di belakang Tita dan Yanto kini menangis, air matanya yang merah meleleh membasahi pipinya yang pucat pasi.


Ternyata rasanya sangat mengharukan ketika apa yang kita ajarkan pada anak benar-benar ia lakukan dengan baik.


Mirna, sosok perempuan itu terus menatap Tita dengan perasaan campur aduk.


"Pak..."


Tiba-tiba Tita memanggil Ayahnya.


"Ya Ta, ada apa?'


Tanya Yanto.


"Bapak, aku benci Bik Winda, jangan boleh ke rumah lagi, Tita tidak suka."


Kata Tita,


Yanto yang mendengar tentu saja kaget Tita bicara demikian jelas, seolah benar-benar tidak perduli bilamana Yanto nanti marah.


"Kenapa Tita benci Bik Winda, dia kan baik sudah membuatkan Tita banyak makanan."

__ADS_1


Kata Yanto pada Tita,


Tita tampak mengayun-ayunkan kedua kakinya, kedua matanya terfokus pada barisan pertokoan dan juga beberapa warung kecil yang mereka lewati.


"Bik Winda jahat pada Mama, berarti pada Tita juga."


Kata Tita.


Yanto tak berani menyanggah apa yang dikatakan putrinya, karena toh kenyataannya memang begitu, walaupun bagi Yanto, itu adalah atas perintah orang pintar yang temannya Winda, bukan keinginan Winda sendiri.


Tapi...


Anak seusia Tita tentu tidak peduli siapa yang menyuruh, Tita hanya tahu bahwa orang yang membawa foto Mamanya keluar dari rumah adalah teman Winda yang itu berarti mereka sama saja.


Yanto yang memutuskan untuk diam saja tak menanggapi apa yang dikatakan Tita akhirnya membuat Tita kembali sibuk bersenandung lagi.


Kali ini ia menyanyikan lagu soundtrack salah satu kartun favoritnya.


Sampai di perempatan lampu merah, mobil mereka berhenti, seorang penjual koran mengetuk kaca setiap mobil, termasuk mobil Yanto.


Yanto membuka kaca jendela mobilnya, si penjual koran mengulurkan satu koran di tangannya, yang kemudian Yanto ambil saja.


Saat Yanto sedang mengeluarkan uang dari dompet, si penjual koran tak sengaja melihat ke arah kursi di belakang Yanto dan ia tampak terkejut,


"Astaga."


Kata si penjual koran,


"Kembaliannya ambil saja Pak."


Kata Yanto yang kemudian melihat lampu hijau menyala dan kendaraan-kendaraan di depannya kini mulai bergerak lagi.


"Oh... Ma... kasih Pak, Bu."


Kata Si penjual koran pada Yanto dan juga pada sosok yang duduk di belakang Yanto.


Sosok itu tersenyum, tapi senyumnya membuat di penjual koran bergidik,


Yanto yang merasa heran melihat gerak-gerik si penjual koran yang terus melihat ke arah belakang Yanto akhirnya jadi menoleh ke arah belakangnya pula.


Ada apa sebetulnya?


Kenapa tukang koran itu menyebut Bu?


Yanto merinding.


Sementara, di belakang sana, si penjual koran terlihat menunjuk-nunjuk mobil Yanto yang sudah menjauh, ia bicara pada beberapa orang yang mencoba mencari peruntungan di lampu merah.


"Mobil itu sedang membuat konten kuntilanak, benar-benar mirip pemain kuntilanaknya."

__ADS_1


Kata si penjual koran.


Bzzzt bzzzt bzzzt...


**------------**


"Man... Maaan..."


Ibu memanggil Lukman, posisi Ibu yang ada di tempat tidur depan TV membuat suaranya bisa jelas terdengar dari arah kamar Lukman.


Tampak Lukman keluar dari kamar,


"Ada apa Bu?"


Tanya Lukman sambil mendekati Ibunya.


"Itu tadi air dari Nyi Parijem yang disuruh di siramkan ke setiap sudut rumah apa sudah dilakukan?"


Tanya Ibu,


Lukman mengangguk,


"Sudah Bu, tadi langsung aku siramkan, tapi tidak semuanya, sapa tahu butuh buat hal lain."


Kata Lukman sambil duduk di kursi rotan dekat tempat tidur.


Tangannya yang tak pernah lepas dari hp kini terlihat meneruskan aktivitasnya bermain games di hp.


"Hal lain apa maksudnya?"


Tanya Ibu jadi penasaran.


"Ya buat diminumkan ke Mas Yanto, biar pengaruh dukun nya ilang."


Sahut Lukman sambil tetap bermain games.


Ibu mengerutkan kening, cukup lama ia melihat Lukman yang tetap santai main games setelah bicara aneh-aneh saja tentang kakak laki-lakinya.


Dan karena Lukman tidak menjelaskan apa-apa lagi, Ibu jadi kesal dan memukul Lukman dengan bantal.


"Duh Bu, kenapa aku dipukul?"


Protes Lukman,


Ibu tertawa mendengar Lukman protes,


Ya bagaimana lagi, ia memang benar-benar kesal dengan Lukman yang belakangan suka sekali bicara aneh-aneh, terutama soal kakaknya dan kakak iparnya.


Meskipun...

__ADS_1


Memang sulit untuk mengatakan Lukman bicara asal saja, karena Ibu tahu betul karakter Lukman yang sangat kaku itu membuatnya tidak mungkin jika bicara tanpa dasar.


**---------------**


__ADS_2