Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
53. Mirna Yang Asing


__ADS_3

Yanto di kamar menatap cincin yang tadi ditemukan di pelataran rumah. Matanya meremang,


Kenapa cincin itu tiba-tiba kembali?


Batin Yanto heran.


Teringat ia dulu marah besar karena cincin itu dengan Mirna, ia membelikan cincin itu dari gaji penuh ia bekerja menjadi penjaga warnet dua bulan.


Rasanya nyesek bukan main, ketika Mirna beralasan tiba-tiba cincinnya hilang dan dengan mudahnya ia cukup minta maaf.


Yanto sempat merasa sangat tidak dihargai, sempat merasa bahwa Mirna meremehkan pemberiannya yang mungkin terkesan hanya cincin tak lebih dari dua gram saja.


Tapi...


Kenapa tiba-tiba sekarang cincin itu muncul lagi?


Mirna kah yang membawanya?


Untuk apa dia membawanya lagi?


Kenapa?


Kenapa baru sekarang?


Ada apa?


Yanto tentu saja jadi bertanya-tanya.


**-------------**


Flashback,


Yanto berlari-lari kecil pulang ke tempat kos, hujan baru turun, tak begitu deras, tapi karena Yanto tak memakai payung maupun topi, maka Yanto memilih berlari agar tak sampai basah kuyup.


"Mas."


Mirna berdiri menyambut Yanto,


Tampak Yanto sedikit kaget, karena Mirna tak biasanya memanggilnya dengan sebutan Mas.


Biasanya, Mirna memanggilnya nama saja, atau kadang juga sayang.


Tapi...


"Maaf aku tidak sempat memberitahu akan datang, aku kehilangan hp."


Kata Mirna.


Yanto menatap Mirna,


Ada yang terasa berbeda, tapi entah di mananya.


Suara, wajah, postur tubuh, semuanya sama, bahkan potongan rambut pun sama.


"Hp nya hilang di mana?"


Tanya Yanto.


Mirna menggeleng pelan,


"Tidak tahu Mas, mungkin di angkot, atau mungkin juga di pasar."


Kata Mirna.


Yanto menghela nafas,


"Ya sudah, kalau begitu nanti aku carikan gantinya."


Kata Yanto,


Hujan kemudian turun deras, Yanto mengajak Mirna masuk tempat kos nya.


Tampak Mirna masuk mengikuti Yanto, lalu melihat tumpukan baju kotor Yanto yang berserakan di mana-mana.

__ADS_1


Mirna lantas meraih satu demi satu baju dan celana Yanto yang kotor.


Disatukannya baju dan celana kotor itu di satu tempat seperti keranjang, Yanto lagi-lagi memperhatikan tingkah laku Mirna yang menurutnya tak seperti biasanya.


"Kamu sedang apa?"


Tanya Yanto.


Mirna menatap Yanto,


"Bebenah, kenapa?"


Tanya Mirna malah jadi bingung karena ditanya sedang apa.


"Bebenah? Sejak kapan kamu suka bebenah? Biasanya kamu kalau ke sini cuma duduk dan minta dibelikan makan karena belum makan."


Ujar Yanto,


Mirna sekilas tampak gugup, dan itu membuat Yanto merasa Mirna jadi makin tak seperti Mirna yang ia kenal.


Yanto mendekati Mirna, lalu ia melihat tangan Mirna,


"Cincin, ke mana cincin kamu?"


Tanya Yanto.


Mirna yang ditanya soal cincin makin kebingungan.


"Cin... Cincin apa Mas?"


Tanya Mirna.


"Cincin, yang seminggu lalu aku belikan, ke mana cincin itu?"


Tanya Yanto seraya meraih tangan Mirna dan memperhatikan setiap jari jemari tangan Mirna.


Tak ada cincin di sana, semuanya polos.


Yanto menghela nafas,


Tanya Yanto dengan wajah tegang, ia langsung bersiap marah pada Mirna,


"Kamu tahu tidak? Cincin itu aku beli dengan uang gajianku dua bulan, aku membelikan itu karena aku ingin kamu berhenti membahas soal siapa perempuan yang datang."


Kata Yanto pula,


"Ap... Apa maksud Mas? Perempuan apa?"


Mirna malah seperti orang yang hilang ingatan, lalu...


"Mirna! Kamu ini kenapa? Hari ini kamu aneh sekali! Kenapa kamu tidak seperti biasanya!!"


Yanto malah jadi kesal sendiri, karena biasanya Mirna jika ia marah akan balik marah, tapi hari ini, ia malah pasrah dan hanya tanya kenapa.


Hal itu malah jadi tambah membuat Yanto pusing.


"Mas... Sabar Mas, jangan marah dulu, Mas kenapa sebetulnya?"


Tanya Mirna.


Yanto yang tak tahu harus bagaimana akhirnya hanya bisa terduduk di lantai dan memukul kepalanya sendiri.


Mirna ikut terduduk di depan Yanto, dengan lembut ia meraih tangan Yanto agar berhenti memukul dirinya sendiri.


"Mas, maaf jika aku berbuat kesalahan, aku bukan sengaja menghilangkan hp dan cincin pemberianmu, sungguh... aku minta maaf Mas."


Kata Mirna sambil berurai air mata,


Yanto menghela nafasnya, di tatapnya wajah Mirna yang basah berurai air mata.


Gadis itu, hidup sendirian di kota ini katanya, bertahan hidup dalam semua keterbatasan katanya,


Yanto yang sejak awal memang merasa iba dengan Mirna, kini ia pun rasanya semakin iba saja padanya.

__ADS_1


Apalagi melihat sikapnya hari ini yang jauh lebih lembut dari sebelumnya, membuat Yanto merasa bahwa Mirna mungkin memang karena merasa bersalah akhirnya ia ingin terlihat baik dengan perubahannya di depan Yanto.


"Mas sudah makan?"


Tiba-tiba Mirna bertanya.


Yanto menggeleng,


"Aku belum sempat beli makanan tadi, kamu mau makan nasi bebek madura seperti biasa?"


Tanya Yanto.


Mirna menggeleng,


"Lalu mau apa? Nasi padang? Pecel lele? Nasi goreng? Sate?"


Tanya Yanto lagi.


Dan Mirna kembali menggeleng,


"Mas ada mie dan telur?"


Tanya Mirna,


Yanto mengerutkan kening,


"Di luar hujan, aku akan masak saja."


Ujar Mirna.


"Hah? Ma... Masak?"


Yanto ternganga tak percaya, bagaimana bisa tiba-tiba Mirna memasak?


Mirna berdiri dari posisinya, berjalan ke sudut ruangan di mana di sana ada rak kecil yang seperti meja.


Yanto meletakkan beberapa bahan makanan di sana.


Ada telur, ada mie instan, teh celup, kopi instan, susu sachet, bahkan sampai beras juga ada.


Yanto memang sesekali memasak jika butuh sekali untuk berhemat.


"Aku masak nasi saja ya, lalu ceplok telor dan buat mie goreng."


Kata Mirna.


Yanto tak bisa berkata apa-apa lagi, bingung karena melihat sosok Mirna yang kini sama sekali berbeda.


Lalu Mirna yang seperti tak ingin ambil pusing dengan tatapan Yanto itupun tampak langsung sibuk di dapur tempat kos Yanto.


Ya...


Tempat kos Yanto yang hanya tiga petak ruangan itu, memang terdiri dari satu ruangan depan yang digunakan Yanto untuk hampir semua aktifitas, sedangkan dua ruangan lainnya adalah dapur dan kamar mandi.


Dapur super kecil, yang hanya cukup untuk kompor satu tungku, dan juga tempat cuci piring saja.


Yanto kemudian duduk selonjor, menatap Mirna di ruang belakang yang mondar-mandir sibuk akan memasak nasi dan lauk untuk makan.


Dia seperti bukan Mirna yang Yanto kenal dan pacari.


Mirna yang kali ini sungguh terlihat begitu manis,


Mirna yang kali ini jauh dari kesan manja dan juga cara bicaranya jauh lebih lembut.


Maka...


Bingunglah Yanto sebetulnya.


Tapi, bagaimana mungkin Yanto akan menanyakannya pada Mirna?


Bukankah bisa saja memang Mirna sengaja berubah menjadi penurut karena ia membuat kesalahan dengan menghilangkan pemberian Yanto.


Ya pastinya ia sangat takut Yanto benar-benar marah, itu sebabnya ia berusaha keras menjadi sosok yang jauh lebih baik sekarang.

__ADS_1


Flashback berakhir.


**--------------**


__ADS_2