
Rumah Nyi Parijem letaknya tak jauh dari area pemakaman, di sebuah rumah papan kayu yang sedikit terpisah dari rumah penduduk lain.
Nyi Parijem tinggal dengan satu cucunya, yang kemudian membantunya jika ada orang datang minta tolong mengusir hantu atau misal anak-anak kecil yang di ganggu.
Nyi Parijem usianya sudah hampir delapan puluh tahun, ia berjalan sudah menggunakan tongkat dan tubuhnya sudah agak membungkuk.
Mbak Ukha yang membonceng Lukman setelah adiknya itu pulang sekolah tampak celingak-celinguk turun dari motor manakala mereka telah sampai di dekat rumah Nyi Parijem.
Mbak Ukha menyapukan pandangan matanya ke sekitar rumah Nyi Parijem yang meski sepi tapi entah kenapa rasanya seperti banyak mata yang mengawasi.
Sungguh tak membuat tenang dan membuat bulu kuduk merinding saat melihat pohon beringin besar yang tumbuh rindang di belakang rumah Nyi Parijem.
"Sepi Man, jangan-jangan orangnya tidak ada."
Kata Mbak Ukha yang jadi khawatir Nyi Parijem sebetulnya sedang tak berada di rumah.
Tapi...
Saat Mbak Ukha ingin mengajak Lukman pulang, tiba-tiba pintu rumah papan kayu milik Nyi Parijem terbuka, seorang gadis keluar dari sana dan begitu melihat Mbak Ukha serta Lukman ada di depan pagar rumah, tampak gadis itupun tersenyum ramah.
"Mungkin itu cucunya Mbak,"
Kata Lukman,
Mbak Ukha pun mengangguk, lalu cepat melangkah memasuki halaman rumah Nyi Parijem.
Melewati pintu pagar bambu rumah tersebut yang bukan hanya sudah lapuk, tapi juga ada sebagiannya yang bahkan telah roboh.
"Mbak."
Panggil Mbak Ukha pada si gadis.
Tampak gadis itu mengangguk sambil menyambut kedatangan Mbak Ukha.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?"
Tanya si gadis.
"Nyi Parijem, apakah sedang ada di rumah?"
Tanya Mbak Ukha.
"Oh, si mbah, ada Bu, ada di belakang rumah, monggo kalau ada perlu."
Kata gadis itu mempersilahkan Mbak Ukha masuk ke dalam rumah.
Mbak Ukha menoleh sejenak pada Lukman sang adik agar juga ikut masuk, tapi dasar Lukman, dia tidak mau dan meminta menunggu di luar saja.
Malas berdebat, akhirnya Mbak Ukha pun mengalah meskipun hatinya sedikit dongkol jadinya.
Mbak Ukha pun mengikuti gadis yang merupakan cucu dari Nyi Parijem masuk ke dalam rumah papan model rumah jawa tempo dulu.
Meski lantainya sudah dipasang tegel, dan lumayan bersih serta rapih.
Lukman sendiri hanya membawa motornya masuk ke halaman, lalu ia memilih duduk di balai kayu yang ada di depan rumah papan milik Nyi Parijem.
Remaja laki-laki itu duduk di sana untuk main hp saja, sambil menunggu Mbak Ukha menyelesaikan urusannya dengan Nyi Parijem.
__ADS_1
"Mbah baru saja makan, biasanya memang jika jam segini duduk beliau kalau tidak duduk di balai depan, dia akan duduk di halaman belakang sambil mengunyah sirih."
Kata si gadis.
Mbak Ukha mengangguk mengerti.
Mereka berjalan melewati dapur yang masih memakai tungku, tumpukan kayu dan ranting serta bilah bambu ada di sekitar dapur.
Mbak Ukha melewati dapur dan keluar dari pintu kayu yang juga sudah lapuk lagi reyot.
"Mbaah... Mbah."
Panggil si gadis sambil membuka pintu dapur yang reyot itu.
Halaman belakang rumah yang cukup luas itu ada sumur dan juga kolam ikan yang airnya penuh lumut.
Seorang Nini sepuh duduk di bangku panjang dari bambu yang tak jauh dari kolam, dekatnya ada jemuran dari bambu juga di mana di sana ada beberapa baju yang digantung tampak berkibar-kibar.
Nini sepuh yang tak lain adalah Nyi Parijem menoleh ke arah datangnya sang cucu yang diikuti Mbak Ukha.
Tapi...
Nini Parijem selain melihat ke arah sang cucu dan Mbak Ukha, ia juga melihat ke arah belakang Mbak Ukha, lalu...
"Kau mau apa ikut ke sini?"
Suara Nyi Parijem cukup keras, membuat Mbak Ukha kaget karena dikiranya itu pertanyaan untuk dirinya,
"Sepertinya ada yang ikut dengan panjenengan ke sini Bu."
Mbak Ukha terkesiap memandang si gadis di dekatnya lalu ke arah Nyi Parijem dan akhirnya juga ia pun celingak-celinguk ke belakang.
Tak ada siapapun di sana di mata Mbak Ukha, tapi jelas-jelas mata Nyi Parijem menyorot tajam ke arah belakang Mbak Ukha dan juga si gadis.
Mbak Ukha bergidik, membayangkan ternyata hantu adik iparnya selama ini jangan-jangan yang mengikuti dirinya.
Lalu...
Tampak Nyi Parijem kemudian meraih tongkat di sebelahnya, sang cucu cepat tanggap berlari ke arah si mbahnya dan langsung menuntun.
"Di dalam saja Bu, biar kunti ini di luar."
Kata Nyi Parijem.
Ah...
Apa tadi? Kunti?
Aduuuh...
Mbak Ukha belum apa-apa langsung merinding dan cepat segera menyusul Nyi Parijem dan gadis cucunya yang masuk ke dalam rumah.
"Dia baru mati?"
Suara Nyi Parijem terdengar lagi, karena posisi Nyi Parijem di depan Mbak Ukha berjalan, maka Mbak Ukha tak bisa menjawab hanya dengan anggukan kepala.
"Iya Nyi,"
__ADS_1
Ah iya saja, karena mungkin memang benar kuntilanak itu mawujud sosok isteri Yanto, atau bahkan memang dia benar-benar yang jadi kuntilanak.
Nyi Parijem lantas menyuruh Mbak Ukha duduk di ruang depan sebentar untuk menunggu, sementara Nyi Parijem sendiri meminta cucunya menyiapkan guntingan kain kafan dan juga sepidol merah untuk nanti di bawanya masuk ke dalam kamar.
Gadis cucu Nyi Parijem lantas menurut menyiapkan apa yang diminta si Mbahnya, karena ia sudah cukup lama ikut si mbah dan sudah terbiasa membantu, maka gerakannya cukup cepat dan sigap.
Kain kafan dan sepidol merah yang diminta si mbah lantas diberikan pada si mbahnya, yang kemudian dibawa oleh Nyi Parijem ke dalam kamar depan yang berhadapan dengan ruangan depan di mana Mbak Ukha duduk lesehan di atas tikar.
Nyi Parijem hanya sebentar masuk kamar, sekitar satu sampai dua menit saja lalu keluar, setelah itu menyusul duduk di ruang depan di atas kursi kayu, karena ia telah terlalu tua untuk duduk lesehan.
"Tunggu saja, nanti Ki Wulung sedang menuliskan jimat."
Kata Nyi Parijem.
Ki Wulung?
Siapa?
Suaminya?
Batin Mbak Ukha.
"Dia mati belum tenang, ada yang membuatnya ingin tetap di sekitar kalian. Meski ia tak berniat jahat, tapi keberadaannya akan menyusahkan manusia yang masih hidup."
Kata Nyi Parijem.
Mbak Ukha mantuk-mantuk setuju.
"Ya, sangat menakutkan jika setiap hari semua melihat penampakannya."
Lirih Mbak Ukha macam keluhan.
Nyi Parijem terkekeh.
"Kau ingin melihat dan bicara dengannya?"
Tanya Nyi Parijem,
Mbak Ukha jelas langsung menggeleng cepat,
"Tidak Nyi, terimakasih... Tidak usah, saya hanya ingin dia enyah."
Kata Mbak Ukha takut setengah mati.
"Orang yang sudah mati, harusnya tetap di alamnya sendiri, tidak usah ikut kembali hidup bersama kami yang belum mati."
Lirih Mbak Ukha.
Nyi Parijem terkekeh lagi, lalu...
Tiba-tiba Nyi Parijem menoleh menatap ke arah kamar, ia seperti ada yang memanggil, padahal Mbak Ukha tak mendengar apapun.
"Sebentar, aku dipanggil Ki Wulung."
Kata Nyi Parijem,
**------------**
__ADS_1