Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
70. Ketulusan Mbak Ukha


__ADS_3

Mirna tampak menangis pilu juga, ia tak mampu mengatakan apapun, air matanya yang bercampur darah membasahi wajahnya yang pucat.


Andai ia bisa hidup lagi.


Begitulah tentu apa yang dipikirkan Mirna.


Tapi...


Semua sudah terjadi, tak ada yang bisa mengembalikan waktu ke masa lalu, kini satu-satunya yang bisa Mirna harapkan hanyalah ia bisa dikuburkan dengan layak sebagaimana orang lain.


Setidaknya seperti saudaranya, yang dikuburkan dengan diiringi keluarga Yanto dan kemudian kuburnya terdapat batu nisan yang terukir namanya.


Kubur yang kelak akan bisa dikunjungi orang-orang yang mengenalnya, orang-orang yang menyayanginya.


Nyi Parijem tampak menghela nafas,


"Tunjukkan pada kami, di mana letaknya kau dikuburkan setelah aborsi."


Kata Nyi Parijem.


Mirna tampak mengangguk,


Tampaknya ia sudah lega karena Yanto akhirnya tahu jika yang selama ini dinikahinya adalah bukan Mirna yang asli.


Mirna juga sudah lega, karena akhirnya Yanto tahu bahwa Mirna pernah mengandung anaknya.


Dan...


Mirna juga sudah lega, karena akhirnya jenazahnya akan segera dikuburkan dengan layak.


Ya...


Sekian tahun, Marni yang telah menikmati kehidupannya seperti manusia normal akhirnya melupakan Mirna.


Membiarkan Mirna terkubur di tengah kebun pisang belakang rumah dukun aborsi yang sepi.

__ADS_1


Ditinggalkan di sana begitu saja seperti mereka menguburkan kucing.


Tak ada kain kafan, tak ada pembacaan doa, tak ada taburan bunga, tak ada isak tangis kehilangan.


Yanto tampak berdiri, ia mengikuti langkah Nyi Parijem yang mengajak semuanya keluar.


"Apa malam ini juga kita harus menggali jenazahnya Nyi?"


Tanya Lukman.


Nyi Parijem menganggukkan kepalanya,


"Apa lokasinya Nyi Parijem sudah tahu?"


Kali ini Munir yang bertanya,


Nyi Parijem lantas menoleh ke arah Munir,


"Saat ini, ada dua hantu yang ada di hadapanku, mereka yang menunjukkan tempatnya."


Tampak Lukman dan Munir akhirnya mengangguk mengerti, tentu mereka tak mau tanya-tanya lagi takut Nyi Parijem marah.


"Sepertinya kita harus pakai mobil bukan? Biar aku minta tolong Rahmat saja,"


Ujar Munir.


Lukman mengangguk setuju,


"Ya, biar Nyi Parijem dan cucunya serta Mas Yanto naik mobil, saya dan Mas Munir pakai motor saja Mas."


Kata Lukman.


"Ya, kau benar Man."


Kata Munir.

__ADS_1


Lukman lantas memandang Mbak Ukha yang tampak bertahan berdiri di dekat pintu kamar seolah tak berencana mengikuti Nyi Parijem keluar dari rumah.


"Mbak Ukha mau aku antar pulang?"


Tanya Lukman, yang ia rasa Mbak Ukha memang tak ada rencana untuk ikut serta dengan penggalian kuburan Mirna.


Tampak Mbak Ukha mengangguk,


"Ya, antar aku pulang dulu saja Man."


Ujar Mbak Ukha,


"Ayuk Mbak, pasti nanti sampai malam hari, lebih baik memang Mbak Ukha di rumah saja menemani Ibu dan Tita menjaga dede Panji."


Ujar Lukman.


"Ya, rasanya itu jauh lebih baik, termasuk nanti aku ingin bilang ke Ibu agar bisa membuat acara doa untuk Mirna juga, kasihan dia."


Kata Mbak Ukha membuat Lukman tersenyum mendengarnya,


Tentu saja, ia sama sekali tidak menyangka, jika Mbak Ukha akan seperhatian itu pada mendiang Mirna.


"Nanti, kuburkan saja Mirna dekat makam Marni, agar nanti anak-anak Marni juga bisa mengunjunginya serta mendoakannya."


Ujar Mbak Ukha pula, yang rasanya ikut iba.


Hilang sudah kebencian pada dirinya pada Mirna yang semula ia anggap perempuan tidak jelas.


Menikah pun banyak alasan tak bisa menghadirkan keluarga.


Tapi...


Kini...


Semua itu berganti dengan rasa iba dengan nasib kedua perempuan yang pada akhirnya telah mengisi kehidupan Yanto.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2