Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
37. Protektif


__ADS_3

Tita tampak berjalan memutari bagian baju anak-anak, ia memilih beberapa yang ada di gantungan ditemani seorang pelayan cantik yang ramah dan sabar.


Yanto sendiri hanya mengikuti ke mana anaknya ingin bergerak, otaknya sedang memikirkan hal lain.


Tita sekali lagi berjalan ke bagian lain dari baju-baju yang dipajang di sana, bersamaan dengan itu, Yanto ada panggilan masuk di hp nya.


"Bapak angkat telfon dulu ya."


Kata Yanto pada Tita, saat dilihatnya di layar hp ada nama Winda.


Tita menatap Yanto sekilas saja, lalu mengangguk, dan kembali melihat-lihat baju yang ingin ia beli.


"Mbak, titip anak saya sebentar, jangan boleh ke mana-mana."


Pesan Yanto pada si pelayan, yang tentu saja langsung dijawab sebuah anggukan.


Yanto kemudian berjalan sedikit menjauh sembari mengangkat panggilan Winda,


Tita tanpa sengaja melihat ke arah Yanto, Bapaknya, yang kini berjalan menjauhi tempatnya memilih baju ditemani seorang pelayan, Tita merasa sedih, karena Bapaknya tidak seperti Mama, yang akan ikut sibuk memilihkan baju yang bagus untuk Tita.


Namun...


Tiba-tiba, di antara banyak orang dan juga gantungan-gantungan baju, Tita seperti melihat Mamanya bergerak mengikuti Bapak.


"Mama... Itu Mama..."


Kata Tita yang akan lari mengejar, namun pelayan cepat meraih lengannya.


"Lepas Tante."


Kata Tita,


Pelayan itu menggeleng,


"Nanti kalau ada apa-apa, saya kena marah dan bisa dipecat Nona, saya mohon, tetaplah di sini,"


Kata si pelayan.


"Tapi itu ada Mama..."


Ujar Tita sambil menunjuk ke arah kosong.


Si pelayan yang sempat melihat ke arah yang ditunjuk Tita kemudian tampak menggelengkan kepalanya,


"Itu Mama pakai gaun putih."


Kata Tita bersikeras,


Si pelayan terheran-heran, tidak ada di sana perempuan bergaun putih.


"Nona datang dengan Bapak dan Mama?"


Tanya si pelayan,


Tita menggeleng, dengan mata yang hanya sebentar saja menoleh ke arah pelayan, lalu kembali melihat ke tempat di mana tadi Mama sempat berdiri dan menatap ke arah Tita sembari tersenyum,


Tapi...


Mama sudah tak ada lagi di sana.


Ke mana dia?


Padahal Yanto, Bapaknya ada di sana, berdiri dekat eskalator untuk turun ke lantai satu.


"Mama pergi lagi kan jadinya."


Kata Tita dengan wajah sedikit cemberut pada si pelayan,

__ADS_1


"Maaf Nona, tadi kan Ayah Nona sudah bilang Nona tidak boleh ke mana-mana."


Ujar si pelayan,


"Mamanya Nona mungkin sedang di lantai satu untuk belanja, nanti susul sama Bapak saja ya, jangan sendirian."


Kata si pelayan menambahkan.


Tita mendengar kata-kata si pelayan kemudian tampak terdiam, lalu melihat ke arah si pelayan dengan wajah serius,


"Apa orang yang sudah meninggal juga bisa belanja?"


Tanya Tita,


Si pelayan kaget diberi pertanyaan semacam itu,


Apa maksudnya?


Meninggal?


Siapa?


Apa maksudnya, Mamanya?


"Mama hanya datang ke rumah Nenek, nyuruh Tita pulang tapi Mama tidak pulang, kenapa?"


Gumam Tita macam bicara dengan angin, tangan kecilnya membelai semua baju di gantungan.


Si pelayan entah kenapa jadi merinding di dekat Tita.


"Ngg... Nona mau baju yang mana, kita pilih baju lagi saya ya."


Kata si pelayan mencoba mengalihkan fokus Tita dan juga pembahasan mereka.


Yang benar saja, maksudnya Mama nya sudah meninggal, lalu tiba-tiba anak ini melihatnya lewat?


Si pelayan langsung merinding karena membayangkan si Mama itu kini berada di sebelahnya.


Sementara itu, di tempat di mana semula Yanto akan menerima telfon dari Winda, tiba-tiba tangannya seperti ada yang menarik, hingga hp di tangannya terlepas.


Hp Yanto jatuh ke lantai, dan ketika akan diambil, hp itu tiba-tiba menjauh sendiri seperti ada yang menggeser.


Yanto tentu saja jadi ketakutan, dan hal ini membuat beberapa orang yang sempat melihat hp bergerak sendiri menjerit.


"Hantuuu... Ada hantuuuu..."


Suasana kemudian heboh.


Tita yang baru akan memilih baju lagi dengan si pelayan akhirnya jadi batal, ia berlari menuju tempat kehebohan, si pelayan mengejar tapi karena kakinya sudah lebih dulu lemas gara-gara bicara dengan Tita, akhirnya ia tak bisa mendapatkan Tita.


Tita, anak itu berlari ke arah Bapaknya yang kini menatap hp nya yang masih berdering karena ada panggilan dari Winda.


Tita yang datang menghampiri Bapaknya melihat hp Bapaknya di lantai sementara Bapaknya tak berani mengambil akhirnya mendekati hp lalu meraihnya, tepat ketika panggilan berhenti.


Beberapa orang terlihat kasak kusuk soal hantu, terutama yang sempat melihat kini terlihat menatap ke arah Yanto dan Tita dengan memasang wajah-wajah aneh.


"Hp Bapak jatuh?"


Tanya Tita tanpa tahu ada apa sebetulnya,


Tita mengulurkan hp nya, saat Yanto akan meraih hp itu, tiba-tiba saja sebuah tangan putih pucat seperti cat putih ikut terulur,


Yanto terperanjat, ia mundur beberapa langkah hingga nyaris jatuh ke arah eskalator andai saja tidak ada laki-laki yang pas akan turun dengan pasangannya, hingga orang itu bisa membantu menahan tubuh Yanto.


"Hati-hati Mas, mau bunuh diri apa gimana?"


Kata si laki-laki,

__ADS_1


Tampak Yanto sampai harus bolak balik membungkuk minta maaf.


Setelah itu, Yanto celingak-celinguk, takut bercampur ngeri, bercampur penasaran, tangan dengan jari lentik itu jelas sekali tadi ikut terulur, tapi...


Tak ada...


Jelas itu bukan tangan manusia.


Yanto menatap wajah Tita yang kini kedua mata anak itu menatap Bapaknya dengan heran.


"Bapak kenapa?"


Tanya Tita.


Yanto menggelengkan kepalanya, ia tentu tak mau membuat Tita juga ikut takut.


"Bapak hanya haus, tidak apa-apa."


Kata Yanto akhirnya berbohong.


Yanto lantas meraih tangan Tita untuk ia gandeng, Tita merasakan tangan Yanto dingin dan gemetaran,


"Bapak kenapa? Tangannya dingin, seperti tangan Mama."


Kata Tita.


Yanto yang semula baru akan mengajak Tita berjalan ke arah gantungan-gantungan baju lagi agar bisa melanjutkan memilih akhirnya menghentikan langkahnya.


Ia menoleh menatap Tita,


"Tadi ada Mama juga di sini, mengikuti Bapak, Tita panggil-panggil, tapi Mama hanya nengok saja. Gara-gara Mbak pelayan itu, Tita jadi tidak bisa ngejar Mama."


Kesal Tita, lalu...


"Ayuk Pak, turun saja, pasti Mama belum jauh,"


Lanjut Tita lagi.


Yanto yang pada dasarnya sedang ketakutan, jelas saja langsung tambah ketakutan,


"Tita, itu bukan Mama, itu hantu."


Kata Yanto.


Tita mengerutkan kening,


Maksudnya apa?


Kok Bapak tega sekali mengatakan Mama hantu, batin Tita.


"Itu Mama Tita, tadi Mama Tita di sini."


Kata Tita.


"Tita... Bapak mohon, berhentilah bicara seolah Mama masih ada, dia sudah meninggal, sudah dikubur, mana bisa dia kembali lagi!!"


Yanto bicara dengan suara yang cukup keras, hingga membuat Tita takut, dan membuat orang-orang jadi menatap ke arah mereka,


Hingga...


"Jangan membentak anakku!!"


Tiba-tiba sebuah tamparan keras terasa di pipi kiri Yanto, dan saat wajah Yanto berpaling ke arah kanan karena tamparan keras di pipi kirinya, tiba-tiba wajah Mirna jelas sekali berada di depan wajahnya.


"Jangan bentak anakku!!"


Teriak Mirna...

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2