Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
40. Tumbal Palsu


__ADS_3

"Telur saja setengah kilo Bik, sama mie instan rebus yang ayam bawang empat."


Kata Mbak Ukha,


Ia berencana akan membuat mie rebus saja pakai telur, diberi sedikit sawi dan irisan cabe rawit.


Berhubung Ibu dan Lukman tidak di rumah, maka Mbak Ukha memutuskan untuk tidak usah masak saja, daripada nanti dibuang, dan juga ia takut jika terlalu lama di dapur sendirian.


"Apa lagi Mbak?"


Tanya Bibik penjual warung.


"Ngg kerupuk Bik, itu yang satu bungkusan kecil saja. Kalau terlalu banyak suka melempem dimarahi Ibu."


Ujar Mbak Ukha.


Bibik penjual warung pun mengambil bungkusan kerupuk yang hanya isi delapan kerupuk.


"Sudah Bik, berapa semuanya?"


Mbak Ukha sambil membuka dompet untuk mengambil uang.


"Semuanya jadi tiga puluh ribu pas, sama dulu kurang pas beli teh."


Kata si Bibik penjual warung.


"Oh iya bener Bik, oke."


Mbak Ukha lantas mengeluarkan uang pecahan lima ribuan dan sepuluh ribuan.


Sementara Bibik penjual warung sibuk memasukkan belanjaan ke dalam kantung kresek, lalu...


"Oh Mbak,"


Bibik penjual warung seperti akan bercerita sesuatu,


Mbak Ukha mengulurkan uang pembayaran belanjaannya dan kemudian mengambil kresek berisi telur, kerupuk dan mie instan dari tangan Bibik penjual warung.


"Ada apa Bik?"


Tanya Mbak Ukha, perasaannya belum apa-apa sudah tidak enak lantaran melihat wajah Bibik penjual warung yang begitu serius,


"Katanya, kemarin ada yang lihat Mbak Mirna lagi lho."


Kata si Bibik penjual warung.


Mbak Ukha yang sejatinya sudah menyangka bilamana berita yang disampaikan Bibik adalah pasti sekitaran Mirna pun tampak tak begitu kaget, namun bukan berarti juga ia tidak penasaran,


"Siapa yang lihat?"


Tanya Mbak Ukha.


"Bu Kamal, katanya malam-malam ada yang ketuk pintu rumahnya, ya belum malam sekali sebetulnya, karena baru setengah sembilan."


Kata si Bibik penjual warung.


Mbak Ukha mengerutkan kening,


"Bu Kamal yang rumahnya dekat jalan menuju pemakaman umum? yang terima pesanan kue?"


Tanya Mbak Ukha,

__ADS_1


Bibik penjual warung mengangguk,


"Iya Mbak Ukha, betul Bu Kamal itu,"


"Apa kata dia? Ada penampakan apa katanya?"


Tanya Mbak Ukha,


"Ya katanya, malam itu pintunya diketuk-ketuk, terus, akhirnya suaminya, Pak Kamal terpaksa membukakan pintu, dan Pak Kamal ini langsung lari kocar-kacir Mbak, katanya di sana ada Mbak Mirna yang berdiri dengan wajah rusak seperti korban kecelakaan."


Mbak Ukha kali ini terkejut,


Tidak biasanya, ada yang melihat penampakan Mirna kondisi wajahnya rusak, padahal biasanya, paling-paling Mirna hanya memperlihatkan wajahnya yang putih pucat saja.


"Apa begitu katanya Bik? Tidak berlebihan?"


Tanya Mbak Ukha seolah tak bisa langsung percaya begitu saja.


"Lho memang katanya begitu kok Mbak, katanya pak Kamal bahkan sampai lari ketakutan karena memang seseram itu penampakannya."


Ujar Bibik penjual warung.


Mbak Ukha menghela nafas, ia juga tak suka pada Mirna selama ini, tapi jika hanya karena alasan tidak suka lalu akhirnya jadi melebih-lebihkan penampakannya, tentu itu tidak benar.


Adzan Isya terdengar berkumandang, langit kini telah benar-benar gelap, warung yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumah Mbak Ukha pun didatangi ibu-ibu lain.


Mbak Ukha pun pamit pada si bibik penjual warung, dan bergegas pulang karena mumpung banyak orang akan berangkat ke mushola lagi.


Sampai di rumah, Mbak Ukha langsung mencari Bibiknya.


"Biik... Biik..."


Terdengar suara perempuan di kamar depan sedang bersenandung lagu untuk menidurkan anak kecil.


Mbak Ukha pun masuk kamar depan, benarlah Bibik sedang mengeloni panji, berbaring membelakangi arah pintu karena harus mendekap dede bayi.


"Bik, kita harus bagaimana ya enaknya sekarang, lama-lama lho ya kita malu juga, dan kita bagaimana pun juga tidak tega juga kalau warga terus saja menggunjing soal Mirna."


Kata Mbak Ukha.


"Memangnya kenapa lagi dengan Mirna?"


Tanya Bibik sambil terus menepuk-nepuk lembut dede bayi agar tidur lelap.


"Kabarnya kemarin malam penampakan lagi, tapi kali ini katanya wajahnya hancur macan korban kecelakaan, rasanya mendengar saja aku tidak bisa percaya Bik,"


Tutur Mbak Ukha.


"Kenapa tidak percaya? Hantu kan bisa berubah seperti apapun."


"Tidak Bik, Mirna itu bukan korban kecelakaan, rasanya tidak mungkin dia penampakan seperti itu. Ah manusia kan suka berlebihan, itu pasti keluarga Kamal hanya dibuat-buat saja, ya kan Bik?"


"Kamu biasanya tidak suka dengan adik iparmu Kha."


Kata Bibik kemudian,


Mbak Ukha lantas duduk sejenak di sisi tempat tidur, tepat di sebelah Bibik berbaring, posisi Mbak Ukha menghadap ke arah pintu,


"Aku tidak suka karena dia kadang aku lihat sok baik, pinter sekali cari muka, seolah dia itu satu-satunya orang berhati baik di dunia ini, belum lagi dia manja pada Yanto, pada Ibu, bahkan pada Lukman."


Kata Mbak Ukha.

__ADS_1


"Kamu berpikir begitu karena hatimu yang jahat, kalau kamu hatinya baik, melihat orang lain baik itu harusnya kamu malah suka."


"Ya namanya orang suka dan tidak itu kan tidak bisa dipaksa, tidak bisa diatur."


Kata Mbak Ukha kesal.


"Yo bisa diatur, kalau memang manusianya mau."


Mbak Ukha yang malah jadi kesal karena Bibik justeru mengomeli dirinya akhirnya memutuskan berdiri lagi, ia akan membuat mie rebus saja,


"Ah Bibik juga dari dulu selalu bela-bela Mirna sama seperti Ibu dan Lukman."


Sungut Mbak Ukha,


Mbak Ukha lantas bersiap beranjak dari kamar depan, manakala ia mendengar suara Bibik,


"Kha, ini daro tadi hp nya bunyi terus, ada banyak pesan masuk sama telfon,"


Mbak Ukha sejenak menghentikan langkahnya, tiba-tiba kedua kakinya terasa lemas,


Suara Bibik...


Suara itu ada di luar kamar, suara itu ada di ruang tengah rumah, di ruang makan,


Lalu...


Mbak Ukha tubuhnya langsung macam akan luluh lantak saking lemasnya,


Bulu kuduk Mbak Ukha berdiri, ia ingin bisa keluar kamar tapi tak bisa,


"Biiiiik... Biiiiik..."


Suara Mbak Ukha memanggil sekuat tenaga, karena kakinya lemas tak bisa bergerak, ia ingin menangis rasanya saking takutnya...


Bibik Nur yang mendengar suara Mbak Ukha dari dalam kamar depan akhirnya berjalan ke arah kamar.


Disingkapnya tirai penutup pintu ruang kamar itu, dan tampak Mbak Ukha yang masih berdiri kaku.


Wajahnya pucat pasi, matanya menatap Bibik dengan ketakutan,


"Ada apa Kha?"


Tanya Bibik heran,


Mbak Ukha memberikan Isyarat bahwa di tempat tidur ada sesuatu,


Bibik melihat ke tempat tidur yang kosong.


"Kamu ini kenapa, tidak ada apa-apa dan tidak ada siapapun di sini."


Ujar Bibik.


"Kan kamu bilang, tumbal dari Nyi Parijem menjaga rumah."


Kata Bibik.


Mbak Ukha menatap Bibiknya,


"Dia membohongiku, pasti."


Kata Mbak Ukha akhirnya.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2