
Mbak Ukha tergopoh-gopoh keluar dari rumah menyusul Lukman yang telah menunggu di luar di atas motornya.
"Kha... Kha..."
Bibik Nur menyusul dari belakang Mbak Ukha keluar rumah, Mbak Ukha menghentikan langkahnya sejenak untuk kemudian menoleh ke arah Bibik Nur,
"Kenapa Bik?"
Tanya Mbak Ukha,
"Minta air doa untuk Tita,"
Kata Bibik Nur dengan suara sedikit berbisik,
"Tita?"
Mbak Ukha sekilas melirik ke pintu rumah, lalu menatap Bibik Nur lagi,
"Dia kadang suka bicara sendirian, seperti ada Mamanya,"
Ujar Bibik Nur,
"Oh, iya..."
Mbak Ukha mengangguk mengerti,
Kemudian Mbak Ukha melanjutkan berjalan mendekati Lukman di atas motornya, yang kini tampak sudah siap.
"Hati-hati, semoga Nyi Parijem akan membantu."
Kata Bibik,
Mbak Ukha naik ke boncengan motor,
"Pergi dulu Bik."
Kata Mbak Ukha,
Bibik Nur mengangguk.
"Yanto ke mana sih Man?"
Tanya Mbak Ukha pula ketika motor bersiap melaju,
__ADS_1
"Tidak tahu, tadi pamitnya sama Ibu, kayaknya pulang ke rumahnya mau ambil baju, tadi diantar Mas Munir."
Kata Lukman,
"Oh."
Mbak Ukha mantuk-mantuk.
Bibik Nur mengiring kepergian Lukman dan Mbak Ukha sampai pagar depan,
Hingga motor yang dikendarai Lukman menjauh dan lantas tak terlihat lagi di tikungan perempatan dekat mushola sana.
Seorang Ibu yang baru dari warung tampak lewat depan rumah, ia menyapa Bibik Nur sambil tersenyum tapi jalannya cepat-cepat.
Bibik Nur menghela nafas, belakangan hal itu sudah biasa terjadi, warga banyak yang takut hanya sekedar lewat depan rumah,
Lukman menyusuri jalanan kampung melewati mushola dan rumah-rumah warga, jalanan ke arah pemakaman umum itu akan mengarahkan mereka ke jalan yang nantinya banyak kebun-kebun di mana rumah Nyi Parijem berada.
Beberapa warga yang ada berpapasan di jalan tampak menyapa, ada juga yang hanya diam saja.
Nyatanya, sejak kematian mendiang isteri Yanto, keluarga mereka seolah menjadi bahan perbincangan masyarakat kampung sehari-hari, dan setiap kali mereka lewat atau di satu tempat, banyak warga yang bersikap seolah merasa jadi kurang nyaman.
"Semoga Nyi Parijem ada di rumah."
Hingga kemudian rumah Nyi Parijem terlihat, Mbak Ukha masih saja tetap belum tenang karena takut Nyi Parijem sedang tidak ada di rumah.
Lukman membawa motornya memasuki halaman rumah Nyi Parijem, pagar yang lama tampaknya di robohkan sekalian, dan terlihat kini halaman tak dipagari sama sekali, meskipun ada juga banyak bambu di depan rumah, yang kemungkinan itu nantinya untuk membuat pagar baru.
Lukman menghentikan motornya, lalu tampak Mbak Ukha turun dari boncengan,
"Aku ikut masuk Mbak."
Kata Lukman.
Kali ini, ia ingin ikut karena banyak sekali pertanyaan yang ingin ia sampaikan pada Nyi Parijem,
Mbak Ukha tampak mengangguk, ia lantas berjalan mendahului Lukman menuju pintu rumah Nyi Parijem,
Namun...
Krieeeet...
Belum lagi Mbak Ukha sampai di teras rumah Nyi Parijem, pintu rumah tersebut tiba-tiba terbuka sendiri,
__ADS_1
Tentu saja, Mbak Ukha yang melihatnya jadi menghentikan langkahnya, ia tertegun sejenak menatap pintu yang terbuka sendiri tersebut,
Menunggu siapa kira-kira sebetulnya yang membuka pintu,
Tapi...
Sepi.
Tak ada siapapun di sana.
Mbak Ukha bergidik,
"Apa Mbak?"
Lukman yang telah turun dari motor mendekati Kakaknya, Mbak Ukha sekilas menoleh ke arah Lukman.
"Pintunya terbuka sendiri."
Kata Mbak Ukha lirih,
Lukman baru akan mengatakan sesuatu, saat tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara,
"Oh, masuk saja, silahkan masuk."
Lukman dan Mbak Ukha saling berpandangan sejenak, lalu menoleh ke belakang,
Tampak di sana cucu Nyi Parijem berdiri, menenteng kresek kecil,
"Ad... ada yang buka pintu Mbak, itu..."
Mbak Ukha agak gugup,
Cucu Nyi Parijem tampak berjalan melewati keduanya,
"Tidak apa-apa, mereka sudah tahu kalian akan datang, masuklah."
Ujar cucu Nyi Parijem, membuat Mbak Ukha dan Lukman kembali berpandangan,
"Mereka siapa Man?"
Tanya Mbak Ukha dengan suara berbisik,
Lukman menggelengkan kepalanya, meski hatinya seolah menebak, tapi tak berani mengucapkan.
__ADS_1
**--------------**