Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
39. Sedih


__ADS_3

Lukman tampak menggandeng Tita keluar dari klinik untuk kemudian menyusuri trotoar menuju warung nasi goreng tenda yang ada di sekitar klinik di mana Yanto dirawat.


Tita sesekali melihat ke arah jalan raya yang dipadati kendaraan yang berlalu-lalang, dari angkutan, mobil pribadi segala model dan merk, hingga sepeda motor.


Silau sorot lampu-lampu kendaraan yang senada dengan lampu jalan terlihat ramai di mata Tita.


"Ayuk masuk Ta."


Kata Lukman sembari menarik tangan Tita untuk masuk ke dalam warung nasi goreng tenda yang tampak ada cukup banyak orang makan malam di sana.


Lukman sejenak mencari tempat duduk yang masih kosong, yang untungnya masih ada tersisa di dekat pak penjual.


Lukman pun mengajak keponakan kecilnya itu duduk di sana, sambil kemudian memesan,


"Tita mau apa? Nasi goreng saja?"


Tanya Lukman,


Tita mengangguk,


"Telurnya diorak-arik ya Paman,"


Pinta Tita,


Lukman pun mengangguk mengerti, ia lantas memesankan apa yang Tita mau, Lukman sendiri pesan mie rebus, dan lima nasi goreng untuk dibawa pulang.


Tadi Ibu yang memesan pada Lukman agar sekalian saja memesan untuk dibawa pulang juga, karena Mbak Ukha pasti tak berani masak di dapur sendirian, biasanya ia selalu minta ditemani Bibik, sedangkan Bibik saat ini menjaga dede Panji.


Setelah memesan, Lukman lantas mengambil hp nya dari kantung jaketnya, dan kemudian mengirim pesan pada Mbak Ukha kalau ia akan bawa nasi goreng untuk makan malam.


Tita di sebelah Lukman tampak menatap jalanan.


Ya sebagaimana anak kecil pada umumnya yang selalu tertarik dengan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya, Tita juga demikian


Hingga kemudian,


"Ta."


Tiba-tiba suara Pamannya mengagetkan Tita,


Tampak Tita menoleh ke arah sang Paman yang duduk di sebelahnya, terlihat Pamannya itu menatap Tita,

__ADS_1


"Tadi Bapak kenapa pingsan Ta?"


Tanya Lukman,


Tita menggelengkan kepalanya pelan, karena sesungguhnya ia sendiri tidak begitu memahami yang terjadi dalam pandangan Bapaknya.


"Bapak ketakutan, tapi tidak tahu takut apa, hantu apa ya Paman."


Kata Tita kemudian.


"Kalau Tita tidak lihat hantu?"


Tanya Lukman,


Tita diam sejenak.


Lalu Tita menggeleng.


"Tidak."


Jawab Tita.


Lukman mengangguk mengerti, karena memang hantu biasanya menampakkan diri tak akan semudah itu dilihat orang banyak, kecuali memang orang yang melihat sedang dalam satu frekuensi.


Tutur Tita curhat, mendengarnya Lukman lantas terlihat antusias,


"Mama?"


Tanya Lukman memastikan,


"Iya Paman, Mama, Tita ingin kejar Mama, tapi tidak boleh sama Pelayan, katanya nanti Tita ilang, Tita benci sama Mbak pelayan itu, karena Tita jadi tidak bisa bertemu Mama."


Tita tampak matanya berkaca-kaca dan wajahnya merah karena menahan kesal.


"Mama lagi apa di sana?"


Tanya Lukman kemudian penasaran,


Tita diam lagi, seperti mengingat, lalu...


"Ikutin Bapak, kan Bapak ada telfon, terus Bapak bilang sama Tita mau angkat telfon dulu."

__ADS_1


"Telfon dari siapa?"


Lukman benar-benar ingin semakin memastikan bahwa memang semuanya adalah kesalahan kakaknya sendiri.


"Entah, Tita tidak lihat."


Kata Tita,


Lukman menghela nafas, hampir merasa kecewa, sebelum kemudian...


"Hp Bapak jatuh, trus Tita yang ambilkan, pas Tita ambil ada telfon lagi dari Bibik Winda."


Ujar Tita, yang seketika membuat kedua mata Lukman membulat.


"Siapa? Winda?"


Tanya Lukman seolah memastikan lagi.


Dan tampak kemudian Tita mengangguk,


"Bibik Winda jahat Paman, Bibik Winda bawa teman ke rumah dan membuang foto-foto Mamanya Tita, lalu Tita dikurung di kamar, karena katanya rumah Tita ada hantunya dan harus dibersihkan, Tita tidak boleh mengganggu."


Tutur Tita,


Mendengar itu jelas Lukman langsung kesal rasanya,


Perempuan itu, berani-beraninya kurung Tita Keponakannya dan belum apa-apa berani buang foto-foto Mbak Mirna.


Memangnya siapa dia? Apa hak nya? Lukman benar-benar kesal.


"Tadinya Tita pikir Bibik Winda baik, mau temani Tita tidur pas di rumah ada hantu, ternyata dia jahat, malah katanya hantu itu sebetulnya Mama Tita, bohong kan ya Paman? Mama Tita bukan hantu."


Tita tampak begitu sedih, mengingat Mamanya dibilang jadi hantu.


Untuk Tita kecil, Mamanya meninggal itu tetap bisa pulang sesekali, tapi tidak menjadi hantu.


Cara berpikir anak kecil yang kadang belum terlalu nalar.


Lukman menghela nafas, sulit baginya untuk menjelaskan pada Tita, karena jelas mengatakan manusia yang telah mati tak mungkin pulang sebagai manusia lagi akan menyakiti hati Tita, dan akan membuat Tita jadi semakin sedih berlarut-larut.


"Tita kangen pada Mama, kenapa Mama tidak pulang terus saja ya Paman? Apa sebetulnya Mama memang tidak sayang Tita?"

__ADS_1


Lirih Tita sedih.


**-------------**


__ADS_2