
Cucu Nyi Parijem tampak kemudian tubuhnya kejang-kejang, Nyi Parijem komat-kamit tak jelas, ia mengambil sirih dari wadah, dikunyahnya sirih yang ia ambil, kembali ia komat-kamit membaca mantera, sebelum kemudian ia meludah ke telapak tangannya lalu diletakkannya telapak tangan itu di atas kepala sang cucu.
Cucu Nyi Parijem yang semula kejang-kejang kemudian tubuhnya melemah, ia lantas terbaring lagi di atas lantai, Nyi Parijem lekas menutupi seluruh tubuhnya lagi dengan kain kafan.
Tampak Nyi Parijem dengan telapak tangannya mengusap atas kain kafan yang menutupi sang cucu, mulutnya terus komat-kamit,
Yanto di tempatnya terus menyaksikan semua yang dilakukan Nyi Parijem, begitu juga dengan Mbak Ukha dan Lukman, keduanya masih sulit berkata-kata karena semua yang baru saja mereka lihat sungguh sulit untuk mereka percaya.
Orang yang telah mati itu bicara dengan tubuh orang lain, Mbak Ukha begitu merinding, sedangkan Lukman tentu saja yang terbayang langsung olehnya adalah saat ia melihat sosok mendiang kakak iparnya.
Cukup lama hingga akhirnya Nyi Parijem selesai mengurusi cucunya yang menjadi media untuk mendiang isteri Yanto bicara.
Nyi Parijem memandang Yanto yang duduk sila di hadapannya itu.
Lalu...
"Di mana rumahmu? Kita ke sana saja sekarang."
Kata Nyi Parijem kemudian,
Mbak Ukha yang melihat Yanto belum juga bergeming lantas mencubit lengan adiknya,
Yanto menoleh ke arah Mbak Ukha,
"Ayok kita ke rumahmu."
Kata Mbak Ukha,
__ADS_1
Yanto pun yang sepertinya juga masih terbawa suasana perasaannya setelah bisa bicara lagi dengan mendiang isterinya akhirnya mengangguk.
Tampak ia lantas berdiri dengan susah payah, matanya menatap cucu Nyi Parijem yang masih ditutup kain kafan,
Lukman dan Mbak Ukha menyusul berdiri,
Lukman mengiring Yanto menuju pintu yang kali ini harus Lukman cepat-cepat membukanya sendiri.
Mbak Ukha yang akan menyusul kedua adiknya terlihat memandang Nyi Parijem,
"Pergilah, aku akan menyusul. Ada yang akan aku urus sebentar."
Kata Nyi Parijem tanpa menunggu Mbak Ukha bertanya,
Tampak Mbak Ukha mengangguk, dan tak ingin nantinya kena semprot Nyi Parijem, perempuan itupun segera menyusul Yanto dan Lukman yang kini telah berjalan keluar rumah.
"Mas Munir, antar Mas Yanto ke rumahnya bisa?"
Tanya Lukman pada Munir, karena Yanto masih seperti orang linglung.
Setelah bicara dengan mendiang isterinya barusan, mendengar ia menangis dan memohon agar Yanto tak sampai menikah dengan Winda membuat hati Yanto seperti benar-benar hancur seutuhnya sekarang.
"Rumah Ibu atau rumah..."
"Rumah Mas Yanto, Mas Munir."
Kata Lukman memotong langsung kalimat tanya Munir,
__ADS_1
"Oh, oke Man... Oke... Bisa banget."
Kata Munir.
"Mbak Ukha mau ikut sekalian ke rumah Mas Yanto? Atau mau aku antar pulang ke rumah Ibu saja?"
Tanya Lukman,
"Ikut saja ke rumah Yanto, sudah kepalang tanggung, aku ingin cepat tahu apa sebetulnya yang terjadi."
Jawab Mbak Ukha tanpa ragu sama sekali,
Jelas ia sungguh ingin semuanya cepat selesai, agar tak terus berlarut-larut.
Tentu saja, makin cepat semuanya selesai, makin bagus pula untuk Yanto memperbaiki semuanya apabila memang ia bersalah.
Mbak Ukha tampak menghela nafas, ia melihat ke arah Yanto yang kini bersiap pergi dengan Munir.
"Apa sebetulnya yang ia lakukan lagi selain berselingkuh dari isterinya."
Geram Mbak Ukha,
Lukman terlihat tersenyum ke arah kakak perempuannya,
"Sekarang Mbak percaya kan? Aku sudah bilang, pasti semuanya karena Mas Yanto sendiri."
Sahut Lukman yang membuat Mbak Ukha pun kali ini terlihat mantuk-mantuk.
__ADS_1
**------------**