Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
42. Benang Kusut


__ADS_3

"Mobilnya diambil besok saja,"


Kata Lukman pada Ibu saat akhirnya mereka diperbolehkan membawa pulang Yanto.


Lukman memesankan taksi dengan aplikasi untuk mengantar Ibunya, Mas Yanto dan juga Tita.


Lukman sendiri pulang mengenakan motornya, sebagaimana tadi ia berangkat dari rumah.


Yanto yang tampaknya masih trauma dengan hp nya tak berani memegang hp nya meskipun berulangkali dicoba Ibu memberikannya.


"Ini kamu simpankan saja Man."


Kata Ibu, yang memang karena tadi berangkat terburu-buru jadi tak sempat membawa dompet apalagi tas.


Lukman meraih hp milik sang kakak dari tangan ibunya, sebelum Ibunya masuk di dalam mobil taksi onlen yang akan mengantarnya pulang.


Yanto dan Tita sudah lebih dulu masuk di dalam mobil, Yanto tampak menatap jalanan dengan sesekali seperti memalingkan wajah secepat-cepatnya karena tak mau melihat keluar kaca jendela.


Tita sendiri yang tampak sudah mengantuk duduk bersandar di samping Yanto dengan kedua mata yang seolah sudah tak kuat lagi untuk diajak melek.


Ibu pun masuk ke dalam mobil, Lukman menutupkan pintu mobil taksi onlen tersebut.


"Pastikan dulu mobil Kakakmu aman."


Kata Ibu sebelum mobil bergerak meninggalkan pelataran depan klinik, Lukman mengangguk mengiyakan ke arah Ibunya yang sampai sengaja menurunkan kaca mobil taksi onlen yang mereka tumpangi.


Mobil pun bergerak menjauh, Lukman menatap langit malam ini yang mencurahkan gerimis tipis.


Pemuda tujuh belas tahunan itupun bergegas menuju motornya, ia akan ke tempat parkir supermarket terlebih dahulu untuk memastikan mobil Kakaknya masih aman di sana.


Kunci mobil Yanto sendiri, tadi sudah diserahkan Yanto pada Lukman.


Lukman baru akan naik ke atas motornya, manakala ia tiba-tiba mendengar suara dering hp sang Kakak seperti ada panggilan masuk.


Lukman pun akhirnya menunda naik ke atas motor, dan kemudian mengambil hp milik Yanto dari dalam tas hitam kecil selempang yang ia bawa.


Winda.


Lukman menatap layar hp Yanto.


Nama Winda terpampang nyata dengan fotonya yang sudah jelas itu Winda yang tak asing untuk Lukman selama ini.


Lukman menghela nafas, ada gemuruh di dalam dadanya.


Dengan malas, Lukman kemudian mengangkat panggilan itu,


"Hrrggghhh..."

__ADS_1


Terdengar langsung dari seberang sana suara seseorang yang sedang kesal.


"Ke mana saja? Aku sore tadi ke rumah, habis maghrib ke rumah, dan ini juga sedang ada di depan rumahmu, tapi rumah sepi sekali, tetangga bilang kamu pergi dengan Tita sejak pagi. Ke mana?!"


Suara Winda seperti petasan yang begitu berisik.


Lukman rasanya darahnya jadi mendidih, bagaimana bisa seorang perempuan yang bukan siapa-siapa kakaknya sampai berani bicara begitu berisik di telfon.


"Aku bawa air doa dari Pak Sono, ini harus digunakan untuk mengepel seluruh rumahmu, biar hantu isteri mu tak bolak balik mengganggu."


Kata Winda lagi.


Lukman kembali menghela nafas,


Hantu isterimu dia bilang?


"Mbak, ini bukan Mas Yanto, ini Lukman."


Akhirnya Lukman yang tak tahan pun bersuara,


Winda di seberang sana seperti terkejut, namun Lukman yang jelas enggan bicara apa-apa lagi dengan Winda kemudian menutup telfon Winda, lalu mematikan hp nya dan memasukkan hp itu ke dalam tas lagi.


"Perempuan aneh,"


Umpat Lukman kesal,


**--------------**


"Hey! Halo! Haloo!!"


Winda di depan rumah Yanto tampak marah-marah pada hp nya.


Ia berusaha menghubungi Yanto lagi, namun tak bisa. Sudah jelas hp nya pasti dimatikan.


"Lukman, anak itu, dari dulu selalu menyebalkan."


Gumam Winda kesal.


Winda lantas berjalan ke jalan di depan rumah Yanto, Seorang laki-laki lewat, laki-laki yang merupakan tetangga Yanto itu tampak melihat Winda di halaman rumah Yanto yang tampak berjalan menuju jalanan.


Laki-laki yang semula akan menyapa Winda, tiba-tiba matanya tanpa sengaja melihat ke arah sudut halaman rumah Yanto yang paling dekat dengan jendela kaca besar.


Di mana di sana terlihat ada seperti seseorang yang berdiri dengan rambut menutupi wajah seluruhnya.


Rambutnya yang panjang, menjuntai hingga ke bawah, begitupun dengan gaun putihnya.


Laki-laki itupun langsung ambil langkah cepat tanpa ada lagi keinginan untuk basa basi genit pada Winda si janda kembang lagi.

__ADS_1


Winda tentu bukannya tidak menyadari ekspresi ketakutan laki-laki yang merupakan tetangga Yanto tersebut.


Winda menoleh ke arah sudut halaman di mana tadi mata laki-laki itu juga sempat melihat ke arah sana.


Kosong.


Tak ada apapun di sana.


Winda menghela nafas.


Ya...


Tidak.


Tentu saja tidak mungkin.


Pak Sono sudah bilang jika dirinya pasti akan aman, jadi kenapa dia musti takut.


Winda lantas berjalan mendekati motornya, ia naik ke atas motor, lalu memakai helm nya, dan segera tancap gas meninggalkan rumah Yanto.


Sepanjang perjalanan ia memikirkan kemana sebetulnya Yanto.


Kenapa hp nya ada di tangan Lukman?


Ada apa sebetulnya?


Ah' tunggu, jika hp nya ada di tangan Lukman, apakah Lukman akan tahu semua yang terjadi selama ini?


Bagaimana jika Yanto tak menghapus semuanya?


Dia bilang, hp Mirna sudah diamankan, tapi hp nya sendiri bagaimana?


Winda tiba-tiba jadi ketar-ketir.


Apa ia harus menghubungi Mbak Ukha?


Bukankah selama ini Mbak Ukha yang selalu menerimanya dengan baik?


Tapi...


Tetap saja, jika Mbak Ukha tahu yang sebetulnya pun, ia juga tak akan ada di pihak Winda dan Yanto.


Winda merasakan pikirannya ruwet macam benang kusut.


Saking ruwetnya ia tak sadar, di belakangnya sesosok perempuan duduk membonceng seraya menyeringai.


**-----------**

__ADS_1


__ADS_2