
"Serius Bu, kita tidak bisa begini terus."
Kata Mbak Ukha dengan wajah pucat pasi menatap Ibunya yang juga terlihat seperti menyembunyikan ketakutan.
Sementara itu, dede bayi, anak bungsu Yanto telah tertidur pulas dan seolah sama sekali tak terganggu dengan suara berisik neneknya dan juga Uwaknya sejak tiba-tiba ada aroma bunga yang menyeruak di dalam rumah.
"Sepertinya benar kata Bibikmu Kha, besok lebih baik coba kamu pergilah ke rumah Nyi Parijem dengan Lukman. Ceritakan padanya soal aroma bunga yang belakangan sering tercium tiba-tiba, dan juga semua hal aneh yang terjadi."
Kata Ibu.
Mbak Ukha terlihat begitu merinding saat matanya jadi tak sengaja terus-menerus menoleh ke arah kaca jendela kamar depan di mana mereka tidur.
Meski lampu kamar sudah dinyalakan dan suasana terlihat sangat terang, namun tetap saja rasanya masih membuat Mbak Ukha merinding.
Padahal, Mbak Ukha sudah sampai pindah tidur ke kamar depan bersama Ibunya dan dede bayi karena kebetulan Tita pulang ke rumah bersama Yanto.
Mbak Ukha yang kebetulan takut tidur sendirian akhirnya memilih tidur di kasur yang biasanya Tita tidur.
Kasur yang di letakkan di atas lantai, di dekat tempat tidur yang untuk tidur dede bayi dan juga Ibu.
Tentu saja, harapan Mbak Ukha tidur dengan Ibunya jadi satu dalam satu kamar adalah agar ia merasa tak perlu khawatir akan melihat penampakan atau semacamnya,
Tapi...
Siapa sangka, Ibunya justeru tiba-tiba saja pindah ke samping Mbak Ukha yang sedang terlelap, dan langsung menyuruh Mbak Ukha menutup wajah mereka dengan bantal.
Mbak Ukha yang karena bangun dalam posisi kaget jadi terlihat bingung tak tahu harus bagaimana untuk beberapa saat, hingga kemudian ia melihat lamat-lamat bayangan seolah ada sesuatu di kaca jendela kamar membuat Mbak Ukha tanpa bertanya apapun lagi pada Ibunya, langsung saja Mbak Ukha menyembunyikan wajahnya di bawah banyak.
Sayup terdengar suara perempuan seolah bernyanyi sendu...
Suara itu seperti senandung kecil yang biasa di nyanyikan seorang Ibu untuk meninabobokan anaknya.
__ADS_1
Suara itu sayup-sayup seperti terbawa angin entah dari mana, tapi...
Mbak Ukha yang sempat mencuri pandang ke arah kaca jendela tanpa sengaja melihat seperti ada sebentuk wajah yang melongokkan diri di kaca, tak jelas tapi Mbak Ukha langsung saja menutupi kepalanya dengan bantal.
Ya...
Hanya sekilas saja sudah jelas itu bukan manusia, jadi menurut Mbak Ukha tak perlu lagi ia memastikan dulu itu siapa.
"Bangunkan Lukman sana Kha."
Kata Ibu pada Mbak Ukha agar membangunkan adik bungsunya yang seperti biasa tidur di tempat tidur depan TV.
"Duh, buat apa Bu? Lukman itu kalau sudah tidur susah sekali dibangunkan, Ibu kan tahu."
Keluh Mbak Ukha pada Ibunya yang merasa keberatan dengan permintaan sang Ibu.
Ya tentu saja, sebetulnya untuk Mbak Ukha, ia bukan hanya malas membangunkan Lukman karena sangat susah dibangunkan, namun juga karena untuk sampai ke tempat Lukman, Mbak Ukha harus keluar dari kamar dan berjalan melewati ruang depan yang sempat untuk tempat jenazah Mirna dibaringkan saat baru sampai dari Rumah Sakit.
Selain itu, dini hari seperti ini, rasanya suasana terasa sangat mencekam, belum lagi Mbak Ukha juga terbayang-bayang terus wajah yang melongok di kaca jendela barusan.
**-------------**
"Pak... Pak..."
Seorang Bapak di poskamling tiba-tiba berbisik, wajahnya tampak begitu serius.
Semua yang ada di sana menatapnya,
"Ka... Kalian apakah sama denganku?"
Tanya Bapak itu, yang duduk paling dekat dengan teko, yang merupakan bapak yang memberikan minum untuk dua hansip yang tadi lari tunggang langgang karena melihat penampakan.
__ADS_1
"Kenapa Pak?"
Tanya salah satu Bapak yang duduknya paling dekat dengannya.
"It... Itu... seperti tercium aroma bunga kuburan."
Lirih si bapak.
Begitu si Bapak bicara demikian, tentu saja semua langsung terlihat panik, apalagi mereka kemudian merasa memang benar mencium aroma bunga kuburan yang dimaksud.
Mereka lantas tampak celingak-celinguk dengan wajah mulai takut, termasuk juga dua hansip kampung.
"Kita sepertinya lebih baik pulang saja Bapak-bapak, toh ini sudah hampir pagi,"
Kata Hansip satu memutuskan.
Ya...
Baginya bertahan di luar dalam situasi seperti ini seolah-olah malah macam sedang uji nyali, yang di mana sebetulnya bangsa mahluk astral itu tak boleh jadi permainan termasuk ditantang karena merasa kita tidak takut pada mereka.
Mereka pun akhirnya satu persatu bersiap meninggalkan poskamling, ketika terdengar sayup suara perempuan,
"Sudah selesai Pak?"
Suara itu pelan, hanya terdengar seperti bisikan yang dibawa hembusan angin.
Salah satu Bapak yang mendengar suara perempuan itu tanpa sengaja melihat ke arah atas atap poskamling dan...
"As... as... astagaaaa..."
Bapak itu kaget luar biasa, manakala dilihatnya kepala perempuan yang melongok dari atas ke arah bawah dengan rambut menjuntai ke bawah.
__ADS_1
Wajah perempuan yang tampak sangat pucat itu terlihat tanpa ekspresi sama sekali, melongok dengan mata menatap kosong ke arah bapak-bapak di poskamling yang tentu saja langsung bubar kabur entah ke mana.
**---------------**