Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
33. Ke Mana Dia?


__ADS_3

Tangan dan tubuh Yanto seketika tergetar, tatap mata Lukman yang begitu tajam jelas lah bukan lagi tatap mata manusia.


Yanto cepat berlari ke dalam rumah, ia bahkan sampai menabrak pintu, dan begitu masuk ke dalam ia pun langsung bersembunyi dekat Ibunya.


"Apa? Ada apa?"


Tanya Ibu jadi ikut panik.


"Lukman... Lukman kesurupan."


Kata Yanto panik.


Bibik Nur yang juga ada di sana terlihat bingung.


"Mana? Di mana Lukman?"


Tanya Ibu pula tampak tak kalah bingungnya.


Bersamaan dengan itu terdengar suara Mbak Ukha yang seperti baru masuk rumah, Ibu dan Bibik Nur terlihat langsung menatap pintu yang menghubungkan ruang dalam di mana kini mereka berada dengan ruang depan rumah.


Mbak Ukha muncul di sana, membawa satu kantong kresek dari warung untuk masak makan malam.


"Kha."


Ibu memanggil,


Mbak Ukha terlihat celingak-celinguk, menatap satu persatu Ibunya, Bibik Nur, Tita dan juga...


"Lah Yanto, bukannya kamu tadi di depan?"


Mbak Ukha terheran-heran, ia lantas menoleh ke arah belakangnya, di mana di teras depan tadi ia seperti melihat Yanto duduk.


Mendengar kata-kata Mbak Ukha jelas semua tambah jadi bingung, apalagi Yanto.


"Aku baru saja masuk rumah, Lukman kesurupan."


Kata Yanto.


Mbak Ukha makin bingung dibuatnya.


"Lukman apa? Di mana Lukman?"


Mbak Ukha heran,


"Tadi di halaman depan, ia jelas kerasukan, bicara yang tidak-tidak dan mendelik."


Kata Yanto.


Ibu menoleh ke arah Yanto, lalu ke arah Mbak Ukha.


"Di depan tidak ada Lukman? Apa dia pergi lagi?"


Ibu bertanya,


"Dia kan bilang akan main futsal."


Kata Mbak Ukha.


"Tadi sudah pulang dia, dan dia kerasukan."


Timpal Yanto,


Ibu dan Bibik Nur yang penasaran akhirnya berjalan menuju ruang depan, tampak Yanto dan Mbak Ukha saling pandang,


"Di depan tidak ada Lukman, hanya ada orang duduk di teras yang kupikir itu kau."

__ADS_1


Kata Mbak Ukha,


Yanto bergidik, bagaimana bisa tiba-tiba Lukman tidak ada dan malah ada sosok lain di luar rumah.


Mbak Ukha lantas menyusul Ibu dan Bibik Nur ke depan, Yanto yang antara ingin memastikan memang di luar justeru ada orang lain bukan Lukman ingin ikut ke depan, tapi mengingat suara Lukman tadi, tatap matanya tadi, sungguh Yanto seperti melihat seseorang...


Ya...


Mirna.


Suara dan tatap matanya serupa Mirna saat sebulan sebelum kematiannya sering cekcok dengan Yanto perkara Winda.


"Mana Lukman? Tidak ada siapapun di sini."


Suara Ibu terdengar dari depan rumah.


Yanto menatap Tita yang tampak duduk di kursi meja makan dan santai melahap potongan puding yang diberikan Bibik Nur dari dalam kulkas.


Yanto beranjak dari ruang dalam dan hendak menuju ruang depan, manakala dilihatnya Ibu, Bibik Nur dan Mbak Ukha sudah kembali masuk.


"Tidak ada Lukman di luar, kamu pasti salah lihat Yanto."


Kata Ibu.


"Lho, salah lihat bagaimana Bu, kalau salah lihat itu pastinya seperti Mbak Ukha, yang hanya melihat sekilas dikiranya ada aku di teras depan."


Mbak Ukha terdiam, lalu...


"Iya Bu, tadi memang benar aku juga lihat ada yang duduk di teras depan, karena posisinya dia duduk menghadap rumah Bibik, dan aku lihat mobil Yanto di depan, jadi kupikir itu dia."


"Aku bukan hanya lihat Mbak, aku bicara dengannya, jelas dia bicara padaku."


Kata Yanto.


Ibu malah jadi mengomel.


Bibik Nur tampak mengangguk sependapat,


"Apa mungkin ada penampakan di jam masih sore begini."


Gumam Mbak Ukha, yang lantas duduk di samping Tita yang baru saja menghabiskan potongan pudingnya.


"Enak."


Kata Tita terlihat senang, senyumnya lebar pada semua orang dewasa yang ada di ruangan itu.


"Kau harus ke Nyi Parijem, Yanto."


Ujar Mbak Ukha akhirnya.


Yanto mengerutkan kening,


"Untuk apa? Aku sudah..."


Yanto nyaris saja keceplosan telah mendapatkan bantuan dari orang pintar kenalan Winda, tapi ia untungnya langsung ingat di sana ada Ibunya dan Bibik Nur.


"Benar kata Ukha, kau terlalu stres karena Mirna meninggal begitu mendadak seperti ini, jadi kamu harus minta dibantu orang pinter Yanto, minta saja air doa untuk diminum supaya kamu pikirannya bisa lebih tenang."


Ujar Bibik Nur memberikan saran,


Yanto menghela nafas, ia tahu jika tadi ia bukan sedang berhalusinasi, Yanto juga yakin sebetulnya Ibu dan Mbak Ukha serta Bibik Nur juga tahu bahwa situasi dan kondisi saat ini tidaklah seperti biasanya.


Jelas ada hantu di sekitar mereka yang seolah itu adalah Mirna.


"Bapak membuang foto Mama, pasti Mama marah."

__ADS_1


Kata Tita tiba-tiba,


Semua orang pun melihat ke arah Tita yang kini turun dari kursi ruang makan untuk berpindah naik tempat tidur depan TV yang masih ada di ruangan yang sama.


Ia naik ke tempat tidur dan duduk di samping adiknya yang tidur lelap.


"Foto? Foto apa?"


Ibu dan Bibik Nur hampir bersamaan.


Yanto diam membeku, ia sungguh tak menyangka Tita akan menceritakannya di sini sekarang.


Lalu...


"Foto Mama yang di ruang tamu dan kamar Bapak dibuang, disuruh temannya Bibik Winda yang jahat. Tita benci dengan Bibik Winda, dia jahat pada Mama, dia jahat pada Tita."


Kata Tita dengan ekspresi ingin menangis.


Bibik Nur yang tidak tega, akhirnya mendekati Tita dan duduk di sampingnya, merangkul anak kecil itu lalu mengusap-usap kepala Tita dengan penuh kasih.


"Jangan sedih, ada Nenek dan Bibik Nur di sini, tidak akan ada yang berani jahat pada Tita,"


Kata Bibik Nur menenangkan Tita.


Ibu dan Mbak Ukha menatap Yanto,


"Winda, kamu minta tolong pada Winda?"


Tanya Ibu pada Yanto.


Tampak Yanto sedikit gugup,


"Makam Mirna masih basah, tanahnya masih merah, apa mungkin benar kata Lukman bahwa kamu sendirilah yang membuat Mirna tidak tenang."


Kata Ibu.


Yanto menatap Ibunya,


"Bu, kenapa Ibu malah menuduhku yang bukan-bukan, Ibu tahu kan jika aku adalah satu-satunya orang yang sangat kehilangan Mirna."


Lirih Yanto,


"Kata Nyi Parijem, Mirna memang belum tenang karena ada masalah yang belum ia selesaikan. Jika memang masalah itu adalah dengan dirimu, maka itu berarti harusnya solusi adalah dari sisimu Yanto."


Ujar Mbak Ukha.


Yanto menatap kakaknya,


"Nyi... Nyi Parijem mengatakan hal itu? Kapan Mbak Ukha ke tempat Nyi Parijem?"


Tanya Yanto.


"Kemarin dulu, saat malam hari aku lihat Mirna datang, paginya aku langsung ke tempat Nyi Parijem."


Kata Mbak Ukha,


"Mb... Mbak Ukha melihatnya?"


Tanya Yanto merinding,


Mbak Ukha mengangguk.


Dan...


**---------------**

__ADS_1


__ADS_2