Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
31. Undangan Pak RT


__ADS_3

"Jadi, saya harus bagaimana maksudnya Pak RT?"


Tanya Yanto pada Pak RT.


"Ya nanti saya harap Pak Yanto juga ikut kumpulan warga Pak, mungkin kita juga akan melibatkan ustadz atau orang pinter yang bisa mengatasi ini."


Kata Pak RT.


Yanto mengangguk mengerti,


"Ya kabari saja Pak RT, kapan kira-kira mau kumpulannya, dan di mana tempatnya, nanti saya akan usahakan ikut."


Ujar Yanto.


Pak RT menganggukkan.


"Ya Pak, maaf ya Pak Yanto, bukannya saya dan warga ingin bersikap kurang sopan atau terkesan menuduh soal Bu Mirna."


Ujar Pak RT,


Yanto sekilas memaksakan senyuman, pandangan matanya terlihat menatap keluar rumah,


Terbayang kembali mimpinya semalam saat Mirna pulang dalam balutan gaun putih dan rambut panjang macam kuntilanak.


Rasanya bulu kuduk Yanto pun seketika merinding lagi.


Yanto menghela nafas, lalu...


"Jadi hanya itu kah Pak RT yang hendak panjenengan sampaikan?"


Tanya Yanto.


Pak RT menggeleng pelan,


"Ini Pak Yanto, saya ini dimintai tolong sama isteri, saudaranya lagi butuh pekerjaan, dia biasa mengurus anak kecil dulu di Jakarta, tapi sekarang dia tidak ingin bekerja terlalu jauh lagi, ini sih ya barangkali panjenengan berminat Pak Yanto."


Kata Pak RT.


"Orang mana Pak?"


Tanya Yanto,


"Kampung sebelah Pak Yanto, tapi kalau misalnya Pak Yanto inginnya dia menginap ya tidak apa-apa, nanti bisa pulang satu minggu sekali misal libur."


Kata Pak RT.


Yanto mantuk-mantuk,


"Ya nanti saya pikirkan Pak, kebetulan memang saya ingin anak saya yang bayi saya bawa pulang saja, kalau misal saudara isteri Pak RT bersedia merawat bayi, mungkin saya akan terima dia bekerja."

__ADS_1


Kata Yanto akhirnya memutuskan.


Pak RT tentu saja mengangguk senang,


"Tentu Pak Yanto, tentu, kan saya sudah bilang dia sudah biasa mengurus anak kecil di Jakarta, sejak gadis dulu dia bekerja di Jakarta jadi pengurus rumah dan bayi, sekarang tidak mau terlalu jauh."


"Oh ya baiklah Pak."


Yanto mengangguk,


Bersamaan dengan itu terlihat Tita kembali muncul, ia melongok dari balik dinding pintu yang memisahkan ruang dalam dan ruang depan,


"Pak, katanya mau ke rumah Nenek."


Kata Tita menagih,


Yanto yang mendengar suara Tita, tampak menoleh ke arah sang anak, lalu mengangguk,


"Iya... Iya..."


Sahut Yanto.


Pak RT yang paham telah mengganggu waktu Yanto akhirnya berdiri untuk pamit,


"Ya sudah Pak Yanto, terimakasih atas waktunya, nanti saya berkabar lagi, baik soal saudara isteri dan juga soal rencana kumpulan dengan warga guna membicarakan kemungkinan ada orang-orang di sekitar desa yang tengah melakukan ritual ilmu hitam hingga banyak hantu berkeliaran."


Pak RT mengulurkan tangannya dan Yanto pun menyambutnya dengan hangat.


"Bapak ambil dompet dan kunci mobil dulu."


Kata Yanto seraya berbalik ke arah kamar untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya.


Tita berjalan ke pintu utama, berdiri di sana seraya menatap pohon di depan rumah, mata Tita menangkap bayangan transparan yang berkelebat lalu menghilang di sudut pagar.


Tita mengerutkan kening, berusaha menerka apa kira-kira tadi yang ia lihat.


Mungkinkah hantu?


Tangan kecil Tita yang berada di daun pintu tampak sedikit gemetar membayangkan jika sosok transparan barusan adalah hantu.


Benarkah rumahnya sekarang angker?


Kenapa?


Apa karena tidak ada Mama?


Batin Tita,


**--------------**

__ADS_1


"Kira-kira apa ya yang dikatakan Nyi Parijem pada para bapak-bapak saat tadi menanyakan soal dua orang meninggal di kampung kita pada penampakan?"


Mbak Ukha seolah melempar pertanyaan untuk membuat pembicaraan di antara Ibu dan Bibik kembali ke soal Pak penjual kerupuk yang penampakan di depan banyak orang semalam.


"Kamu ini, jangan mengatakan seolah kamu ini orang lain kalau soal Mirna."


Kata Ibu mengingatkan,


Mbak Ukha menghela nafas,


"Kan aku hanya membahas soal kira-kira apa yang dikatakan Nyi Parijem, karena tadi para Bapak-bapak ingin langsung mendatangi Nyi Parijem sebagai kuncen kampung ini."


Mbak Ukha membela diri.


"Ya, tapi kamu tidak seharusnya menyebut ada dua orang di mana itu berarti juga kamu mengatai Mirna juga."


"Tapi kenyataannya memang iya kan Bu, dia bahkan mengganggu kita yang katanya sudah dianggap keluarganya."


Kata Mbak Ukha.


Bibik Nur lantas meraih dede Panji dari gendongan Ibunya Yanto,


"Kamu ini ada masalah apa sebetulnya dengan Mirna, sampai rasanya kok dari tadi sinis sekali dengan Mirna,"


Kata Bibik Nur yang lalu membaringkan dede Panji di atas tempat tidur yang ada di depan TV, tempat tidur yang biasa untuk tidur Lukman kini digelari perlak untuk tidur dede Panji.


"Aku bukannya sinis Bik."


Kata Mbak Ukha,


"Benar kata Bibikmu, kamu ini terkesan sekali tidak suka dengan Mirna, padahal waktu dia hidup sepertinya kamu biasa-biasa saja."


Ujar Ibu,


Mbak Ukha menghela nafas,


"Males Bu kalau ada sesuatu yang berlebihan, Ukha melihat Yanto berlebihan menangisi Mirna, Lukman juga berlebihan membela Mirna, dan Ibu... Ah coba lihat Ibu, sudah sepuh, jalan saja sudah harus hati-hari, malah sekarang ditambah beban mengurus anak bayi."


Kata Mbak Ukha.


"Lho, ini kan cucu Ibu, jelas Ibu harus mengurusnya, kamu ini bagaimana sih Kha..."


Mbak Ukha berdiri dari duduknya,


"Ibu terlalu meng anak emaskan Yanto sejak dulu,"


Keluh Mbak Ukha.


Dan...

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2