Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
51. Misteri Cincin


__ADS_3

"Haaa..."


Ibu melompat seketika, spontan karena tentu saja siapa yang suka diajak senyum orang sudah mati.


Tita tampak celingak-celinguk, ia seperti mencari sesuatu,


"Apalagi Ta? Apalagi..."


Mbak Ukha benar-benar dibuat olahraga jantung oleh Tita.


Tita menoleh ke arah Mbak Ukha, yang merupakan Uwaknya itu, lalu...


"Mama tiba-tiba hilang."


Kata Tita.


Mbak Ukha langsung tampak sok berani,


"Oh ya?"


Mbak Ukha yang semula ke sudut kasur kini beringsut lagi mendekati Tita.


Tampak gadis kecil itu tercenung, ia seperti memikirkan sesuatu yang sulit dimengerti oleh otaknya.


"Kenapa Mama kadang datang lalu menghilang?"


Gumam Tita lirih.


Ibu dan Mbak Ukha saling berpandangan, Mbak Ukha tentu tak mungkin mengulangi kesalahannya dengan mengatakan jika Mama Tita adalah hantu.


Meski kenyataannya demikian, tapi bagaimana mungkin seorang anak akan bisa menerima hal itu.


Bagi mereka, pastinya Mama adalah tetap seorang Mama. Mereka melihat sosok Mama tak lagi dalam bentuk wujud, namun mereka memang melihat sosok Mama dari jiwa.


Saat hati mereka nyaman, maka Mama akan berwujud seperti apapun mereka tak peduli.


Sementara itu, di ruang depan Yanto dan Lukman kini telah berada di depan pintu.


"Kau akan membukanya Mas?"


Tanya Lukman.


Suasana sudah kembali hening dan sepi.


Suara perempuan yang memanggil itu hanya sekali bersuara, lalu kini hening lagi.


Yanto menatap Lukman gusar, keduanya sepertinya dalam satu frekuensi yang sama.


Takut tapi penasaran, sebetulnya siapa yang ada di luar sana.


Benarkah itu Mirna?


Batin Yanto,


Ah Yanto kembali terbayang saat kejadian di supermarket tadi, saat hp nya tiba-tiba terjatuh, saat hpnya akan diambilnya tapi malah seperti ditendang seseorang agar terlempar semakin jauh.

__ADS_1


Dan...


Puncaknya, saat ia memarahi Tita, tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang jelas menamparnya dengan keras lalu wajah Mirna tiba-tiba saja muncul tepat di depan wajahnya.


Hanya sedetik, tapi itu sudah cukup membuat Yanto benar-benar takut.


"Maaaas... Ini aku... Ini aku... Mirna yang asli."


Suara itu kembali terdengar,


Yanto tampak tegang, tangannya sudah akan membuka pintu, tapi ketakutan yang langsung memuncak lagi membuatnya ragu.


Lukman menatap kakaknya, menunggu apa yang akan kakaknya kini lakukan,


Tapi...


Belum lagi Yanto bisa memutuskan akan membuka pintu atau tidak, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang sangat keras...


"Aaaaaa..."


Lalu tiba-tiba terdengar suara tawa melengking nyaring,


Tawa khas Kuntilanak yang baru dapat kocokan arisan di arisan RT.


Yanto dan Lukman pun akhirnya nekat membuka pintu rumah.


Tampak halaman rumah yang gelap itu kosong melompong, tak ada siapapun di sana.


Yanto dan Lukman tampak celingak-celinguk, mereka tak beranjak dari depan pintu karena takut tiba-tiba ada penampakan, maka jika dekat dengan pintu maka mereka akan mudah melarikan diri masuk lagi ke dalam rumah.


Hanya ada pepohonan-pepohonan rindang yang berdiri di sana.


Yanto menghela nafas, pun juga Lukman.


"Apa yang terjadi sebetulnya? Siapa yang menjerit tadi?"


Gumam Yanto lirih.


Hingga, tiba-tiba Lukman menepuk lengan Yanto,


Yanto pun seketika menoleh ke arah sang adik,


"Ada apa Man?"


Tanya Yanto.


Lukman menunjuk sesuatu yang berkilauan di pelataran depan teras.


"Apa itu Mas? Kau melihatnya kan? Sesuatu yang berkilau itu."


Ujar Lukman.


Yanto yang juga melihat tentu saja mengangguk,


"Kita ambil?"

__ADS_1


Tanya Lukman.


Yanto terdiam sebentar, mencoba memikirkan sebaiknya bagaimana.


Tapi...


"Jangan terlalu lama mikir, ayolah Mas, kita ambil, aku penasaran."


Kata Lukman.


Yanto menoleh ke arah pintu, tangannya masih memegangi daun pintu karena merasa takut.


"Ngg, kamu saja yang ambil, aku jaga pintu kalau nanti ada yang muncul, kita bisa langsung masuk rumah lagi."


Ujar Yanto.


Lukman pun akhirnya mengangguk, tentu saja karena alasan Yanto masuk akal, meskipun pastinya memang ada unsur lebih menguntungkan bagi diri Yanto sendiri.


Lukman lantas pelahan menyeret langkahnya, ia tampak berjalan mendekati benda yang berkilau-kilau di pelataran rumah.


Sampai kemudian akhirnya Lukman dekat dengan benda itu, yang kemudian diketahuinya adalah sebuah cincin.


Lukman meraih cincin itu, ia lantas membawanya kepada Yanto sang kakak untuk menunjukkan cincin yang ia baru saja ia ambil.


"Cincin."


Kata Lukman, yang lantas memberikannya pada Yanto.


Tampak Yanto yang menerima cincin itu seketika wajahnya menjadi pucat pasi...


"Ba... bagaimana bi... bi... sa..."


Yanto tergagap luar biasa,


"Apa Mas? Apa yang bisa?"


Yanto panik luar biasa, ia lari seperti kesetanan masuk ke dalam rumah.


Lukman yang bingung akhirnya menyusul masuk, saking bingungnya ia sampai lupa menutup pintu.


Lukman sudah ada di tengah pintu pembatas ruang dalam dan ruang depan, saat kemudian ia akan kembali lagi guna menutup pintu,


Namun tiba-tiba...


Krieeeet, brug...


Ceklek ceklek...


Pintu itu secara ajaib menutupi sendiri, mengunci sendiri.


Lukman takjub sekaligus takut, apalagi ketika ada semilir angin yang entah dari mana asalnya.


Semilir angin beraroma bunga mawar dan melati, yang tak terlalu pekat, hanya samar-samar saja.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2