
Malam itu, rasanya adalah malam tanpa mengantuk untuk Mbak Ukha dan Lukman.
Keduanya karena diusir Ibu bicara soal hantu terus menerus, akhirnya terpaksa pindah rapat ke ruang depan rumah.
Mereka duduk di sana bersama sambil minum kopi dan kletikan kacang kulit.
Ini adalah kali pertama Lukman dan Mbak Ukha seolah sama-sama mulai satu pendapat. Merasa tak begitu jauh dalam pendapatnya.
"Ya berarti jalan satu-satunya memang menanyakan semuanya pada Nyi Parijem, Mbak. Kita juga harus memperhatikan, soal kenapa Mbak Mirna tetap bisa masuk ke dalam rumah, jika Nyi Parijem telah membuatkan tumbal untuk rumah ini. Apa hanya Mbak Mirna, atau justeru hantu lain juga bisa masuk."
Kata Lukman.
Mbak Ukha mengangguk,
"Ya Man, kau benar, ini sangat membingungkan, karena mengingat tumbal yang harusnya bisa menghalangi siapapun mahluk halus masuk, malah jadi bisa ditembus hantu. Sudah jelas tadi Mbak sadar, pulang dari warung ada Bibik Nur di kamar, ternyata Bibik ada di belakang, begitu Mbak pindah ke ruang tengah, ada dua tangan di bahu Mbak, dan suara bisikan yang memberitahu jika yang gentayangan mengganggu warga itu bukan Mirna."
Tutur Mbak Ukha,
Lukman mengangguk,
"Aku juga sejatinya tak terlalu percaya Mbak Mirna gentayangan mengganggu orang yang tidak ada hubungannya dengan Mas Yanto, jika toh ia memang ingin menyelesaikan masalah sebagaimana yang dikatakan Nyi Parijem, harusnya memang ia akan datang hanya pada kita dan juga pada Mas Yanto, bukan?"
Lukman menatap Mbak Ukha yang mengangguk setuju.
"Dan juga, penampakan wajah rusak dan sebagainya itu juga kan tidak masuk akal, Mirna bukan meninggal dalam kondisi kecelakaan, dia baik-baik saja."
Gumam Mbak Ukha lirih,
Lukman menatap Mbak Ukha, lalu...
"Mbak..."
Panggil Lukman.
Mbak Ukha mengangguk.
"Ya Man, ada apa?"
Tanya Mbak Ukha.
"Kenapa Mbak Ukha selama ini kelihatannya tak suka pada Mbak Mirna, tapi sekarang mulai ingin membela Mbak Mirna?"
Tanya Lukman akhirnya penasaran.
Meskipun memang, kadang kakak ipar perempuan, atau adik ipar perempuan tak menyukai isteri-isteri saudara laki-lakinya seolah sudah hal biasa, entah karena kenapa, tapi buat Lukman, hal ini lumayan mengganggunya. Paling tidak, ini juga bisa jadi alasan kelak ia bisa memilih isteri yang semoga dapat diterima keluarganya semua, tanpa terkecuali.
"Mas mu."
Kata Mbak Ukha,
"Mas Yanto?"
Tanya Lukman.
Mbak Ukha menggeleng,
"Bapaknya anak-anak, suamiku."
Ujar Mbak Ukha.
__ADS_1
"Ooh, kenapa?"
Lukman menatap Mbak Ukha lebih lekat,
Mbak Ukha menghela nafas, lalu ia sejenak menoleh ke arah pintu kamar depan, di mana Tita di sana tertidur, setelah memastikan anak itu masih lelap dan tak mungkin mengintip untuk juga ikut menguping pembicaraan Mbak Ukha dan Lukman, maka Mbak Ukha pun melanjutkan.
"Suamiku pernah berkunjung ke kos Yanto, saat kami ingin membantunya dengan mengirimkan beberapa cemilan dan sejumlah uang saku. Sudah biasa kan kamu tahu itu."
Kata Mbak Ukha.
Lukman mantuk-mantuk.
"Satu hari, suamiku datang, dan di kos katanya ada perempuan, dia katanya pacar Yanto, baru berkunjung katanya, berkenalan dan dia bilang namanya Mirna."
Lukman tampak membentuk mulutnya seperti huruf O,
"Tapi, karena penampilan Mirna seperti orang yang tidak baru datang, melainkan seperti sudah menginap di sana, maka suamiku bertanya pada salah satu tetangga kos Yanto, dan katanya Mirna sudah sering menginap di sana."
"Lho, apa tidak masalah dari pemilik kos dan tetangga kos nya Mbak?"
Tanya Lukman,
Mbak Ukha mengedikkan bahu.
"Kamu lebih muda, pastinya lebih tahu bagaimana perkembangan dunia ini,"
"Tapi kan Mas Yanto kuliah itu sudah lama, sudah lebih dari lima belas tahun lalu."
Kata Lukman.
"Tapi itu nyatanya."
Ujar Mbak Ukha.
Kata Mbak Ukha.
"Lalu, sejak ia menikah dengan Yanto, tak satupun keluarganya yang jelas datang, kita tak pernah tahu kan siapa keluarganya, dia bisa bilang keluarganya jauh, tapi juga tidak tahu benar apa tidak. Belum lagi masalah hutang yang pernah Mbak bahas, jadi ya intinya Mbak tidak suka Mirna, karena dia sebetulnya tak sebaik itu, tapi dipuji-puji macam dia baik sempurna. Yanto, kamu, dan Ibu, sama saja."
Kata Mbak Ukha.
Lukman cekikikan,
"Tapi dia sebagai orang baru dalam keluarga nyatanya kan memang baik Mbak, kalau urusan dia tadinya misalnya perempuan yang misal pergaulan bebas itukan urusan dia."
Kata Lukman.
"Ya itu menurutmu, tapi buat Mbak, itu tetaplah tidak Mbak sukai."
Sahut Mbak Ukha.
"Lalu, kenapa sekarang Mbak Ukha ingin belain Mbak Mirna?"
Tanya Lukman.
Mbak Ukha menggeleng,
"Entahlah, mungkin karena Mbak juga tahu rasanya difitnah, dulu kan pernah Mbak ada masalah difitnah sama teman di sekolah, katanya setiap tes sudah dapat kunci jawaban, hanya begitu saja rasanya gondok setengah mati."
Kata Mbak Ukha.
__ADS_1
Lukman mengangguk,
"Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan,"
Lirih Lukman.
"Tapi..."
Lanjut Lukman,
"Tapi kira-kira, siapa sebetulnya hantu itu? Dan kenapa dia fitnah Mbak Mirna? Apa ini ada hubungannya dengan manusia, seperti yang tadi aku bilang Mbak, apa mungkin ini ada hubungannya dengan manusia yang tidak suka pada Mbak Mirna diam-diam?"
Lukman menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu menatap langit-langit rumah,
"Itu memang harus Nyi Parijem, Man. Mungkin besok sebaiknya, Mbak minta dipanggilkan Mirna agar bisa berinteraksi dengan kita."
Kata Mbak Ukha.
"Ya, akan lebih baik begitu Mbak, karena dengan begitu mungkin semua bisa lebih gamblang, kita juga tidak menerka-nerka kan? Karena kadang kalau kita menerka tidak benar juga jatuhnya fitnah lagi nanti."
"Ya Man, kamu benar."
Kata Mbak Ukha, lalu menyeruput sisa kopinya yang tinggal sedikit.
Diam.
Hening.
Mbak Ukha dan Lukman sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing,
Lalu...
Lukman tiba-tiba teringat soal Winda yang menelfon Yanto, dan pembicaraannya dengan Tita saat di warung nasi goreng dekat klinik.
"Winda, ya Mbak Winda... Mungkinkah dia?"
Tiba-tiba Lukman berkata, memecah keheningan antara dirinya dan Mbak Ukha,
"Ada apa dengan Winda?"
Tanya Mbak Ukha.
"Tita bilang, Mbak Winda membawa seorang teman ke rumah Mas Yanto, lalu membuang semua foto Mbak Mirna beberapa hari lalu."
"Hah?"
Mbak Ukha ternganga,
"Kenapa?"
Tanya Mbak Ukha,
"Entah. Tita menangis dia bilang Mbak Winda jahat."
Kata Lukman.
Dan...
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba tercium aroma bunga kantil yang begitu terasa menyengat...
__ADS_1
Lukman dan Mbak Ukha kemudian...
**-------------**