Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
52. Pertemuan


__ADS_3

Winda di dalam rumah tampak ketakutan di sudut ruangan, ia seperti orang mau gila.


Ia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya seraya meremat rambut kepalanya dengan kedua tangan.


"Tidak! Tidak!!"


Winda entah sudah berapa kali ia mengatakan itu.


"Wajah itu, jelas wajah itu ada mendiang isteri Mas Yanto, dia berusaha mencelakaiku, dia berusaha mencelakaiku."


Winda kembali bergumam tak jelas,


Sepertinya ia benar-benar syok dengan penampakan Mirna di jalan, kaki dan tangan Winda yang sedikit terkilir, bahkan terkalahkan oleh rasa takut yang teramat menghantui nya.


Dan kemudian, Winda seolah kembali teringat dengan kata-kata Pak Sono.


"Jangan dipaksakan, nanti akan ada banyak musibah, nanti ada celaka, laki-laki ini diikuti karma masa lalu, kalau panjenengan maksa, panjenengan juga nanti ikut menikmati."


Kata Pak Sono.


"Tapi, bagaimanapun dia adalah satu-satunya laki-laki yang seharusnya menikahi saya, dia yang pertama kali mendapatkan saya, sudah seharusnya dia bertanggungjawab atas saya sepanjang hidupnya."


Kata Winda.


"Masalahnya kan bukan panjenengan saja, bagaimana dengan yang lain?"


Tanya Pak Sono.


"Yang lain mana? Yang lain siapa? Isterinya sudah mati, jika dia jadi hantu, itu jelas Pak Sono bilang bisa mengatasinya."


Kata Winda.


Pak Sono terkekeh sambil menunduk,


"Kenapa malah Pak Sono tertawa? Ini jelas tidak lucu Pak Sono, saya sedang takut Mas Yanto pergi lagi dan melepaskan saya lagi, tapi Pak Sono malah seperti ini."


"Bukan begitu Mbak Winda... Bukan begitu, saya ini bukan sedang tertawa soal panjenengan, saya ini tertawa karena keadaan ternyata jauh lebih rumit daripada apa yang saya bayangkan."


Kata Pak Sono pula.


"Mak... maksudnya?"


Winda menatap Pak Sono.


"Nanti saya akan kasih tahu kalau saya sudah memastikan mereka itu sebetulnya siapa."


Ujar Pak Sono.


"Mereka?"


Winda tak habis pikir, sebetulnya Pak Sono ini bicara soal apa?


Mereka?


Mereka siapa?


Mereka apa?


Winda duduk semakin ke sudut, ia takut sekali Mirna tiba-tiba muncul di depannya saat ini,


Tadi saat Winda diantar pulang oleh orang saja, Ibunya sudah histeris karena tahu anaknya habis kecelakaan.


Padahal hanya kecelakaan kecil, hanya sedikit terkilir saja, tak sampai luka-luka, tak sampai lecet-lecet.

__ADS_1


Winda lantas menatap jam dinding kamarnya, yang kini bergerak mendekati pukul dua dini hari.


Suasana benar-benar sepi, ia harusnya tidur dan bangun esok hari, tapi nyatanya mata seolah tak mau terpejam sama sekali, tak ingin tidur sama sekali, bahkan mengantuk pun rasanya tidak.


Winda hanya merasa lelah, tapi itupun tak seberapa terasa dibandingkan rasa takut di dalam dirinya.


Ya...


Takut.


Mirna pasti marah karena fotonya dibuang. Atau Mirna sebetulnya masih mendendam soal hubungannya dengan Yanto di belakangnya sebelum kematiannya?


**------------**


Lukman duduk di kursi makan, ia menatap pintu kamar belakang yang ditempati Yanto kini tertutup rapat.


Yanto sejak lari membawa cincin yang ditemukan di depan rumah tak juga tampak keluar hingga saat ini.


Lukman sejatinya sangat penasaran, kenapa hanya karena cincin saja kakaknya ketakutan setengah mati.


Tita sendiri sudah masuk ke kamar bersama Mbak Ukha di kamar tengah, pun juga Ibu dan dede Panji.


Mereka memutuskan tidur satu kamar di tengah, dengan Mbak Ukha dan Tita menggelar kasur di bawah.


Kamar depan dikosongkan, Lukman akan tidur di kasur depan TV.


Ada apa sebetulnya?


Lukman betul-betul tak mengerti.


Ah sebentar...


Lukman tiba-tiba teringat kejadian saat pintu rumah menutup sendiri, dan aroma bunga yang mengikutinya, yang sempat tercium lalu menghilang itu, apa mungkin itu Mbak Mirna yang asli?


Jadi...


Lukman berdiri, ia seperti seorang penting yang tengah memikirkan nasib bangsa dan negara.


Hingga...


Tumbal.


Tumbal Nyi Parijem, apa isinya?


Lukman lantas bergegas berjalan ke ruang depan, ia ingat Mbak Ukha meletakkan tumbal itu di kisi-kisi atas jendela dekat pintu.


Lukman menggeret kursi agar lebih dekat dengan jendela yang memang cukup tinggi itu, ia naik ke atas kursi, lalu berdiri dan mengambil buntelan kain kafan di sana.


Penasaran Lukman membukanya, ada tulisan arab dan tulisan hanacaraka.


Lukman keduanya tak begitu bisa, apalagi tulisan arab itu tak ada harokatnya. Kalau orang biasa bilang tulisan arab gundul.


Lukman mengerutkan kening, setelah itu ia berusaha membaca yang huruf hanacaraka saja, ada satu baris yang ia bisa baca.


Mirna.


Ya Mirna...


Lukman yakin itu tulisan dengan bunyi kata Mirna.


Apa ini maksudnya tumbal justeru untuk rumah Mbak Mirna?


Tumbal itu adalah berisi penjaga, Nyi Parijem membuat Mbak Mirna justeru memiliki rumah.

__ADS_1


Batin Lukman meraba-raba, mengira-ngira.


Lukman lantas membuntelnya lagi, lalu meletakkan di tempat semula.


Sampai kemudian ia kembali merasakan semilir angin dingin yang entah datang dari mana.


Semilir angin yang membawa aroma bunga mawar dan melati yang aromanya saat ini jauh lebih kuat.


Seiring dengan itu, tirai di kamar depan meriap-riap, dan Lukman dengan jelas melihat sosok seperti berdiri di sana.


Ya...


Di balik tirai kamar, di dalam kamar depan rumahnya, di mana kamar itu kini lampunya padam.


Sosok itu berdiri di sana.


Hanya bagian bawah yang terlihat, tidak dengan wajah.


"Dia bukan aku Maaan... Dia bukan aku... Aku hanya datang untuk melindungi anakku, dan menyelesaikan urusanku dengan Mas Yanto..."


Suara itu seperti menggema.


Lirih tapi menggema di telinga.


Lukman turun dari kursi dengan kaki lemas, matanya terpaku pada sosok di balik tirai kamar depan rumah.


"Mba...k... Mbak Mirna, kau... kah itu?"


Lukman memberanikan diri bertanya.


"Jagakan Tita, Maaaan... Jagakan Titaaa..."


Kata suara itu lagi.


"Iya Mbak... Iya... Pasti aku akan menjaga Tita."


Jawab Lukman,


"Ini kau kan Mbak... Ini Mbak Mirna kan?"


Lukman mengulang tanya.


Ia ingin tahu, jelas ia ingin tahu.


Tirai kamar kemudian meriap-riap lagi, lalu, pelahan tirai itu bergeser ke samping kanan, pelaaan...


Lukman menatap tirai itu dengan gemetaran, meski jika ia membayangkan sosok Mbak Mirna, kakak iparnya yang baik, tentu ia tak jadi takut,


Tapi mengingat Mbak Mirna telah meninggal, jelas ia sadar jika yang ada di depannya itu sudah bukan Mbak Mirna yang sama.


Ia adalah hantu...


Tapi...


Lukman terhuyung ke samping, tangannya cepat meraih dinding agar tak sampai jatuh.


Tampak kini Mbak Mirna yang serupa kuntilanak berdiri di pintu kamar depan.


Wajahnya pucat pasi, rambutnya menjuntai ke bawah, selaras dengan panjang gaun putihnya.


Mata Mbak Mirna tampak kosong, menatap lurus tapi tak tahu menatap apa.


Lukman antara takut dan iba melihat kakak ipar yang sudah macam kakaknya sendiri itu kini terlihat begitu mengerikan sekaligus menyedihkan baginya.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2