Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
71. Selamat Tinggal


__ADS_3

Matahari telah condong ke barat, saat proses penggalian tanah kebun belakang rumah dukun bayi yang menjadi tempat Mirna diaborsi akhirnya mulai dilakukan.


Tentu saja, proses untuk mendapatkan ijin dari dukun bayi agar bisa menggali tanah kuburan Mirna tidaklah semudah yang dibayangkan.


Penolakan keras dan juga usaha menciptakan kegaduhan dilakukan si dukun bayi karena takut akan terseret kasus hukum.


Meski sebelumnya, rencana keluarga Yanto bukanlah untuk membuat kasus ini menjadi kasus hukum, tapi nyatanya, pada akhirnya karena si dukun bayi terus berusaha mencoba menghalangi Yanto dan rombongan mendapatkan jenazah Mirna, mau tidak mau akhirnya Munir melaporkan kasus ini ke kantor desa setempat, yang pada akhirnya pihak desalah yang meminta pertolongan pihak kepolisian.


Ya...


Karena kebetulan memang si dukun bayi telah dicurigai lama membuka praktek aborsi di mana pelanggannya banyak dari anak-anak muda yang sering dijumpai warga datang ke tempat si dukun bayi pada malam hari, maka tentu saja momen inipun dijadikan aparat desa dan warga sekalian untuk menggrebek tempat si dukun bayi.


"Sekarang kau sudah bisa tenang Mirna, sebentar lagi kau akan ditemukan dan bisa dimakamkan dengan layak, kini tinggal aku memastikan Mas Yanto tak akan menikahi Winda."


Lirih Marni di samping Mirna.


"Yanto tidak akan menikahi Winda."


Kata Mirna.


Marni menatap Mirna,


"Kenapa kau begitu yakin? Winda bisa saja akan datang lagi pada..."


"Tidak."


Kata Mirna lagi.


"Kau tak usah khawatir, dia tak akan bisa menyentuh suami dan anakmu lagi."


Ujar Mirna.


Dua sosok perempuan itu melayang ke atas pohon, di mana kini orang-orang di bawah sana mulai sibuk menggali di tempat yang ditunjukkan si dukun bayi.

__ADS_1


Nyi Parijem juga ada di sana, dengan mulut komat-kamit untuk memagari proses pengangkatan jenazah Mirna yang pastinya sudah lama hancur.


Hingga pukul setengah tujuh petang, ketika akhirnya mereka menemukan satu tengkorak kepala manusia, yang akhirnya tentu saja ini kemudian menjadi bukti si dukun bayi memang telah melakukan tindakan kriminal.


Tengkorak kepala Mirna dan tulang-belulang tubuh Mirna yang masih tersisa diangkat ke atas.


Proses pengangkatan bahkan Yanto sendiri yang meminta turun ke bawah.


Mirna yang melihat Yanto sampai melakukan semuanya untuk dirinya seperti itu menangis tersedu-sedu, air mata yang bercampur darah itu kembali membasahi wajahnya.


Andai ia tak perlu aborsi, andai ia tak perlu takut hidup susah, andai ia bisa lebih jujur dan percaya bahwa masa depan pasti akan lebih baik, pastinya ia kini sudah bahagia hidup dengan Yanto.


Nyi Parijem di bawah sana menatap kedua kunti yang kini ada di atas pohon dekat tempat digalinya bekas Mirna dikubur seadanya.


"Tugasku sudah selesai, sebentar lagi, kau akan dimakamkan, dan kau juga sudah tak ada hutang janji pada saudaramu, kau sudah jujur pada suamimu, dan kau tak usah khawatir dengan anak-anakmu lagi karena sudah jelas perempuan jahat itu kini depresi."


Kata Nyi Parijem lewat batinnya pada kedua mahluk tak kasat mata itu.


Mirna dan Marni pun mengangguk, mereka tersenyum pada Nyi Parijem seolah mengucap terimakasih.


Dua hari berselang, tengkorak dan tulang-belulang Mirna akhirnya dimakamkan di samping makam Marni sesuai ide Mbak Ukha.


Setelah proses pemakaman selesai Tita diajak Mbak Ukha datang ke sana untuk memberikan bunga khusus untuk Marni, Ibunya, dan juga untuk Mirna, Bibik kecilnya.


"Nanti, sampai Tita besar, seringlah mengunjungi Mama dan Bibik di sini, Tita janji kan?"


Tanya Mbak Ukha.


Tita mengangguk,


"Janji."


Ucap Tita.

__ADS_1


Yanto sendiri tampak berdiri tak jauh dari kedua makam perempuan yang sama telah mengisi kehidupannya dengan cara yang berbeda.


Yanto berurai air mata, karena ia tak sempat membahagiakan kedua perempuan itu, malah justeru saat bersama lebih banyak menyakiti mereka.


"Yan... Yanto..."


Tiba-tiba terdengar suara Rahmat memanggil, Yanto menoleh ke arah Rahmat yang tergopoh-gopoh berjalan menuju Yanto, Munir dan Lukman yang masih ada di sana pula terlihat ikut menoleh ke arah Rahmat, termasuk juga Tita dan Mbak Ukha.


"Ada apa?"


tanya Yanto.


"Yan, gawat."


Rahmat terlihat pasang wajah panik,


"Gawat apa?"


Munir ikut penasaran.


"Winda... Winda ditemukan meninggal gantung diri di Rumah Sakit,"


Kata Rahmat.


Dan...


"Apaaaa?"


Semua tampak terkejut.


Bersamaan dengan itu, sekelebat bayangan perempuan terlihat di belakang Yanto.


"Mas... Mas Yantooo..."

__ADS_1


Perempuan berambut panjang itu berwajah sangat pucat, dengan kepala sedikit miring dan mata agak melotot.


---------- S E L E S A I -------------


__ADS_2