
Malam akhirnya berakhir sudah, berganti pagi yang di hiasi sinar mentari yang cerah.
Mbak Ukha tampak baru saja membuat wedang teh dan akan bersiap keluar rumah untuk beli nasi uduk.
"Kha, sekalian nanti belikan obat sakit kepala Kha di warung."
Kata Ibu pada Mbak Ukha manakala dilihatnya Mbak Ukha akan pergi.
"Yang biasa kan Bu?"
Tanya Mbak Ukha memastikan.
Ibu mengangguk,
Dede Panji di dalam kamar tampak sedang diganti baju dan popoknya oleh Bibik Nur, ditemani Tita yang memang selalu dekat dengan Bibik Nur.
"Tita mau ikut Uwak tidak?"
Tanya Mbak Ukha pada Tita sambil menyingkap tirai pintu kamar, tampak Tita menggeleng,
"Tita di rumah saja sama dede Panji."
Jawab Tita,
Mbak Ukha pun mengangguk,
Tampak Mbak Ukha menutup tirai pintu kamar lagi, lalu berjalan mendekati tempat tidur depan TV, di mana Lukman saat ini tampak masih tidur pulas di sana.
Mbak Ukha mengambil kunci motor di rak dekat tempat tidur, lalu ia berjalan menuju ke ruang depan untuk kemudian keluar dari rumah.
"Paman, mau titip beli apa?"
Tanya Mbak Ukha saat Melihat Pamannya, yaitu suami Bibik Nur tengah duduk di depan rumah sambil minum kopi,
"Tidak ada Kha."
Jawab Paman,
"Barangkali mau titip beli buat sarapan, mau sarapan apa Paman, nanti sekalian beli."
Ujar Mbak Ukha pula, tapi sang Paman menggelengkan kepalanya,
"Tidak usah Kha, Paman setiap pagi minum kopi sama rokok satu batang juga sudah cukup."
Kata Paman.
Mbak Ukha pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di mana-mana laki-laki memang begitu, tidak tua tidak muda, tampaknya sarapan pagi yang wajib bagi mereka adalah rokok dan kopi.
Mbak Ukha akhirnya berjalan menuju motornya, ia berencana akan beli nasi uduk, setelah itu mampir ke warung Emaknya Junaedi untuk beli obat sakit kepala untuk Ibunya.
"Monggo Paman, tek beli nasi uduk dulu."
Kata Mbak Ukha pada Pamannya, tampak Paman mengangguk,
Mbak Ukha menyalakan mesin motornya dan kemudian melaju meninggalkan halaman rumahnya.
Sang Paman tampak kembali menyeruput kopinya, sambil sibuk menikmati rokoknya yang tinggal setengah batang.
Ada yang sedang Paman pikirkan, yaitu suara tadi malam yang ia dengar.
Suara seperti dua perempuan bertengkar, suaranya seperti berada di dalam gang antara rumah Paman dan rumah keluarga Yanto.
Ya, gang kecil buntu yang tidak mungkin ada orang malam-malam berada di sana.
Sementara itu, Ibu di dalam rumah membangunkan Lukman karena anak bungsunya itu tidur sampai mendengkur saking pulasnya.
__ADS_1
Tidak masalah tentu saja jika hari masih malam, tapi berhubung sekarang sudah jam tujuh lebih, maka Ibu pun membangunkan Lukman.
"Aduh Bu, masih ngantuk ini."
Kata Lukman.
Ibu menabok kaki Lukman,
"Cepat bangun, sudah jam tujuh lebih, mandi, lalu nanti sarapan, terus ke tempat Nyi Parijem."
Kata Ibu,
Lukman membuka matanya pelahan, dilihatnya jam di dinding ruangan yang ada di atas TV benar sudah jam tujuh lebih.
Dengan masih sedikit enggan, Lukman pun bangun dari tempatnya tidur, ia duduk selonjor sebentar untuk mengumpulkan seluruh nyawanya.
"Pergilah ke Nyi Parijem, kakakmu dari tadi tidak mau keluar kamar."
Kata Ibu.
Lukman menatap Ibunya,
"Mbak Ukha?"
Tanya Lukman,
Ibu menggeleng,
"Yanto, dia tidak mau keluar kamar, meringkuk saja di atas kasur."
Kata Ibu.
Lukman mengerutkan keningnya, ia lantas ingat semalam sempat bertemu dengan kakak iparnya.
Seperti antara sadar dan tidak, Lukman benar-benar melihat sosok Mbak Mirna, yang sempat menitipkan anaknya untuk Lukman ikut jaga.
"Mbak Mirna."
Ibu menatap Lukman,
"Apa? Kamu bicara apa?"
Tanya Ibu.
Lukman terlihat memasang wajah serius,
"Mbak Mirna titip Tita dan Panji, aku rasa ia kembali hanya karena belum benar-benar mau meninggalkan anak-anaknya saja Bu."
Kata Lukman,
Ibu menghela nafas,
"Tentu saja, perempuan mana yang ingin meninggalkan anaknya, kecuali yang sinting saja."
Kata Ibu,
"Tapi..."
Ibu menggantung kalimatnya sebentar,
"Tapi dia bukan lagi manusia Man, jika dibiarkan terus, kasihan anak-anaknya juga. Apalagi..."
Ibu diam kembali sebentar, lalu...
"Yanto juga sepertinya jadi depresi, Ibu takut dia jadi gila. Ah tidak! Ibu tak mau itu terjadi, dia masih muda, anaknya masih kecil-kecil."
Ujar Ibu pula.
__ADS_1
Lukman menghela nafas,
"Aku tahu,"
Kata Lukman,
"Dan lagi, aku memang harus bertemu Nyi Parijem hari ini."
Tambah Lukman pula, meskipun kali ini suaranya tak terlalu jelas terdengar oleh Ibu, seperti hanya bisikan saja,
Ya...
Tentu saja, Lukman memang harus menemui Nyi Parijem karena ada banyak sekali tanya yang ingin ia ajukan padanya.
Kenapa tumbal yang dipasang ditulis nama Mirna, lalu benarkah ada dua hantu yang berwajah kakak iparnya, jika ya, maka hantu dari mana dia, atau apa mungkin ada keterlibatan manusia?
Lukman kemudian turun dari tempat tidur yang ada di depan TV itu, bersamaan dengan Bibik Nur keluar dari kamar membawa handuk dan juga tumpukan popok dan kain kotor yang kena ompol dede Panji.
"Tek tinggal sama Tita sebentar Mbak, aku cuci ini dulu."
Kata Bibik Nur pada Ibunya Yanto,
Lukman yang juga akan mandi akhirnya berjalan bersama Bibik Nur ke belakang rumah.
"Semalam katanya pintu rumah digedor-gedor dari luar?"
Tanya Bibik Nur pada Lukman saat keduanya berjalan menuju ke belakang rumah.
"Iya Bik, memangnya Bibik tidak dengar?"
Lukman balik tanya.
Bibik Nur menggeleng,
"Jam berapa memangnya? Kalau semalam hampir subuh, sekitar jam tiga apa berapa gitu, Pamanmu yang dengar katanya seperti ada dua perempuan bertengkar di gang buntu di tengah rumah kita itu."
Tutur Bibik Nur,
"Dua perempuan?"
Tanya Lukman,
Bibik Nur mengangguk,
"Ya Pamanmu tadi pagi subuh cerita, katanya kok kayak dengar ada dua perempuan ribut, tapi tidak jelas ribut soal apa, suaranya jelas ada di gang buntu, tapi Pamanmu tidak bisa menangkap yang diributkan mereka apa."
Kata Bibik Nur,
Lukman terdiam,
Dua perempuan?
Mungkinkah itu memang pertanda jika apa yang didengar Mbak Ukha tentang ada dua hantu memang benar adanya.
Ya...
Memang Lukman juga tahu jika Mbak Mirna tidak mungkin gentayangan tak jelas juntrungnya.
Penampakan di mana-mana, bahkan seperti sengaja membuat seluruh warga desa terteror.
Tidak!
Lukman yakin Mbak Mirna sekalipun sudah jadi hantu tak mungkin seperti itu.
Ia perempuan yang terlalu baik untuk melakukan hal-hal seperti itu.
"Kalau tidak percaya, coba nanti kamu tanya saja sendiri pada Pamanmu, nanti pasti dia akan cerita. Tanya saja, apa yang paling ia ingat dari tadi malam, satu kata saja yang ia dengar, mungkin saja ia sempat tahu."
__ADS_1
Ujar Bibik Nur.
**------------**