
Winda menjalankan motornya bukan menuju rumahnya sendiri, melainkan ke rumah Pak Sono.
Namun, untuk menuju ke rumah Pak Sono yang letaknya ada di desa sebelah, Winda yang penasaran sebetulnya Yanto ada di mana, akhirnya sengaja melewati rumah Ibunya Yanto.
Winda berharap, di sana ia melihat mobil Yanto terparkir, hingga nanti ada alasan untuk ia mampir dan akhirnya bisa langsung bertemu dengan Yanto.
Perempuan itu tampak mempercepat laju motornya, ia melewati rumah Yanto yang tampak sepi dan halamannya juga tampak kosong tak ada satupun kendaraan terparkir.
Baik motor Lukman, maupun mobil Yanto, semuanya tak ada di sana.
Winda menghela nafas, terlihat sekali wajahnya mengisyaratkan kekecewaan.
Winda meneruskan laju motornya ke arah jalan raya utama, di mana di sana nantinya ia akan langsung ambil arah jalan pintas untuk sampai ke rumah Pak Sono.
Mirna tetap duduk di belakang Winda, ia kini harus tahu, sebetulnya apa lagi yang akan dilakukan perempuan ini.
Hingga, Winda melewati jalan pintas menuju rumah Pak Sono, yang di mana saat ada di ujung jalan tersebut, yang letaknya cukup dekat dengan rumah Pak Sono, Mirna melihat seperti ada seorang laki-laki tinggi besar, tingginya setara dengan pohon kelapa.
__ADS_1
Saking tingginya, Winda yang melaju menggunakan motonya terlihat seperti melaju melintasi dua pasang kaki laki-laki itu, di mana kaki kanan dan kiri laki-laki itu memang berada di sisi jalan yang berbeda.
Mirna melayang dari boncengan Winda, begitu melihat sepasang mata laki-laki tinggi besar itu menyala merah seperti marah luar biasa terhadap Mirna.
"Mau apa kau ke sini hantu asing?!"
Tanya laki-laki tinggi besar tersebut, matanya yang menyala itu tajam menghujam, seolah ia memang sama sekali tak suka dengan keberadaan hantu Mirna di sana.
"Tolong, ijinkan aku mengikuti perempuan itu, dia telah menjahatiku, dia juga pasti akan menjahati anakku,"
Ujar Mirna setengah memohon,
Mirna tahu bahwa mahluk di hadapannya saat ini bukanlah seperti hantu kelas teri yang banyak ia temui di jalan-jalan desa.
Hantu penunggu ricemill, hantu penunggu gedung sekolah, hantu penunggu pohon beringin tua, dan masih banyak lainnya, yang termasuk ada di rimbun pohon bambu di tanah-tanah kebun sepanjang perkampungan, ada juga hantu dekat makam, semuanya hanyalah hantu yang tak terlalu berbahaya.
Mereka hanyalah sesama hantu yang tak memiliki kekuatan maupun juga kekuasaan.
__ADS_1
Tapi...
Yang Mirna hadapi kali ini, jelas dia bukanlah hantu yang Mirna biasa temui, meski mungkin kelasnya belum seperti Banaspati, tapi Mirna tetap bisa merasakan hawa panas di sekitarnya saat ini berhadapan dengan makhluk itu.
"Urusanmu dengan manusia itu bukan urusanku, di sini aku hanya bertugas menjaga wilayah kekuasaan Pak Sono, majikanku yang tak ingin wilayahnya dimasuki oleh hantu-hantu receh manapun,"
Kata si laki-laki tinggi besar yang terlihat semakin bertambah besar,
Mirna menatap kepalan tangan laki-laki itu yang kapan saja bisa menghantam dirinya, dan tentu saja, Mirna tak akan pernah sanggup melawan sosok itu.
Seperti yang dikatakannya, ia hanyalah hantu recehan yang bahkan untuk menjaga anaknya saja, sepertinya ia begitu kewalahan.
Sungguh Mirna tak menyangka, bilamana ketidakberdayaan dirinya terus mengikutinya.
Mirna sekali lagi begitu sedih.
Hatinya pedih, memikirkan kemungkinan yang akan membahayakan anaknya.
__ADS_1
Jika Pak Sono akan terus membantu Winda, maka tentu saja, Mirna tak akan bisa menjaga Tita dengan kekuatannya sendiri.
**--------------**