
Mbak Ukha tampak menunggu dengan cemas, karena kali ini Nyi Parijem tak juga kunjung keluar dari dalam kamar di mana katanya ada Ki Wulung.
Gadis cucu Nyi Parijem datang dari arah belakang rumah membawa nampan berisi satu gelas teh sangit yang masih mengepul panas, dan juga satu piring ubi rebus.
Gadis itu meletakkan suguhan di depan Mbak Ukha yang memaksakan senyuman, karena hatinya saat ini benar-benar tidak tenang.
"Kenapa lama ya Mbak?"
Tanya Mbak Ukha tak kuat menahan diri untuk tidak bertanya.
Gadis cucu Nyi Parijem yang kini ikut duduk lesehan menemani Mbak Ukha tersenyum sekilas, kemudian ia menatap pintu kamar yang sebetulnya terbuka sedikit.
"Tidak apa-apa Bu, si mbah sepertinya sedang diberi pesan oleh Ki Wulung."
Kata si gadis cucu Nyi Parijem.
"Ki Wulung, suaminya?"
Tanya Mbak Ukha lagi, ia benar-benar kepo karena rasanya ia pernah mendengar jika suami Nyi Parijem telah lama mangkat bahkan sejak dulu sekali ketika Mbak Ukha masih kecil.
Gadis cucu Nyi Parijem menggeleng, tapi tak menjawab apapun hingga membuat Mbak Ukha malah makin penasaran.
Bukan suaminya, tapi di kamar rumah Nyi Parijem.
Siapa gerangan?
Apa dia sejenis mahluk...
Belum lagi Mbak Ukha memikirkan lebih jauh, tiba-tiba terdengar derit suara pintu kayu kamar depan, yang di mana kemudian Nyi Parijem keluar dari sana.
Ia terlihat membawa potongan kain kafan yang terlihat ada tulisan arab dan hanacaraka.
Nyi Parijem yang berjalan tertatih-tatih itu lantas duduk kembali di kursinya, dan mengulurkan kain kafan yang berisi tulisan arab dan hanacaraka berwarna merah pada Mbak Ukha.
Tampak Mbak Ukha menerimanya.
"Ini nanti dilipat dibungkus dengan plastik, digantung di depan pintu utama rumah. Gunanya hanya untuk melindungi rumah supaya kuntinya tidak bisa masuk."
Kata Nyi Parijem.
"Jadi bukan untuk melenyapkannya Nyi?"
Tanya Mbak Ukha,
"Kenapa harus melenyapkannya? Dia tidak jahat, dia hanya sedang ingin menyelesaikan masalahnya."
Kata Nyi Parijem.
"Tapi... jika dia penampakan di mana-mana, dia membuat keluarga kami malu Nyi, keluarga kami juga merasa terganggu bilamana akhirnya jadi gunjingan warga."
__ADS_1
Nyi Parijem menatap tajam Mbak Ukha,
"Tadi dia disuruh masuk oleh Ki Wulung, ditanya dia macam-macam kenapa dia pulang dan penampakan, dia hanya ingin kalian tahu jika dia masih ada di sekitar kalian, sepertinya ada yang berusaha menyingkirkannya sejak dulu, aku tidak akan mengatakan apapun, karena itu urusannya."
"Maksudnya? Menyingkirkan dia bagaimana?"
Mbak Ukha bingung,.
"Itu urusannya, aku tak mau ikut campur, kau datang ke sini hanya ingin agar tidak diganggu saat di rumah bukan? Itu yang aku berikan sudah cukup sebagai penjaga."
Ujar Nyi Parijem.
Mbak Ukha menatap tulisan arab dan hanacaraka yang rapih sekali itu.
Mbak Ukha mengernyitkan dahinya, ia tak menyangka jika Nyi Parijem pandai menulis.
"Nanti saat selasa kliwon, kau minta orang mengambil kelapa ijo. Ambilah dari pohonnya dan bawa turun jangan sampai menyentuh tanah. Jika sudah, bawa ke tempatku, nanti aku akan sempurnakan penjagaanku, setelah itu kau bisa meletakkan kelapa itu di makamnya."
"Selasa Kliwon? Itu masih setengah bulan lagi."
Gumam Mbak Ukha.
Nyi Parijem menganggukkan kepalanya.
"Ya, anggaplah kau sekalian memberikan kesempatan untuk si Kunti menyelasaikan masalahnya, sebelum mengirimnya kembali ke alamnya dan membuatnya menjadi tenang."
Mbak Ukha rasanya membayangkan harus menunggu hingga Selasa kliwon nanti belum apa-apa sudah tidak sanggup.
Ah...
Ia ingin pulang ke rumahnya sendiri, tapi rumahnya belum selesai dan suaminya juga masih di luar kota.
Sementara, anak-anak juga belum pada pulang karena di pondok masih penuh jadwal belajarnya.
"Kenapa harus takut? Kalau kau tak pernah jahat padanya, tak perlu ketakutan berlebihan, bagaimanapun ia tetap saudaramu, meski alam kalian telah berbeda."
Kata Nyi Parijem dengan senyuman penuh arti.
Mbak Ukha tersenyum hambar, mendengar kalimat dengan nada sinis dari Nyi Parijem.
Sementara itu, di depan rumah Nyi Parijem, Lukman tampak duduk santai di atas balai-balai sambil main game di hp nya.
Angin semilir berhembus sepoi-sepoi. Rindang rimbun daun pepohonan yang banyak tumbuh di sekitar rumah Nyi Parijem terlihat bergoyang dan terdengar gemerisik.
"Titip Tita Maaa..."
Suara itu sayup lirih terbawa angin.
Lukman celingak-celinguk, mencari asal suara yang seperti baru saja ia dengar.
__ADS_1
Lukman tampak berdiri dari duduknya, mencoba memastikan siapa yang berkata.
Hari masih siang, matahari bahkan masih bersinar hangat di langit,
Lukman berjalan sejenak ke arah samping rumah Nyi Parijem, tapi tak ada siapapun.
Lukman kembali berjalan lagi ke samping rumah di sisi yang lain, namun tak juga Lukman melihat ada siapapun di sana.
Ah...
Siapa sebetulnya tadi?
Lukman jadi bergidik sendiri, diusapnya tengkuknya yang tiba-tiba seperti terasa meremang.
Mbak Mirna... Mungkinkah?
Lukman antara takut tapi juga ada rasa iba pada sosok kakak iparnya itu.
Remaja laki-laki itu menuju balai-balai lagi dan duduk di sana, terbengong-bengong memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Kamu kenapa Mbak?
Kamu kenapa sebetulnya?
Batin Lukman.
Tak menyadari dirinya jika di sampingnya kini berdiri sesosok perempuan dengan gaun putih panjang yang menatapnya begitu lekat.
Wajahnya yang putih seperti tembok terlihat kontras dengan hitam di sekitar matanya dan juga air matanya yang bercampur darah.
Tangannya terulur ke arah Lukman, ingin sekali ia bilang jika ia ada di sini, tapi...
Ia tahu jika Lukman nanti akan ketakutan.
Tidak...
Ia menyayangi Lukman sebagaimana adiknya sendiri.
Selama ini, Lukman sangat baik dan menurut pada dirinya. Meski ia hanya adik ipar, tapi ia begitu baik, hormat dan sangat menghargai keberadaan Mirna di dalam keluarga.
Sungguh Mirna merasa Lukman benar-benar seperti adik untuknya.
Andai...
Andai Lukman tak akan takut dengannya, sementara Tita saja yang anaknya sendiri, kini sudah mulai ketakutan, lalu ia harus bagaimana?
Mirna menatap para pembaca dengan wajah sedih.
**------------**
__ADS_1