
"Ada apa lagi Mbak Winda? Apa masih belum cukup semua yang telah diusahakan?"
Tanya Pak Sono ketika Winda menghadap pada Pak Sono lagi.
Meski ia tahu, jika hari kini telah larut, tapi rasa penasaran Winda yang ada karena obsesi butanya atas Yanto membuatnya tak lagi peduli waktu yang pantas untuk mengunjungi rumah seorang sesepuh, apalagi jika itu untuk meminta tolong.
"Pak Sono, di mana foto-foto Mirna dibuang?"
Tanya Winda penasaran.
Pak Sono menatap Winda,
"Untuk apa Mbak Winda mempertanyakan hal itu? Bukankah yang terpenting sudah lebih dari setengah tujuan Mbak Winda datang pada saya kini telah tercapai?"
Pak Sono lantas terkekeh,
Winda menggeleng,
"Jelas ini belum setengahnya Pak, bagaimana Pak Sono berkata ini sudah lebih dari setengah? Sementara saat ini Yanto saja sudah sulit dihubungi, bahkan dia ada di mana saja saat ini aku tidak tahu."
Kesal Winda, wajahnya benar-benar ditekuk karena ia memang sedang dalam mood yang teramat buruk.
Pak Sono lantas menghela nafas, ia kemudian meraih satu bungkus rokok kretek dari atas meja, di ambilnya satu batang rokok dari bungkusan rokok kretek miliknya itu, untuk selanjutnya ia nikmati,
Dalam sekejap, ruangan di mana Winda dan Pak Sono saling duduk sila berhadapan di atas tikar itupun dipenuhi kepulan rokok kretek Pak Sono.
Kepulan asap rokok yang menyengat dan membuat Winda sempat terbatuk kecil.
Pak Sono tampak kemudian komat-kamit, ia menunduk semacam orang yang tengah mendengarkan sesuatu dengan seksama.
Mulutnya yang komat-kamit sesekali tetap menghisap rokok kreteknya seolah agar asap rokok tersebut tak sampai hilang di dalam ruangan.
Pak Sono sama sekali tak bersuara apapun, matanya terpejam rapat, suasana sangat hening.
Hingga, rokok Pak Sono habis, barulah laki-laki itu membuka matanya pelahan, ia menatap Winda yang sedari tadi menunggu Pak Sono mengatakan sesuatu.
Winda begitu gelisah.
__ADS_1
Tak sabar rasanya ingin mendengar apa kiranya yang akan disampaikan Pak Sono.
"Apa gerangan Pak Sono? Ada apa gerangan? Katakanlah, saya sungguh tak sabar ingin segera mendengarkan apa kira-kira yang sebetulnya terjadi."
Ujar Winda.
Pak Sono menggelengkan kepalanya,
"Lupakan dan lepaskan saja laki-laki ini Mbak Winda."
Kata Pak Sono tiba-tiba,.
Winda jelas terkesiap, tak menyangka jika Pak Sono malah bicara hal yang tak ingin ia dengar.
Apa-apaan dia? Kenapa malah aku disuruhnya melupakan Yanto?
Batin Winda kesal.
Pak Sono terkekeh,
"Anda kesal pun tak mengapa, aku sama sekali tak terpengaruh."
Lagi-lagi, Pak Sono kembali bisa menebak apa jalan pikirannya,
"Laki-laki itu, sejatinya cinta sekali dengan mendiang isterinya, mau diapakan pun, dipaksa seperti apapun, nantinya akan kembali lagi kepada perasaannya yang semula."
Ujar Pak Sono, yang jelas terdengar begitu menyakitkan untuk Winda,
Lalu...
"Tidak! Ia tak mencintai Mirna, ia tak pernah mencintai Mirna. Perempuan itulah yang memohon-mohon pada Yanto untuk dinikahi setelah tempatnya bekerja digusur sedangkan ia tak bisa pulang ke kampung halamannya."
Kata Winda.
Pak Sono terlihat diam saja, enggan menjawab apapun,
"Mirna bukan perempuan baik-baik, dia hanya perempuan sok suci dan sok baik, tapi aku tahu semuanya tentang dia di masa lalu, aku tahu semuanya."
__ADS_1
Winda terus nyerocos,
"Yanto juga cerita, jika ia menikahi Mirna karena aku sudah terlanjur menikah dengan laki-laki pilihan orangtua, dia benar-benar patah hati aku tinggalkan, makanya ia terjerumus dan bertemu dengan Mirna. Jadi, tidak ada cinta di antara mereka! Tidak! Tidak ada!!!"
Winda seolah begitu berapi-api,
"Tapi kenyataannya, rewangku jelas-jelas bilang, kalau Yanto itu sejatinya sangat mencintai Mirna, Mbak Winda. Sudahlah, terima saja kenyataan itu meskipun terasa pahit."
"Mungkin dia salah, sudah jelas aku dan Yanto lah yang saling mencintai selama ini."
Winda begitu emosional, ia tampaknya begitu stres dan panik, karena tak ada satupun kabar dari Yanto yang masuk ke hp nya.
Ia juga stres dan panik, takut jika Yanto tiba-tiba pergi jauh, atau Yanto tiba-tiba tak mau lagi menemuinya.
"Ku mohon Pak Sono, jangan biarkan Yanto lepas lagi, aku ingin kami kali ini bisa benar-benar bersama Pak, ku mohon, ku mohon."
Pinta Winda sambil meneteskan air mata,
Lalu...
"Pak Sono... aku tak mau jika dipaksa melepaskan dan melupakan begitu saja laki-laki yang telah mendapatkan mahkotaku pertama kali dahulu, aku tak mau ia terlepas lagi, ia harus menjadi milikku, ia harus bersamaku, apapun yang terjadi."
Kata Winda.
Pak Sono tersenyum tipis,
"Meskipun risikonya akan menimpa diri anda sendiri?"
Tanya Pak Sono memastikan bahwa Winda memang sudah benar-benar nekat.
Winda mengangguk seolah tanpa ragu,
Pak Sono pun mantuk-mantuk.
"Jangan menyesal nantinya Mbak Winda, ingatlah jika saya telah memperingatkan."
Ujar Pak Sono pula.
__ADS_1
**-----------**