Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
64. Terungkap


__ADS_3

Yanto yang mendengar suara tangisan mendiang isterinya tampak tertegun menatap sosok yang kini berbaring di depan Nyi Parijem dan juga Mbak Ukha.


Sosok yang ditutup kain kafan, yang dari sanalah suara tangis mendiang isterinya terdengar begitu menyedihkan.


Tubuh Yanto terasa begitu lemas karena suara tangisan itu jelas sekali adalah suara sang isteri.


"Kemari dan duduk!!"


Nyi Parijem mengulang perintahnya.


Yanto pun menurut membawa langkahnya mendekati Mbak Ukha menatapnya dari tempatnya duduk,


Yanto lantas duduk di samping Mbak Ukha, begitupun Lukman juga menyusul.


Semilir angin terasa entah datang dari mana, aroma bunga yang ditabur di atas kain kafan tercium bercampur dengan aroma kemenyan.


"Maaaas..."


Tiba-tiba terdengar suara dari balik kain kafan,


"Maas... Maafkan aku..."


Lirih terdengar suara itu,


Mbak Ukha dan Lukman tampak saling tukar pandang, wajah Mbak Ukha tampak pucat karena takut.


Sementara itu, Yanto terlihat matanya berkaca-kaca, tubuhnya bergetar, perasaannya campur aduk luar biasa saat ini...


Sosok di balik kain kafan itu lantas menangis lagi, suara tangisannya seperti rintihan yang memilukan,


"Katakanlah sekarang, semuanya, lalu pergilah dengan tenang."


Kata Nyi Parijem,


Yanto menatap Nyi Parijem sekilas, lantas kembali menatap sosok yang ditutup kain kafan di depannya,

__ADS_1


"Aku pulang Mas..."


Sosok itu bicara lagi, bukan suara cucu Nyi Parijem, namun suara mendiang isteri Yanto,


"Aku pulang untuk menjaga anak-anak, aku tidak ingin ada yang sampai menyakiti mereka setelah aku tiada."


Lirih suara itu,


Yanto menangis,


"Jangan menikahi perempuan itu Mas... Aku mohon, cukup aku saja yang sakit Mas... cukup aku..."


Dan sosok itu menangis lagi, tangisannya semakin memilukan,


"Maaf Mirna... Maafkan aku... Sungguh aku yang harus minta maaf, aku... aku... aku yang salah Mir... aku tahu aku yang salah."


Yanto pun menangis,


Ia tahu bahwa selama ini ia berada di tengah pergolakan perasaan yang bertolak belakang. Ia sudah berusaha untuk tidak menuruti rasa untuk menerima kehadiran Winda kembali, tapi herannya memang Yanto seolah tidak sanggup melakukannya.


Apalagi jika Winda sudah berada di hadapannya, atau jika ia mendengar suara Winda, rasanya Yanto makin lemahlah pertahanannya dan akhirnya ia akan kembali jatuh.


"Maafkan aku Mirna... Maaf."


Lirih Yanto sambil terus berurai air mata, hatinya hancur, karena harus meminta maaf pada isterinya saat isterinya kini tak bisa memberikan kesempatan untuknya memperbaiki keadaan.


Yanto baru akan bicara lagi, saat tiba-tiba...


"Mas..."


Suara itu memanggil Yanto, seiring dengan itu sosok yang semula berbaring seperti mayat tiba-tiba pelahan duduk.


Kain kafan yang menutupinya pelahan tersingkap,


Tampak secara raga, kini cucu Nyi Parijem lah yang duduk menghadap Yanto.

__ADS_1


Mata cucu Nyi Parijem seperti putih semuanya,


"Mas, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan."


Lirihnya,


Yanto mantuk-mantuk,


"Ya Mir, katakanlah... Katakan saja, aku akan dengarkan, aku pasti akan dengar."


Ujar Yanto.


Mbak Ukha menatap wajah cucunya Nyi Parijem, yang saat ini jelas tengah dikuasai sosok yang bicara dengan Yanto.


Yang anehnya, meski suaranya terdengar jelas ditangkap telinga, namun bibir cucu Nyi Parijem terkatup rapat.


Ini sungguh berbeda dengan apa yang banyak ditayangkan di TV dan media sosial di mana orang kerasukan suaranya tetap suara orang yang kerasukan dan ia juga bicara seperti biasa.


"Mas Yanto... sebetulnya, aku..."


Kalimat itupun berhenti sejenak, Yanto menatap sosok di depannya, yang meskipun secara fisik adalah cucu Nyi Parijem, namun sejatinya saat ini adalah mendiang isteri Yanto.


Dan...


"Mas... Aku... Aku sebetulnya bukan Mirna Mas, tapi..."


Kalimat itu terhenti lagi, sosok itu terisak,


"Mak... Maksudnya apa? Kamu bi... bicara apa Mir?"


Yanto tak habis pikir.


Lalu...


"Pulanglah ke rumah Mas, semuanya aku simpan rapi di bawah tempat tidur Tita. Di sana ada dua keramik yang aku tandai, aku simpan semuanya di dalam sana."

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2