
Mbak Ukha baru sampai di tempat Bu Sum penjual aneka sarapan.
Dari nasi uduk, nasi kuning dan nasi rames biasa ada di tempat Bu Sum.
Banyak Ibu-ibu telah mengantri di sana saat Mbak Ukha sampai, bahkan beberapa remaja putri, pemuda, dan bahkan anak kecil juga tampak ada pula yang mengantri.
Tak heran pastinya, karena memang di kampung mereka itu memang jarang sekali ada yang berjualan makanan untuk sarapan.
Maka, begitu Bu Sum memilih usaha menjual sarapan sejak ia pensiun jadi kepala sekolah Taman kanak-kanak, usahanya itu pun langsung laris manis.
"Eh ada Mbak Ukha."
Sapa beberapa ibu di tempat Bu Sum yang lebih dulu mengantri, Mbak Ukha tersenyum untuk membalas sapa para Ibu.
Sudah jelas sapa mereka adalah bagian dari basa basi ibu-ibu yang akan melancarkan aksi perkepoan lintas alam.
Tapi...
Mbak Ukha tampaknya sudah siap lahir batin, ia sudah tahu bahwa beberapa waktu ini, ia dan keluarganya akan terus dicecar banyak pertanyaan tentang seputar Mirna.
Ah, lebih tepatnya tentang hantu Mirna, yang memang cukup aktif menampakkan diri.
Mbak Ukha menghela nafas, ia tampak berjalan setenang mungkin memasuki tempat berjualan Bu Sum.
Tampak ia ikut berdiri di tengah para Ibu yang akan membeli makan untuk sarapan.
"Ini Mbak, ayam goreng serundeng,"
Seorang Ibu mendekatkan wadah yang berisi bungkusan-bungkusan plastik ukuran kecil berisi satu potong ayam goreng dengan serundeng.
"Oh nggih."
Mbak Ukha mantuk-mantuk, lalu mengambil dua bungkus yang di mana satu adalah sayap, satu lagi adalah paha.
"Saya pesan empat bungkus nasi uduk ya Bu Sum, sama dua bungkusnya nasi rames saja."
Kata Mbak Ukha pada Bu Sum yang tampak sibuk membungkus untuk seorang Ibu yang datang lebih dulu.
"Nanti ya Mbak, ini yang datang lebih dulu."
Sahut Bu Sum,
Mbak Ukha mengangguk,
"Iya Bu, ini pesan dulu saja."
Kata Mbak Ukha.
Bu Sum tersenyum sekilas, lalu melanjutkan kesibukannya.
Mbak Ukha melihat antrian masih cukup banyak, sekitar lima orang lagi, termasuk yang kini sedang dilayani.
Tak masalah tentu saja, karena memang di warung Bu Sum ini sudah jadi hal biasa. Untungnya juga, Bu Sum orangnya cukup cekatan, jadi meskipun antrian terlihat masih banyak, tapi Mbak Ukha yakin itu tak akan memakan waktu terlalu lama.
"Ngg... Mbak."
Tiba-tiba seorang Ibu yang berdiri di samping kiri Mbak Ukha menyenggol Mbak Ukha,
Hal itu membuat Mbak Ukha akhirnya menoleh ke arah si Ibu.
__ADS_1
"Ya Bu, bagaimana?"
Tanya Mbak Ukha.
Si Ibu kemudian berbisik pada Mbak Ukha,
"Saya lihat lho Mbak,"
Dan karena bisikan itu, Mbak Ukha lantas menoleh ke arah si Ibu,
"Lihat? Lihat apa Bu?"
Tanya Mbak Ukha sambil memandang si ibu yang berdiri di sampingnya itu tampak tak begitu asing untuk Mbak Ukha.
"Mbak pangling ya sama saya?"
Tanya si ibu kemudian, Mbak Ukha yang memang tak juga bisa menemukan ingatan tentang sosok yang kini ada di hadapannya itupun akhirnya dengan tak enak hati terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Maaf Bu, kalau saya benar-benar tidak ingat."
Kata Mbak Ukha,
Tampak si ibu itu tersenyum,
"Tidak apa-apa Mbak, soalnya Mbak ini jarang mampir ke tempat Mas Yanto kan, tidak seperti Mas Lukman."
Ujar si Ibu seolah maklum.
Mbak Ukha pun akhirnya mengangguk,
"Oh... iya iya Bu, panjenengan tetangga Yanto bukan ya?"
Si Ibu pun mengangguk,
Kata si Ibu.
"Oalah, iya... iya..."
Mbak Ukha akhirnya menyalami si ibu, isteri pak RT di wilayah rumah Yanto itu,
"Sini Mbak, sebentar."
Kata si ibu saat mereka berjabat tangan, lalu menarik Mbak Ukha agak jauh dari meja Bu Sum berjualan.
"Ada apa Bu?"
Tanya Mbak Ukha yang seolah tak ada pilihan selain ikut saja langkah si ibu isteri Pak RT agak ke sudut warung,
Beberapa pasang mata dari ibu yang lainnya, termasuk Bu Sum dan adiknya yang membantu menggoreng gorengan terlihat melirik ke arah mereka, meski hanya sebentar lalu kembali menyibukkan diri dengan urusan sarapan mereka.
"Mbak,"
Isteri Pak RT tampak seperti berusaha hati-hati,
"Ada apa Bu?"
Mbak Ukha mulai tak sabar,
"Ngg... itu Mbak, kemarin kan aslinya Pak RT sudah janjian sama Mas Yanto, soal saudara saya yang ingin ikut kerja di tempat Mas Yanto."
__ADS_1
Si Ibu, isteri Pak RT di wilayah tempat tinggal Yanto memulai ceritanya,
Lalu...
"Kemarin mau maghrib, suami saya ceritanya datang lagi ke rumah Mas Yanto untuk antar makanan, karena kebetulan saya kan ada acara selamatan kecil buat cucu saya di Magelang yang katanya sembuh sakitnya."
Tutur si ibu, istri Pak RT.
Mbak Ukha mantuk-mantuk,
"Nah, berhubung katanya pas Pak RT ke tempat Mas Yanto ternyata rumah masih sepi, jadi makanannya dibawa pulang lagi supaya nanti bisa diantar selepas Mas Yanto pulang,"
Mbak Ukha mantuk-mantuk,
"Lepas Maghrib, karena kebetulan saya ada keperluan sekalian ke tempat Bu Ustadzah, maka saya dan Pak RT sekalian jalan berdua ke tempat Mas Yanto, lalu..."
Si ibu isteri Pak RT sejenak menghentikan kalimatnya,
"Lalu apa Bu?"
Tanya Mbak Ukha,
Ya...
Lagi-lagi, Mbak Ukha sebetulnya sudah bisa menebak ini akan larinya ke mana cerita si Ibu isteri Pak RT, tapi tetap saja Mbak Ukha bertanya karena ia ingin tahu kali ini apa yang dilihat orang-orang di kampungnya,
Hingga si ibu isteri Pak RT itu tampak menghela nafas, baru kemudian menjawab,
"Saya lihat ada perempuan di rumah Mas Yanto, Mbak."
"Manusia atau..."
Si Ibu isteri Pak RT meraih lengan Mbak Ukha, baru kemudian melanjutkan kalimatnya,
"Sosok seperti Mbak Mirna, mendiang isteri Mas Yanto. Tapi..."
Si ibu isteri Pak RT tampak terdiam lagi, ia seperti bergidik,
Lalu...
"Tapi apa Bu?"
Tanya Mbak Ukha benar-benar penasaran,
Ibu isteri Pak RT menatap Mbak Ukha,
"Ada dua perempuan Mbak, saya lihat satu di luar, di sudut halaman depan, yang satunya di dalam rumah, di dekat jendela. Saya yakin sekali kalau saya tidak salah lihat..."
Ujar si Ibu isteri Pak RT itu.
Mbak Ukha terdiam untuk sesaat lamanya,
Dua orang mirip mendiang isteri Yanto?
Apa ini berarti bukti lagi bahwa apa yang dikatakan Mirna jika di luar sana yang penampakan dengan wajah Mirna memang adalah benar adanya.
"Ibu melihat ada dua sosok di rumah Yanto?"
Tanya Mbak Ukha memastikan, si Ibu mengangguk,
__ADS_1
"Ya mbak, saya melihat mereka..."
**-------------**