
Bibik Nur baru akan kembali ke rumahnya sendiri yang terletak di sebelah rumah Ibunya Yanto, manakala dilihatnya mobil Yanto memasuki halaman rumah kakaknya.
Bibik Nur yang ingin bertemu Tita, akhirnya mengurungkan niatnya sebentar untuk kembali ke rumah, ditunggunya mobil Yanto berhenti dan kemudian Tita turun lebih dulu dari mobil Bapaknya.
Tampak Tita kemudian tersenyum begitu melihat Bibik Nur, anak kecil itu berjalan menuju teras rumah Neneknya di mana kini Bibik Nur berdiri menunggunya untuk menyambut.
"Sehat Nak?"
Tanya Bibik Nur kala Tita akhirnya sampai di depannya lalu salim.
Tita mantuk-mantuk,
"Ayok masuk, masuk, Nenek pasti senang kamu datang."
Kata Bibik Nur menggandeng Tita masuk ke dalam rumah.
Yanto sendiri baru turun dari mobilnya, berbarengan dengan itu Lukman juga baru pulang entah dari mana.
Hari ini adalah hari Sabtu, untuk remaja laki-laki, tentu saja hanya berdiam diri di dalam rumah, apalagi semuanya di rumah adalah perempuan tentu sangat menjenuhkan.
Lukman turun dari motornya, melepas helm, lalu berjalan ke arah Yanto yang berdiri di samping mobil.
Lukman yang menggendong ransel hitam itu tampak mengulurkan tangannya, untuk berjabat tangan dengan kakak laki-lakinya itu.
"Dari mana Man?"
Tanya Yanto,
"Biasa, nyari keringat, futsal."
Kata Lukman.
Yanto mantuk-mantuk,
"Baru datang Mas?"
Tanya Lukman ganti bertanya,
"Iya, mau tengok Panji, sekalian kasih uang Ibu, dan minta ijin bawa Panji besok lusa."
Ujar Yanto,
"Lah, kenapa dibawa? Siapa yang mau urus?"
Tanya Lukman heran,
Yanto menghela nafas,
"Jangan bilang kamu mau nikah lagi Mas, ini belum satu bulan, kau sinting kalau melakukannya."
Kata Lukman yang belum apa-apa jadi emosi.
Yanto menepuk-nepuk punggung Lukman,
"Tidak, aku tidak akan menikah dalam waktu dekat, ini hanya bantuan dari Pak RT saja, saudaranya butuh pekerjaan, dia sudah biasa merawat bayi."
"Oh begitu, tapi..."
Lukman masih terlihat khawatir,
"Apa bisa dipercaya? Kau sudah kenal orangnya?"
Tanya Lukman lagi.
"Belum, tapi aku kenal baik Pak RT dan isterinya,"
__ADS_1
"Pak RT kan yang tabur-tabur bunga melati di rumahmu."
Kata Lukman kembali kesal.
"Dia sudah minta maaf secara pribadi dan juga mewakili warga."
"Kapan?"
Cecar Lukman.
"Tadi, waktu mau ke sini. Ah ya, dia memintaku ikut datang kumpulan dengan warga untuk membicarakan soal kemungkinan ada yang sedang melakukan ritual ilmu hitam di kampung kita."
Ujar Yanto.
Lukman tampak kemudian mengangguk mengiyakan,
"Benar Pak Penjual Kerupuk kecelakaan semalam?"
Tanya Yanto memastikan lagi,
"Ya pagi tadi polisi datang memberitahu, mungkin siang ini jenazahnya dibawa pulang, dan sore nanti mungkin langsung proses pemakaman."
Kata Lukman.
"Benar ada penampakan juga?"
Tanya Yanto dengan ekspresi sedikit takut, Lukman mengedikkan bahu,
"Entah benar entah tidak,"
"Memangnya siapa yang lihat katanya?"
Yanto sangat penasaran.
Lukman berjalan menuju rumahnya, Yanto juga mengikuti,
Yanto mantuk-mantuk karena paham siapa bapak-bapak yang dimaksud Lukman.
Lukman tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, dan kemudian berbalik arah lalu berdiri menghadap Yanto.
Yanto yang sempat kaget karena gerakan Lukman cukup tiba-tiba tampak jadi ikut menghentikan langkahnya.
"Ada Man?"
Tanya Yanto heran,
"Mbak Mirna, mereka juga geger didatangi Mbak Mirna di poskamling, di malam yang sama saat dua hansip kampung melihat Mbak Mirna katanya ada di depan rumah ini."
Kata Lukman.
Yanto terkesiap,
"Mirna penampakan?"
Tanya Yanto dengan suara bergetar,
Lukman menatap tajam kakak laki-laki nya itu.
"Mas,"
Panggil Lukman,
Yanto yang ditatap begitu tajam oleh Lukman, dan tatapan yang tak biasa itu sungguh membuat Yanto sedikit gugup.
Ia tahu bahwa Lukman sepertinya tengah berpikir tentang sesuatu yang buruk pada dirinya.
__ADS_1
Lalu...
"Kau sebetulnya apakan Mbak Mirna?"
Dan tentu saja, pertanyaan tak enak itu keluar dari mulut sang adik.
Meski memang sudah biasa Lukman saat bicara suka pedas dan tanpa tedeng aling, tapi kali ini sungguh-sungguh untuk Yanto begitu menampar.
"Apa maksudmu aku apakan isteriku sendiri?"
Tanya Yanto agak emosi,
Lukman bukannya gentar malah semakin tajam menatap Yanto,
"Mbak Mirna belum tenang, itu sebabnya ia terus penampakan, aku dan Mbak Ukha pergi ke tempat Nyi Parijem, dia bilang Mbak Mirna merasa ada masalah yang belum selesai. Setahuku, dia orang yang tak pernah memiliki masalah dengan siapapun di kampung ini, dia sejak tinggal di sini tidak pernah bergaul sama sekali, jadi jika dia ada masalah pasti denganmu."
Ujar Lukman,
Yanto sekali lagi terkesiap, darahnya terasa mendidih karena Lukman yang jelas seorang adik, dan jarak usia mereka cukup jauh berani begitu lantang padanya, ini jelas membuat Yanto jadi ingin marah.
"Kau..."
Lukman berhenti sejenak, ia memalingkan wajahnya ke arah lain karena rasanya mulutnya untuk bicara saja seperti tak rela.
Lalu...
"Sudahlah, kau masih kecil, tahu apa soal masalah rumah tangga, itupun jika kau memang menuduh bahwa rumah tanggaku dengan Mirna sebetulnya sedang dalam masalah saat ia pergi."
Kata Yanto masih berusaha menekan suaranya.
Lukman akhirnya kembali menatap Yanto,
"Kau yakin?"
Tanya Lukman sinis,
"Tentu saja aku yakin? Bagaimana caranya aku membuktikan bahwa rumah tanggaku baik-baik saja? Kau harusnya bisa melihat adanya Panji saja itu sudah jadi bukti cukup untuk menjelaskan bahwa aku dan Mirna harmonis saja."
Lukman menghela nafas,
"Bayi lahir karena kalian berhubungan badan, bukan karena rumah tangga kalian baik-baik saja."
Tandas Lukman,
"Kau pikir bisa berhubungan badan saat rumah tangga bermasalah?"
Kesal Yanto akhirnya.
"Winda, kau sedang sering bersamanya belakangan ini, bahkan saat sebelum Mbak Mirna pergi."
Deg!!
Yanto seperti mendapat serangan yang bahkan ia tak tahu harus bagaimana menghadapinya sekarang,
Kedua matanya meremang, menantang sorot tajam kedua mata Lukman, entah kenapa ia seperti melihat sorot tajam Mirna ketika dulu mereka sempat cekcok untuk masalah Winda juga.
"Ah sudahlah, tak usah dibahas, aku akan menemui Ibu."
Yanto menghindari obrolan dengan Lukman,
Tapi Lukman tiba-tiba meraih tangan kakaknya, lalu...
"Jangan pernah bawa Winda masuk ke dalam rumah, apalagi menyentuh anak-anak. Jika ia tetap kau paksa masuk ke dalam rumah, aku pastikan Winda akan keluar dari rumah dalam keadaan yang sama, MATI,"
Suara Lukman tiba-tiba saja berubah, Yanto tubuhnya gemetaran,
__ADS_1
"Ka... Kau..."
**-------------**