
Suara tangis Mirna begitu menyayat hati, Yanto terduduk lemas di lantai, tubuhnya bergetar, hingga...
Gubrak!
Tiba-tiba terdengar suara seperti barang jatuh, Yanto terkejut dan tampak ia membuka matanya.
Nafas Yanto tampak ngos-ngosan, keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya.
Terdengar di luar sana ada suara orang bicara, termasuk suara Tita.
Yanto melihat ke arah dinding, yang mana tampak jam di dinding kamarnya kini menunjuk angka tiga.
Yanto masih belum sadar sepenuhnya, kini matanya seperti masih saja sedang menatap bayangan Mirna yang menangis di balik kaca jendela.
Mirna...
Dia pulang...
Mirna...
Dia pulang...
Yanto baru akan turun dari tempat tidurnya, saat pintu kamarnya terdengar diketuk.
Ketukan kecil yang dibarengi suara Tita itu menghentak kesadaran Yanto lagi,
"Bapak... Ada tamu Paaak."
Suara Tita jelas terdengar, Yanto melihat ke arah jendela kamar yang menampakkan suasana di luar sana masih terang.
Ah Yanto mengusap wajahnya sejenak, rasanya otaknya sedikit kusut hingga ingatannya kacau berantakan.
Yanto kemudian mengingat pagi tadi di mana ia mengantar Winda sampai teras depan saat perempuan itu pamit pulang.
Setelah itu, Yanto kemudian langsung masuk kamar untuk tidur.
Tita sempat minta uang untuk beli jajan, tapi Yanto bilang akan mengajak Tita nanti jajan sendiri saja langsung ke minimarket.
"Bapak... Ada tamu Pak, ada Bibik Winda dan temannya."
Suara Tita pun kembali terdengar,
Yanto buru-buru turun dari tempat tidurnya dan langsung menuju pintu kamar untuk membukanya,
"Pak."
Tita nyengir lebar saat Yanto membuka pintu kamarnya itu,
"Ada apa Ta?"
Tanya Yanto pada Tita, sambil mengusap puncak kepala Tita dan berjalan melewatinya.
"Ada Bibik Winda dan temannya, nungguin Bapak dari tadi."
Kata Tita.
Yanto lantas bergegas menuju ruang depan dan benar di sana ada seorang laki-laki dengan usia sekitar lima puluh tahunan.
Laki-laki itu menggunakan ikat kepala dan celana cingkrang. Dia duduk sambil memegang seperti kayu kecil dan juga biji tasbih yang serupa gelang.
Yanto sejenak celingak-celinguk mencari Winda, karena tadi kata Tita, Winda juga datang.
Dan...
"Ah, kamu sudah bangun Mas?"
__ADS_1
Winda tersenyum manis, ia muncul dari ruang dalam.
"Aku baru menghangatkan sayur sop daging, barangkali kamu mau makan."
Kata Winda begitu perhatian,
Yanto lantas seperti memberi isyarat pada Winda, menanyakan soal laki-laki yang duduk di ruang depan rumahnya.
"Oh, itu teman yang aku maksud Mas, yang aku ceritakan bisa membantu kita, barangkali ada hantu yang mencoba mengganggu rumahmu."
Lirih Winda.
Yanto dan laki-laki aneh itu lantas saling memandang satu sama lain.
.
"Gelap, ada aura kegelapan, ada kesialan, hantu... ada hantu membawa kesialan."
Kata laki-laki teman Winda itu.
Yanto melangkah pelahan mendekati set kursi ruang depan, di mana laki-laki itu tiba-tiba saja berdiri dengan mata tertutup, kedua tangannya ke atas dan bergetar layaknya mengeluarkan sebuah energi yang besar.
"Foto, foto..."
Tiba-tiba laki-laki itu membuka matanya, ia menatap foto Mirna dan Yanto yang terpajang di ruang depan.
"Perempuan ini, foto perempuan ini membawa sial, buang semuanya! Buang semua foto perempuan ini!!"
Suara laki-laki itu begitu keras, Yanto baru akan bicara, tapi laki-laki itu tiba-tiba menoleh ke arah Yanto dan bicara mendahului Yanto,
"Kau... Kau juga harus dimandikan dengan bunga tujuh rupa dan dari tujuh mata air, aura kegelapan hantu itu menempel padamu! Hantu perempuan pembawa sial, kau harus dipagari..."
Mendengarnya tubuh Yanto bergetar hebat.
Bagaimana bisa laki-laki teman Winda itu tahu jika ada hantu yang tengah mengganggunya?
Yanto menoleh ke arah Winda,
"Kau yang memberitahunya soal keanehan di rumah ini?"
Tanya Yanto lirih pada Winda yang berdiri di sampingnya.
Tampak Winda menggeleng.
"Tidak Mas, aku hanya minta dia datang menolong temanku, aku tidak cerita apa-apa."
Ujar Winda.
Yanto pun beralih ke arah si laki-laki tadi,
"Turunkan dan buang foto itu, semua foto perempuan itu, turunkan dan buang!"
Laki-laki itu memerintah,
"Tapi... itu adalah ke..."
"Diam! Turuti saja apa kataku, jika memang kau mau rumahmu aman!!"
Kata si laki-laki yang seolah memiliki kekuatan luar biasa itu.
Yanto menatap Winda yang mengangguk mengisyaratkan bahwa Yanto lebih baik menurut saja.
Yanto akhirnya mendekati bingkai foto yang terpajang di ruang depan rumah di mana bingkai foto itu adalah fotonya dengan Mirna di awal pernikahan.
Yanto meski dengan tangan gemetar menurunkan bingkai foto itu juga akhirnya.
__ADS_1
"Buang, jangan simpan di dalam rumah."
Kata si laki-laki,
"Jangan, itu Mama, itu foto Mama."
Tiba-tiba suara Tita terdengar berteriak dan akan mendekati Yanto, namun Winda cepat meraih tubuh kecil Tita.
"Tita, masuk saja, ini bukan urusan anak kecil."
Kata Winda, meski nadanya terdengar halus, tapi Tita entah kenapa merasa Winda begitu menakutkan.
Tita menatap Yanto dengan sedih, manakala Yanto akhirnya membawa bingkai foto yang di mana ada foto Mamanya.
Yanto meletakkan bingkai foto itu di luar rumah, lalu ia masuk lagi ke dalam.
"Bapak jahat, Bapak jahat, kasihan Mamaaaa..."
Teriak Tita lagi, ia ingin lari keluar untuk mengambil foto Mamanya lagi, tapi Winda segera menarik Tita untuk dibawanya masuk ke dalam kamar.
"Tita di dalam saja, Mama Tita itu sudah jadi hantu, jangan keluar kamar."
Kata Winda dengan nada sinis begitu mereka sudah ada di dalam kamar Tita, sementara Yanto ada di ruang depan, jauh dari jangkauan.
"Tidak... Bibik bohong, Mama bukan hantu, Mama bukan hantu!"
"Semalam apa Tita pikir? Tita bukannya tahu ada hantu di rumah?"
Tanya Winda.
"Tapi itu bukan Mama, itu pasti bukan Mama,"
Winda mendengus kesal.
"Hantu itu Mamanya Tita. Dia jadi hantu, makanya harus di suruh pergi, biar tidak gentayangan terus. Memangnya mau Tita tinggal sama hantu hah?!"
Kata Winda tega, Tita menangis sesenggukan, tentu saja hatinya sakit Mamanya dibilang jadi hantu.
Sudah jelas Mamanya perempuan yang sangat cantik dan baik, mana mungkin Mama jadi hantu.
Kemarin pun Mama masih ada di rumah Nenek.
Ah Mama bilang Tita harus pulang, ke mana Mama?
Mama ke mana?
Tita menangis, tapi Winda manalah peduli.
Tampak Winda berjalan keluar kamar Tita, lalu menutup pintu kamar itu dengan rapat dan menguncinya.
Tita di dalam kamar menangis semakin keras.
Winda berjalan menuju ruang depan di mana kini Yanto sedang menggotong bingkai foto lagi yang sepertinya ia baru keluarkan dari kamar.
Laki-laki yang mengaku orang sakti itu tampak tersenyum penuh arti, lalu ia merapal mantra sambil sesekali menyembur ke setiap sudut ruangan depan rumah.
Yanto meletakkan bingkai foto yang semula di dalam kamar di luar.
Angin berhembus kencang, pohon-pohon bergoyang-goyang mengerikan, Yanto cepat masuk ke dalam rumah.
Ia ingat mimpinya lagi, di mana ia melihat bayangan Mirna yang berubah menjadi kuntilanak.
Ah...
Yanto kembali nafasnya ngos-ngosan, karena rasa takut yang meraja di dalam dirinya.
__ADS_1
**-------------**