
"Bu... Bu..."
Winda keluar dari kamarnya, kepalanya pusing luar biasa karena semalaman tak bisa memejamkan mata sama sekali.
Meski sebetulnya ia mengantuk luar biasa, tapi tetap saja ia tak bisa memaksa dirinya untuk terlelap karena otaknya seperti terus dipaksa memikirkan sosok Mirna, isteri mendiang Yanto.
Tidak! Semua sudah terlanjur Win, bodoh jika akhirnya kamu memutuskan berhenti di sini, Yanto harus jadi milikmu.
Winda mencoba kembali meyakinkan dirinya sendiri.
Tentu saja, semuanya memang sudah terlanjur sejauh ini, hubungannya dengan Yanto yang sempat terputus lalu akhirnya kembali berlanjut sejak masih ada Mirna akan jadi sia-sia jika diakhiri begitu saja.
Tapi...
Winda menatap jam dinding rumahnya yang kini sudah mendekati jam sembilan pagi.
Rumah orangtuanya yang merupakan rumah dengan model jaman dulu itu kini begitu sepi.
"Bu... Bu..."
Winda kembali memanggil Ibunya, yang biasanya duduk di kursi halaman belakang sambil menyulam atau kadang juga memasangi kancing daster yang akan copot.
__ADS_1
Winda yang kepalanya pusing ingin minta obat pusing milik Ibunya, maka itulah Winda terpaksa keluar dari dalam kamarnya,
Hingga...
Cekrek, krieeeeeet...
Tiba-tiba terdengar seperti handle pintu kamar Ibu ada yang membuka dari dalam, dan bersamaan dengan itu pintu kamar Ibu pun juga terbuka.
Winda tampak menatap kamar sang Ibu, saat di mana Winda tanpa sengaja melihat ke arah ruang kamar dan kemudian tampak di sana sosok berdiri samar-samar.
Posisi kamar Ibunya Winda yang memang jendelanya itu memakai kaca patri, membuat suasana kamar memang tak terlalu terang meski hari telah beranjak siang.
"Bu..."
Winda jelas saja terkejut, ia yang antara takut dan penasaran sempat memburu sosok itu ke kamar dan tentu saja kosong sama sekali di sana.
Sejenak tubuhnya mulai terasa merinding, ketika semula Winda yang ingin berbalik tiba-tiba seperti merasa ada seseorang yang kini berdiri di belakangnya.
Dan...
Winda yang kini membeku karena ketakutan merasakan sosok di belakangnya itu pelahan seperti mengulurkan tangan, membuat sekujur tubuhnya terasa lemas tak terkira,
__ADS_1
"Jauhi Yanto atau kau akan mati."
Suara itu berbisik tepat di belakang telinga Winda,
Bersamaan dengan itu, Winda pun merasakan dua tangan yang terulur dari sosok di belakangnya itu kini merayap di kedua bahunya, pelan kedua tangan itupun bergeser ke leher Winda, yang kemudian seolah akan mencekiknya,
"To... to... long."
Winda gelagapan saking takutnya,
Dengan kedua kaki yang kini seperti tak bisa ke manapun, Winda berdiri mematung di ruang kamar Ibunya.
Sosok di belakang Winda pelahan mendekatkan wajahnya dan melongok dari samping kiri Winda,
"Jauhi Yanto... Jauhi Yanto... Dia milikku... Hanya milikku... Kau dan Marni, tidak ada yang berhak atas dia..."
Kata sosok perempuan itu, sambil wajahnya semakin didekatkan dengan wajah Winda hingga jarak wajah keduanya kini hanya sekitar lima sentimeter saja,
Winda matanya tampak membulat tak percaya melihat sosok wajah di depannya saat ini,
Wajah perempuan seperti Mirna yang rusak dan berdarah-darah.
__ADS_1
Dan hanya sekian detik saja, saat Winda melihat sosok itu menyeringai, Winda pun lantas pingsan tak sadarkan diri.
**----------------**