Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
54. Mirna & Marni


__ADS_3

Yanto di kamar tampak meringkuk lelah di atas kasur yang digelar saja di atas lantai.


Sehari-hari sebetulnya kamar yang kini sedang ditempati Yanto adalah kamar Lukman, semula kamar Yanto adalah yang ada paling depan, yang di mana jika berkunjung dan menginap di rumah Ibu pun masih tidur di sana dengan anak-anak dan juga dengan Mirna, mendiang isterinya.


Namun...


Sejak Mirna meninggal, Yanto memang enggan tidur di sana, entah kenapa ia merasa tak nyaman saja tidur di sana.


Yanto yang lelah memikirkan kenapa cincin itu akhirnya kembali, kini tampak kembali tertidur pulas dengan tangan kanannya menggenggam cincin yang baginya masih misteri kenapa bisa kembali.


Sementara itu, di kala Yanto dan seluruh penghuni rumah tertidur, tanpa mereka sadari lagi, sesosok perempuan bergaun putih terlihat keluar dari kamar depan.


Ia melayang pelahan menyusuri setiap ruangan di rumah itu.


Sampai kemudian ia sampai di depan pintu kamar Lukman yang kini ada Yanto di dalam.


Pintu kamar di mana Yanto tertidur lantas terbuka pelahan,


Krieeeet...


Terdengar suara deritan pintu kayu yang khas saat pintu itu terbuka,


Sosok perempuan itu berdiri di sana mematung, matanya menatap Yanto dengan tatapan sedih sekaligus marah.


Marah karena Yanto sempat memperlakukan Tita dengan kasar, namun sedih karena ada seperti banyak sekali beban yang ingin ia curahkan namun tak sanggup atau bisa saja karena ia tak tahu harus bagaimana mengungkapkannya.


Sosok perempuan itu masuk ke dalam kamar Yanto, ia lantas duduk di sebelah Yanto, tangannya terulur ke wajah Yanto,

__ADS_1


Air mata mengalir pelahan dari sudut matanya,


"Kukira, kita telah sama-sama impas, saling membohongi satu sama lain, tapi ternyata, aku merasa kalah karena lebih dulu tahu kau membohongiku dan itu membuatku sangat sedih serta terluka."


Sosok perempuan itu seolah berkata,


Lalu...


"Winda, dia perempuan jahat, jangan menikahinya, aku mohon... Jangan dia, demi Tita..."


Sosok perempuan itu lantas menangis tersedu,


Hingga kemudian tiba-tiba, jendela kamar di mana Yanto tertidur seperti ada yang mengetuk pelan.


Sosok perempuan itu menatap ke arah jendela kayu tersebut, yang kemudian terbuka pelahan.


Sosok itu sama persis dengan yang ada di dalam kamar.


"Katakan padanya dan ikut aku Marni... Katakan padanya dan ikut aku Marni!!!"


Suara itu seolah suara orang yang tengah dikuasai amarah.


Perempuan di dalam kamar yang wajahnya terlihat basah oleh air mata darah kini tampak berdiri,


Ia mendekat ke jendela, keduanya saling menatap satu sama lain.


Dua sosok perempuan yang sama berambut panjang dan bergaun putih itu saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Berhentilah drama, aku sudah muak denganmu selama ini Mar."


Kata sosok perempuan yang ada di luar jendela.


"Maafkan aku Mir."


"Maaf, setelah sekian puluh tahun kamu baru minta maaf."


Sinis sosok di luar sana.


"Waktumu sudah tak akan lama lagi, ungkap semuanya, itu agar kau bisa pergi dengan tenang, begitu juga denganku!!"


Sosok di dalam kamar itu menangis tertunduk,


"Apapun yang terjadi, kuburkan aku dengan layak! Atau kau akan dibuat dibenci semua orang."


"Kau mengurus Winda dulu, dia akan menjahati anakku."


Rintih sosok perempuan yang ada di dalam kamar.


Sosok itu menyeringai...


"Empat puluh hari, jangan sia-siakan itu Marni. Sudah saatnya kau tak lagi memakai namaku!!"


Suara sosok di luar sana begitu tajam,


"Ya Mirna... Ya aku tahu."

__ADS_1


**------------**


__ADS_2