Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
41. Bukan Aku


__ADS_3

"Dia? Dia siapa? Nyi Parijem?"


Tanya Bibik Nur,


Mbak Ukha mengangguk, lalu masih dengan tubuh dan tangan gemetaran, Mbak Ukha menjangkau lengan Bibik Nur agar dibantu berjalan keluar dari kamar.


"Sebetulnya kamu lihat apa tadi? Mukamu takut begitu."


Tanya Bibik Nur lagi penasaran, saat keduanya akhirnya telah keluar dari kamar depan dan berjalan ke ruang tengah.


Suasana ruang depan yang remang-remang membuat Mbak Ukha memalingkan wajah ke arah Bibik Nur yang ada di sebelah kanannya.


"Kenapa lampunya tidak dinyalakan semuanya saja Bik?"


Tanya Mbak Ukha kesal,


"Lho, tadi Bibik sudah nyalakan, Bibik pikir kamu yang matikan tadi supaya hemat."


Ujar Bibik Nur.


"Tadi aku pulang ada Bibik di kamar, aku bicara banyak dengannya, tapi ternyata Bibik ada di luar kamar."


Kata Mbak Ukha seperti bisik-bisik.


Bibik Nur mengerutkan kening.


"Kamar itu kan sudah tidak boleh ditempati oleh Ibumu, karena dulu kalau almarhumah menginap suka tidur di situ dengan Yanto, jadi kemungkinan memang dia senang di sana."


Kata Bibik.


Lalu...


"Sudah kamu duduk lah, Bibik ambilkan air minum, kamu gemetaran begitu."


Kata Bibik Nur lagi.


Mbak Ukha mengangguk, ia lalu duduk di kursi ruang makan, di mana bersebelahan dengan ruang TV.


Dedek Panji terlihat tidur pulas dengan selimut yang melindunginya dari gigitan nyamuk dan juga hawa dingin.


Bibik Nur menuju dapur, membuat sejenak ruang tengah itu jadi sunyi.


Tik... tik... tik...


Suara jarum jam dinding terdengar di tengah kesunyian, Mbak Ukha tampak termangu di tempatnya, ketika kemudian ia merasakan kedua bahunya seperti ada yang menyentuh pelahan,


Mbak Ukha seketika langsung terlihat kaku, ia ingin lari dan menjerit tapi tak bisa,


Ia duduk saja, merasakan kedua tangan yang ada di atas bahunya seperti menekan dengan lembut,

__ADS_1


Seiring dengan itu, angin dingin seperti bertiup di tengkuk nya, serupa hembusan nafas dari seseorang.


Mbak Ukha sekujur tubuhnya kini merinding, matanya berusaha melirik layar TV yang tak dinyalakan, di mana di sana ada pantulan dirinya yang di posisi duduk.


Ya...


Pantulan Mbak Ukha yang sedang duduk, dan juga sesosok perempuan bergaun putih dengan rambut panjang menyentuh lantai.


Tangan Mbak Ukha semakin gemetaran,


"Bukan aku... Bukan aku... Yang mereka lihat bukan akuuuu..."


Suara itu sayup terdengar, pelan dan tak begitu jelas, seolah hanya terbawa angin saja.


Mbak Ukha ingin sekali memanggil Bibik Nur agar segera kembali,


Ke mana dia?


Sedang apa dia?


Kenapa lama sekali hanya mengambil air minum saja...


"Ap... ap... apa maumu Mir?"


Mbak Ukha dengan suaranya yang bergetar luar biasa karena menahan takut, ia bahkan rasanya ingin buang air saat ini saking takutnya.


"Jangan sakiti anakku juga... jangan sakiti anakkuuu jugaaaa..."


Dan...


"Meoong..."


"Meoooong!!!"


Gubrak... Gedubrak...


Terdengar suara dua kucing berkelahi di atas atap rumah, Mbak Ukha tanpa sadar menatap ke atap rumah yang di ruang tengah memang belum semuanya dipasang plafon.


Bersamaan dengan itu, tekanan lembut tangan di bahu Mbak Ukha pun menghilang, dan Bibik kembali dengan dua gelas air, satu air putih dan satunya segelas air teh.


Mbak Ukha berganti menatap Bibik Nur yang kini mendekati dirinya, dan memberikan wedang teh yang mengepul panas, serta satu gelas lainnya adalah air putih biasa yang hangat saja.


"Minumlah yang putih dulu, biar jantungmu tak sampai copot, mukamu sudah macam tak ada darahnya."


Kata Bibik.


Mbak Ukha dengan kedua tangan gemetaran luar biasa akhirnya meminum air dari Bibik Nur.


"Mir... Mirna barusan datang lagi Bik."

__ADS_1


Kata Mbak Ukha pada Bibik Nur.


Bibik Nur tampak celingak-celinguk,


"Dia bilang, yang mereka lihat bukan dia, apa maksudnya?"


Mbak Ukha menatap Bibik Nur yang jadi mengerutkan kening.


"Maksudnya? Hantu? Hantu yang mereka lihat? Mereka siapa? Warga?"


Tanya Bibik Nur sambil duduk di salah satu kursi di ruang makan juga.


"Lalu siapa kalau bukan Mirna? Dia jadi hantu, lalu ada hantu lagi yang menyerupai dia? Apa begitu Bik?"


Mbak Ukha menatap Bibik,


"Lah kamu tadi tidak tanya yang jelas."


Kata Bibik,


"Bibik, aku tidak sedang bercanda."


Mbak Ukha tampak kesal.


"Lah, siapa yang bilang kamu sedang bercanda? Bibik juga tahu kamu tidak sedang bercanda."


Kata Bibik.


Mbak Ukha meminum air putihnya lagi hingga habis, lalu...


"Aku harus kembali ke rumah Nyi Parijem, Bik. Dia sudah bohong katanya tidak ada hantu yang akan masuk ke rumah ini, dan aku juga ingin tahu, ada apa sebetulnya ini. Apa maksudnya dengan ada lebih dari satu hantu dengan bentuk Mirna..."


Bibik mantuk-mantuk setuju dengan keinginan Mbak Ukha yang akan menemui Nyi Parijem lagi.


Sementara, tanpa mereka sadari, Mirna kini berbaring di samping dedek Panji.


Ia tampak mengeloni anaknya seolah ia masih hidup, meskipun, matanya tampak menatap kedua orang yang kini duduk di ruang makan.


Terutama menatap Mbak Ukha, sang kakak iparnya.


Kakak ipar yang sebetulnya sejak awal ia dikenalkan, Mirna sudah tahu jika Mbak Ukha tak begitu menyukainya.


Entah untuk alasan apa, tapi yang jelas Mbak Ukha tak pernah benar-benar memberikan hatinya untuk menerima Mirna menjadi bagian dari keluarganya.


Tapi...


Tapi meskipun begitu, sejatinya Mirna tak pernah membenci kakak iparnya itu.


Ia tahu kakak iparnya hanyalah seperti kakak ipar lainnya yang suka julid dan tidak jelas alasannya memusuhi adik ipar.

__ADS_1


Namun, jika ia berbuat jahat pada Mirna, atau kepada keponakannya, tentu Mirna tahu, Mbak Ukha tak akan melakukannya.


**------------**


__ADS_2