Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
28. Sedihnya


__ADS_3

"Tapi aku kasihan dengan Mbak Mirna."


Kata Lukman setelah acara tahlilan Mirna selesai.


Ibu yang duduk di ruang, sementara Bibik Nur yang menggendong dede Panji sambil berjalan bolak balik supaya dede Panji tertidur terlihat menatap Lukman yang tengah makan lemper sambil duduk di sebelah Ibunya.


Mbak Ukha sendiri masih di luar sibuk bebenah bersama Paman dan beberapa tetangga lain yang membantu membereskan tempat acara.


"Sepertinya Mas Yanto ada kesalahan pada Mbak Mirna, makanya dia tidak tenang."


Kata Lukman.


"Hus, kamu ini, kenapa malah menjelekkan kakaknya mu sendiri."


Hardik Ibu.


Lukman meneguk air putih dingin dari gelas yang ia baru tuang dari kulkas.


"Bukan menjelekkan Mas Yanto, Bu. Aku hanya merasa bahwa tidak mungkin sesuatu terjadi tanpa sebab. Kita kan tahu jika Mbak Mirna selama hidup itu baik sama siapa saja, sama kita saja sudah macam saudara sendiri, bukan kayak sama ipar."


Kata Lukman.


Tampak Bibik Nur mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan Lukman.


Memang benar jika rasanya mustahil jika Mirna sampai akhirnya tidak tenang jika tidak ada masalah yang membuatnya demikian.


Tapi, apa kira-kira masalahnya?


"Kamu kan lihat sendiri, bagaimana kang mas mu terpukul? Dia bahkan sampai tidak mau makan berhari-hari, jika memang mereka ada masalah, pasti dia tidak apa-apa."


Kata Ibu.


Lukman menghela nafas,


"Ibu... Ibu, orang yang merasa bersalah akan merasa sedih yang justeru jauh lebih besar daripada orang yang cuma sayang. Karena rasa bersalah akan memicu rasa penyesalan, dan itu akan membuat kesedihan lebih terasa sangat membebani."


Kata Lukman.


"Halah, anak kecil tahu apa, sok tahu."


Tiba-tiba Mbak Ukha masuk membawa nampan berisi beberapa piring kecil yang kosong bekas wadah suguhan untuk orang-orang yang datang tahlilan.


"Lho, Nyi Parijem sendiri juga bilang sama Mbak Ukha to, kalau Mbak Mirna ada masalah yang harus dia urus, kalau masalah itu bukan dengan Mas Yanto, lantas sama siapa? Sama Mbak Ukha kali, yang jadi kakak ipar kadang julid."


Kata Lukman kesal dikata sok tahu.


"Eh enak saja julid, aku tidak begitu."


Omel Mbak Ukha.


"Lah Mbak Ukha kayak tidak ingat pas Mas Yanto memutuskan bangun rumah, katanya pengantin baru sudah maksa bangun rumah sampai hutang bank pakai jaminan sertifikat Ibu, kalau bukan karena nuruti Mbak Mirna yang manja, Mas Yanto tidak akan pernah terbelit hutang begitu, ya kan?"


Lukman tampak benar-benar kesal.


"Lho kamu tahu apa? Kamu kan masih anak bau kencur, tidak tahu malunya kita yang orang dewasa saat Yanto tidak bisa bayar cicilan, dan sampai harus ada orang Bank nagih ke sini bolak balik. Kalau waktu itu suamiku tidak kasih pinjam, mau apa? Ini rumah peninggalan Bapak kan bisa hilang."


Kata Mbak Ukha tak kalah emosi.


Lukman berdiri dari duduknya.


"Ya cuma perkara hutang begitu, Mbak Ukha sampai julidnya ke Mbak Mirna, tidak tahu juga yang aslinya ingin bangun rumah mungkin Mas Yanto sendiri."


Kata Lukman.


"Ah mana mungkin Yanto begitu, wong dia sudah punya mobil juga sudah senang, rumah ini masih luas, pasti aslinya juga tidak masalah dia tinggal di sini saja daripada sampai hutang-hutang."


Mbak Ukha tetap nyolot.


"Eh... Eh... Apa sih kalian? Kenapa malah ribut."


Ibu menyela sambil marah,


"Lah Lukman, bukannya belain kakak sendiri malah belain kakak ipar yang jadi hantu gentayangan. Sudah mempermalukan kita gara-gara hutang bank, sekarang juga harus mempermalukan kita jadi hantu. Ini juga kan nambah beban Ibu kan, ninggalin anak bayi."

__ADS_1


Kata Mbak Ukha.


"Ukha!"


Ibu dan Bibik Nur hampir bersamaan.


"Kamu ini kok yo mulutnya berlebihan."


Kata Bibik Nur.


Mbak Ukha tampak bersungut-sungut.


Lukman menggelengkan kepalanya seraya berjalan keluar dari ruang dalam menuju keluar rumah dan memilih duduk saja di sana melihat Paman mengawasi beberapa orang yang membongkar tenda.


Pemuda itu tampak menekuk wajahnya karena merasa masih kesal dengan Mbak Ukha.


Rasanya heran dalam dirinya memikirkan kenapa kakak ipar perempuan seringkali seperti ingin memusuhi adik ipar perempuannya.


Lukman menatap jalanan yang lengang. Jalanan yang sebetulnya di sana ada yang tengah menatapnya dari kejauhan dengan wajah sedih, namun sayangnya Lukman tak mampu melihat sosoknya.


**-------------**


"Bapak-bapak hari ini tidak pada kumpul di poskamling?"


Tanya pemilik warung kopi di mana beberapa bapak warga kampung pindah kumpul-kumpul di tempatnya.


"Aduh, yang benar saja, apa harus kami cerita soal kejadian kemarin dulu itu? Masih bagus ini kami masih mau tetap jaga kampung meskipun kumpulnya di sini."


Kata seorang Bapak.


"Lah, yang akan keliling kampung nanti siapa?"


Tanya pemilik warung.


"Tidak usah keliling, wong kita kan ini duduk-duduk di warung dekat jalan utama kampung, kalau ada maling ya pasti larinya ke sini."


Kata salah satu Bapak.


"Ya kalau larinya ke sini, kalau larinya ke kuburan ya tidak ketahuan."


"Mana ada yang berani lari ke kuburan sekarang, yang ada nanti ketemu Mirna."


"Eh jangan nyebut namanya, nanti dia datang lagi."


"Ah jauh lah, ini kan dekat jalan raya, dia tidak akan tahu."


Bapak-bapak semua lalu tertawa.


"Tapi itu berarti benar ya? Penampakan kuntilanak yang sedang bolak-balik banyak warga lihat itu mendiang isteri Pamong Yanto?"


Tanya si pemilik warung kepo.


Para bapak yang ngopi-ngopi tampak mengangguk.


"Itu persis dia wajahnya?"


Tanya Pemilik warung lagi memastikan.


"Iya, persis, cuma putih sekali, pucat,"


Ujar salah satu bapak.


"Kasihan juga ya, padahal kayaknya saya pernah ketemu beberapa kali dulu itu orangnya ramah sekali."


Ujar pemilik warung.


"Bukan cuma ramah, dia juga cantik sekali, kalau yang meninggal pamong Yanto pasti sudah jadi rebutan itu jandanya."


Seloroh salah satu Bapak yang disambut tawa lainnya.


Pemilik warung tampak hanya mesem saja, ia tentu tak enak dengan gurauan semacam itu.


"Winda kalah ya? Janda kembang kampung kita."

__ADS_1


Kata Bapak yang lain.


"Yo kalah, jauh itu, jauh cantik Mirna ke mana-mana. Winda cuma menang make up dan seksi itu, dan pintar tebar pesona tampaknya."


"Ah tapi isteriku pernah aku dengar lagi bahas soal Winda katanya pernah kepergok pulang dari pasar dijemput Pamong Yanto."


Si Bapak menggosip.


"Loh, apa iya?"


Semua pun jadi kepo.


"Iya, aku tanya malah, katanya jelas sekali itu Pamong Yanto yang jemput Winda, sepertinya mereka CLBK sebelum isteri Pamong Yanto meninggal."


"Maksudnya Pamong Yanto selingkuh?"


"Yaa, biasalah, selingkuh, selingan indah keluarga utuh."


Kata salah satu Bapak lagi.


"Wah parah, isteri sudah secantik itu masih tergoda janda."


"Halah, coba saja kamu dideketi Winda juga tidak akan nolak."


"Wah tidak mungkin, aku ini setia."


"Bukan setia, kamu itu karena belum ada kesempatan saja, wong nganggur yang kerja isteri, berani selingkuh pengin di usir dari rumah?"


Hahahaha...


Dan semua terbahak-bahak,


Mereka terus menceritakan soal Mirna, baik saat ia masih hidup maupun setelah Mirna meninggal.


Tentu saja, hal ini memang bukan lagi hal yang aneh di negara kita, di mana sebuah kabar akan bisa jadi sumber pembahasan yang sepertinya sangat menarik.


Tak peduli seberapapun seringnya ikut pengajian, nyatanya ghibah telah menjadi bagian dari kegiatan masyarakat yang dianggap wajar, bahkan jika ada orang yang tidak ikut kegiatan tersebut, malah justeru dianggap aneh.


Sebuah angkutan tampak berhenti tak jauh dari warung, turun seorang laki-laki dengan dua keranjang berisi kerupuk.


"Man, pulang Man?"


Sapa Bapak-bapak yang ada di depan warung,


Laki-laki tua yang baru turun dari angkot dan kini mulai memasang pikulannya tampak mengangguk.


"Iya, ini baru pulang, monggo Bapak-bapak."


Kata laki-laki tua penjual kerupuk.


Laki-laki tua itu berjalan tertatih-tatih membawa pikulannya menyusuri jalanan kampung, melewati warkop yang memang letaknya dekat jalan masuk utama desa hingga langsung menghadap jalan raya.


Laki-laki tua penjual kerupuk terus berjalan pulang. Rumahnya laki-laki tua itu dekat dengan balai desa, jika melewati jalanan kampung akan sangat jauh, maka ia biasanya akan memotong jalan melalui jalan pintas yang harus melewati jalan depan pemakaman umum dan akan langsung terhubung dengan gang dekat bale desa.


Laki-laki tua yang telah lelah itu tampak berjalan pelan, hingga dekat area pemakaman ia melihat sosok perempuan bergaun putih duduk di atas tembok pagar pemakaman umum.


Ia duduk di sana menatap ke arah laki-laki tua itu.


Laki-laki tua yang sudah terbiasa bertemu hantu itupun berjalan biasa saja, ia tampak acuh tak acuh, hingga kemudian ia benar-benar melewati depan tembok pagar di mana sosok perempuan itu duduk.


Sosok perempuan yang duduk di tembok pagar itupun menyapa...


"Man, pulang maaan?"


Tanya sosok perempuan itu,


si laki-laki tua penjual kerupuk menoleh sebentar, lalu tersenyum,


"Jangan terlalu sering menampakkan diri, nanti kau akan sakit sendiri."


Ujar si laki-laki tua penjual kerupuk, lalu melanjutkan jalannya menuju gang kecil yang gelap di mana hanya ada satu lampu kecil dari belakang bangunan bale desa sebagai penerangan.


Sosok perempuan yang duduk di tembok pagar pemakaman tampak menatap si laki-laki tua penjual kerupuk dengan wajah sedih, karena mendengar kalimat yang laki-laki tua itu ucapkan.

__ADS_1


**----------------**


__ADS_2