
Hantu Marni tampak bersimpuh di samping Yanto yang masih memeluk toples plastik kecil berisi barang-barang Mirna.
Nyi Parijem terlihat menatap galian tanah di kamar Tita yang kini telah kosong.
"Tutuplah lagi."
Kata Nyi Parijem.
Munir dan Lukman pun segera menuruti perintah.
Nyi Parijem lantas menghampiri Yanto, tampak Yanto menengadahkan wajahnya ke arah Nyi Parijem, ia menatap Nyi Parijem.
"Kau sudah tahu sekarang, bahwa sejatinya isterimu adalah kembaran kekasihmu dahulu, ia yang kini menjadi hantu jahat karena ulah dukun atas permintaan perempuan yang kau pacari."
Kata Nyi Parijem,
Marni di samping Yanto menangis mendengar Nyi Parijem membuka semuanya.
Munir dan Lukman serta Mbak Ukha yang ikut mendengar terlihat ikut merasakan betapa pasti sakit sekali hati Marni dan Mirna selama ini.
"Mirna mati karena mengaborsi janin yang merupakan anakmu, Marni yang mati karena diguna-guna selingkuhanmu, dan selingkuhanmu juga melakukan semuanya karena dulu kau menghianatinya begitu ada Mirna."
Nyi Parijem terdengar sinis, tentu saja setelah semua yang ia dengar dan ia melihat dengan mata batinnya, buatnya memang semua kesalahan benar-benar ada pada diri Yanto sendiri.
Nyi Parijem menghela nafas,
Yanto di tempatnya menangis tersedu-sedu, ia tahu sebagai laki-laki ia sama sekali tak mencerminkan seorang laki-laki yang bertanggungjawab pada siapapun pada akhienya.
Nyi Parijem lantas mendekat ke arah Yanto, ia mengucap mantera, komat-kamit sambil dengan kedua mata terpejam.
Cucu Nyi Parijem terlihat membakar kemenyan, lalu dengan sigap menyiapkan bunga dan air serta meletakkan kemenyan di sudut sebelah selatan.
Di penglihatan Nyi Parijem saat ini, tampak hantu Mirna yang tengah meronta-ronta minta dilepaskan oleh mahluk tinggi besar.
Pak Sono, sang dukun komat-kamit pula sembari duduk sila.
Nyi Parijem mendatanginya dengan kebatinannya,
"Hey Sono!!"
Gertak Nyi Parijem,
Diketahui jika Pak Sono ilmunya jauh di bawah Nyi Parijem, usia mereka yang terpaut jauh juga mempengaruhi bagaimana kehebatan masing-masing.
Pak Sono terkejut tentu saja, karena ia ternyata harus berhadapan dengan Nyi Parijem,
"Lepaskan hantu itu, kau tak berhak melukainya."
Kata Nyi Parijem dengan nada memerintah.
__ADS_1
"Dia datang sendiri dan mengganggu orang yang meminta pertolongan padaku, tentu aku berhak melakukan apapun padanya."
Ujar Pak Sono.
Nyi Parijem melompat ke hadapan Pak Sono,
"Lancang! Berani-beraninya kau membantahku! Dia hantu Mirna datang karena energi jahat yang kau gunakan untuk mengundang hawa jahat agar isteri Yanto mati. Kau gunakan apa yang tertanam di rumah itu untuk menjadikan Mirna benar-benar menjadi hantu, kau benar-benar laknat Sono!"
Kata Nyi Parijem.
Pak Sono terkekeh,
"Salah dia sendiri tentu saja mati aborsi dan tak tenang sampai saat ini."
Pak Sono terlihat malah menantang, meskipun sebetulnya ia tak yakin akan bisa mengalahkan Nyi Parijem jika memaksakan diri melawan.
Nyi Parijem yang tak lagi sabar, tentu saja langsung menghajar Pak Sono.
Tanpa ampun, Nyi Parijem mengeluarkan kekuatan gaib yang tak bisa ditangkis Pak Sono.
Laki-laki dukun itu terpental, seiring dengan itu, mahluk tinggi besar yang memegangi Mirna pun ikut terpental.
Mirna terlepas dari pegangan mahluk tinggi besar itu, ia melayang cepat pergi melarikan diri,
Nyi Parijem mengikuti Mirna yang melayang pulang ke tempat di mana ia dulu bersemayam, yaitu di dalam foto lamanya bersama Marni.
Di dunia nyata, pak Sono yang duduk bersila di dalam kamar Winda terpental dan muntah darah tiba-tiba.
Ada apa?
Ada apa ya?
Mereka tentu saja tidak tahu jika dukun Sono baru saja dihajar oleh Nyi Parijem dengan ilmu kebatinan.
Winda di atas tempat tidur mengejang, lalu tak sadarkan diri.
"Bawa saja dia ke rumah sakit, hantunya sudah pergi..."
Kata Pak Sono pada Ibunya Winda dan para warga.
"Saya menyerah, saya menyerah."
Kata Pak Sono pula.
Sementara itu Nyi Parijem dengan mata batinnya mengikuti Mirna, hingga Mirna kemudian masuk ke tempat yang sama.
Mirna menatap Marni yang kini berada di samping Yanto yang terduduk dengan memeluk toples berisi benda-benda milik Mirna.
Tampak Mirna melayang mendekat.
__ADS_1
"Kau dalam pengaruh energi jahat yang dikirim Sono, sadarlah Mirna."
Kata Nyi Parijem,
Mirna menatap Nyi Parijem,
"Yanto sudah tahu isterinya bukanlah kekasihnya selama ini, Yanto pastinya akan dengan senang hati menguburkanmu dengan layak."
Kata Nyi Parijem lagi.
Mirna begitu mendengar itu tampak wajahnya yang semula mengerikan berubah menjadi seperti Marni.
Ia menangis, lalu bersimpuh di hadapan Yanto.
"Dia ada di sini, di depanmu Yanto."
Kata Nyi Parijem sembari membuka kedua matanya,
Yanto tubuhnya tampak gemetaran,
"Mintalah maaf pada Mirna juga, bagaimanapun dia aborsi karena kau sebagai laki-laki tak seharusnya menghamilinya sebelum kalian menikah."
Ujar Nyi Parijem,
Yanto menangis tersedu-sedu, rasa bersalahnya benar-benar membuncah.
"Minta maaflah, lalu kita ke tempat ia dikuburkan, agar bisa kita kuburkan dengan layak. Kasihan dia."
Kata Nyi Parijem pula.
Yanto mengangguk, ia tahu bahwa harus ada yang ia lakukan untuk Mirna juga agar kekasihnya itupun bisa pergi dengan tenang.
Yanto menyeka air matanya yang terus menetes,
"Mirna... Mirna kekasihku."
Yanto memanggil tanpa melihat sosoknya.
Tapi Mirna yang ada di hadapannya tentu saja menangis haru.
Marni yang selama ini menjadi Mirna dan merebut posisinya menjadi isteri Yanto berusaha berbesar hati melayang keluar dari kamar.
"Aku sungguh tidak tahu kau hamil Mir, kenapa kau tak memberitahuku? Sungguh jika aku tahu, pasti aku akan menikahimu."
Kata Yanto menangis pilu.
Lalu...
**------------**
__ADS_1
(Hahahah pada marah nih pasti karena lalu lalu)