Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
47. Celaka


__ADS_3

"Jadi, maksud Mbak Ukha..."


Lukman ternganga tak percaya menatap kakak perempuannya.


Ada dua hantu dengan rupa Mbak Mirna, jika salah satunya adalah benar Mbak Mirna, maka yang satunya siapa?


Mbak Ukha mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dia bukan Mirna, Man, ada hantu lain yang menyerupai Mirna di luar sana, yang menyebar teror di kampung ini entah untuk tujuan apa."


Lirih Mbak Ukha.


Lukman menghela nafas, otaknya jadi ruwet memikirkan kemungkinan siapa sebetulnya yang membuat ulah.


Ibu yang terlihat sedang mengeloni dede Panji kemudian berkata,


"Wis besok lagi dibahas, sudah malam, apa kalian tidak ingin tidur."


"Nanti Bu, belum ngantuk, lagipula ini penting."


Kata Mbak Ukha.


Ibu menghela nafas,


Apa pentingnya membahas hantu, yang ada Ibu mendengarnya saja jadi merinding. Belum juga selesai masalah Yanto di supermarket tadi, lalu Ukha di rumah, sekarang si Junaedi anak tetangga.


"Besok Mbak akan ke Nyi Parijem."


Kata Mbak Ukha melanjutkan pembicaraan, seolah susah berhenti membahas soal hantu sang adik ipar.


Lukman menatap Mbak Ukha,


"Mbak akan ajak Yanto, lama-lama Mbak pikir kamu mungkin memang benar, jika ada sesuatu yang membuat Mirna tak tenang. Meskipun, Mbak juga tak bisa menuduh Yanto melakukan sesuatu pada Mirna."


Kata Mbak Ukha setengah bisik-bisik, takut Yanto yang tidur di kamar belakang mendengar.


Lukman mengangguk,


"Mungkin tak secara langsung, tapi jelas itu cukup berpengaruh."


Kata Lukman.


Lalu...


"Mbak."


Panggil Lukman,


"Kenapa Mbak Ukha percaya itu bukan Mbak Mirna?"


Tanya Lukman penasaran,

__ADS_1


Mbak Ukha balas menatap sang adik, hatinya juga merasa aneh, tapi sungguh ia bisa merasakan jika yang ia dengar dari hantu yang menemuinya itu memang benar.


Apalagi...


Mbak Ukha lantas teringat cerita pemilik warung,


"Ibunya Junaedi."


Kata Mbak Ukha Kemudian,


"Ibunya Junaedi? Kenapa dia?"


Tanya Lukman,


"Ibunya Junaedi cerita, kalau ada orang yang rumahnya dekat kuburan pintu rumahnya diketuk-ketuk, pas dibuka ternyata Mirna tapi wajahnya rusak."


Tutur Mbak Ukha,


"Khaaa, sudah..."


Ibu dari tempatnya terdengar kembali mengingatkan.


"Sabar Bu, ini penting."


Kata Mbak Ukha.


Lukman mantuk-mantuk setuju, bahwa kali ini memang pembahasan soal hantu Mbak Mirna malah lebih seperti teka-teki yang butuh jawaban.


Tanya Lukman, yang lantas membuat Mbak Ukha mengangguk,


"Nah itu maksud Mbak Ukha, Man. Bahwa sejak tadi Mbak Ukha denger kisah dari pemilik warung, lalu kemudian mendapat bisikan dari Mirna, rasanya Mbak Ukha makin yakin memang hantu yang gentayangan di luar sana bukan Mirna, Man, tapi sosok lain,"


Lirih Mbak Ukha,


"Apa mungkin ini melibatkan manusia?"


Gumam Lukman, sambil otaknya sibuk berandai-andai, siapa kiranya yang akan tega melakukan hal itu, dan atas dasar kepentingan apa, hingga sampai membuat teror seperti itu dengan memanfaatkan Mbak Mirna.


"Hantu penjual kerupuk itu, apa pernah dengar dia penampakan lagi?"


Tanya Mbak Ukha kemudian pada Lukman,


Tampak Lukman mengedikkan bahu,


"Kalau Mbak tidak tahu, bagaimana dengan ku, setiap hari aku tidak pernah duduk dengan orang sini, teman sebayaku di kampung juga sudah tidak seasik dulu, malas lah mau terlalu sering nimbrung."


Sahut Lukman,


Mbak Ukha menghela nafas,


"Iya juga, kamu bener sih Man."

__ADS_1


"Mungkin hanya sekali itu, sekarang yang jelas membuat heboh adalah Mbak Mirna, sudah pasti mulai besok, ia akan makin sering jadi bahan gunjingan, kasihan dia."


Ujar Lukman lirih,


**--------------**


Winda baru keluar dari tempat Pak Sono, ia membawa sebuah botol berisi air lagi.


Hanya botol kaca kecil, yang lantas dimasukkannya ke dalam bagasi motornya.


Winda akan segera pulang, ia lelah sangat malam ini.


Yanto belum juga ada kabar, dihubungi pun percuma, hp nya dimatikan.


Winda kesal tapi tak tahu harus dilampiaskan pada siapa.


Ia naik ke motornya, lalu melajukan motor itu menuju rumahnya sendiri.


Kali ini ia pulang lewat jalan besar, sengaja lewat jalan besar karena ramai, dan memang rumah Winda juga ada di dekat jalan besar.


Winda melajukan motornya sambil sedikit melamun, hingga saat di jalan yang sudah dekat dengan rumahnya, tiba-tiba dari jarak yang masih jauh, Winda melihat perempuan yang seperti sedang berjalan menyebrang,


Perempuan itu berjalan pelahan, dengan wajah menengok ke arah Winda, makin lama wajah yang terkena sorot sinar lampu motor Winda itu seperti tak asing untuk Winda...


Hah!!


Winda terpekik, manakala jarak mereka tinggal sekitar lima meteran, di mana wajah itu makin jelas adalah wajah Mirna, mendiang isteri Yanto.


Winda sempat akan oleng, saat perempuan mirip Mirna itu menghentikan jalannya, dan berbalik arah menghadang Winda.


Winda yang kaget hampir kehilangan keseimbangan, dan satu mobil melesat cepat menyalip dari belakang, dan...


Mobil itu menabrak si perempuan mirip mendiang Mirna.


Winda spontan menjerit, ia dan motornya terbanting ke arah kiri,


Mobil itu menembus tubuh perempuan mirip Mirna, namun sosok itu juga lantas dalam sekejap menghindar.


Beberapa kendaraan yang melintas, melihat Winda terpelanting ke pinggir jalan tampak menepi lalu menolong Winda.


Winda celingak-celinguk, ia seperti orang linglung, mencari sosok isteri Yanto.


"Mau saya antar ke klinik Mbak?"


"Apa diantar pulang saja Mbak?"


Berisik orang bertanya, Winda menggeleng cepat,


Ia lebih terfokus mencari sosok Mirna yang tadi jelas berdiri di tengah jalan.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2