
Marni?
Siapa tuh?
Lukman dan Mbak Ukha bingung, keduanya celingak-celinguk.
(Bakul Lombok Mbak, bisik othor)
Aroma kemenyan bercampur bunga kuburan kini tercium pekat, Mbak Ukha yang merasakan tubuhnya semakin merinding tampak tangannya mencoba meraih lengan Lukman lagi.
Lukman dan Mbak Ukha menatap Nyi Parijem yang berjalan tertatih-tatih mendekat, dan kemudian duduk di depan mereka.
Cucu Nyi Parijem yang membantu Nyi Parijem duduk di atas tikar, menghadapi baskom berisi air bunga tujuh rupa.
Setelah Nyi Parijem duduk, sang cucu meletakkan wadah sirih, kain kafan, kapuk, daun pandan, dan kapur barus.
Nyi Parijem membuka wadah sirihnya, menatanya dengan pelan, membuat Mbak Ukha dan Lukman rasanya semakin olahraga jantung karena suasana terasa sangat tidak nyaman.
Sementara itu, cucu Nyi Parijem tampak membakar kemenyan di sudut ruangan, dibawanya keluar, namun menyisakan aroma yang khas di dalam ruangan.
Hingga...
"Belum genap empat puluh hari, tapi kalian sudah kembali datang."
Kata Nyi Parijem,
Mbak Ukha dan Lukman sejenak saling bertukar pandang, lantas Lukman yang akhirnya memberanikan diri menjawabi Nyi Parijem,
"Maaf Nyi, kami tahu harusnya kami datang setelah empat puluh harinya Mbak Mirna selesai, namun apa yang terjadi hampir setiap hari membuat kami mulai takut dan khawatir, terutama karena para warga semakin bergunjing di luar soal penampakan isteri Mas Yanto."
Kata Lukman.
Nyi Parijem menghela nafas,
"Ini semua salah perempuan selingkuhan kakakmu."
Kata Nyi Parijem,
Mendengar Nyi Parijem berkata selingkuhan, tentu saja Mbak Ukha dan Lukman tampak terkejut,
"Mak... maksudnya bagaimana Nyi?"
Tanya Mbak Ukha,
__ADS_1
"Dia meminta seorang dukun untuk mengerjai saudara kalian, ini yang membuat hantu Mirna datang, mereka mengundang hantu yang harusnya sudah terkubur lama."
Kata Nyi Parijem, dan tentu saja Mbak Ukha dan Lukman tampak semakin kebingungan,
"Hantu... Hantu Mbak Mirna, atau apa Nyi?"
Tanya Lukman,
Nyi Parijem mengunyah sirihnya, lalu kemudian meludah dengan ludah warna merah ke dalam wadah yang selalu disediakan cucunya bersama wadah sirih,
"Ya Mirna, tapi perempuan yang selama ini kalian kenal itu bukan Mirna, tapi Marni."
Kata Nyi Parijem kemudian,
"Dia kini duduk di sebelahmu Mbak."
Ujar Nyi Parijem lagi menatap Mbak Ukha yang langsung nyaris melompat sambil menoleh ke arah kirinya yang kosong, karena Lukman duduk di samping kanannya.
Nyi Parijem menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Marni, dia hanya tidak ingin anak-anaknya punya Ibu tiri jahat, dia tak pernah mengganggu warga. Dia hanya ingin pulang, tapi rumahnya dikuasai perempuan selingkuhan suaminya yang bodohnya malah memanggil hantu kembarannya."
"Ap... Apa yang Nyi Parijem bicarakan? Marni, dia itu siapa?"
Mbak Ukha benar-benar tidak mengerti.
Kata Nyi Parijem sedikit marah,
Mbak Ukha pun memandang Lukman,
"Coba kamu telfon Man, suruh ke sini si Yanto."
Kata Mbak Ukha.
Lukman yang sedang sibuk memikirkan soal kakak iparnya ternyata bernama Marni, dan ia memiliki kembaran yang ternyata menjadi hantu jahat yang datang karena campur tangan seorang dukun atas perintah seseorang, akhirnya tak begitu mendengar kata-kata Mbak Ukha,
"Man, Lukman."
Mbak Ukha menggoncang lengan Lukman, dan barulah Lukman tersadar,
"Kenapa Mbak?"
Tanya Lukman,
__ADS_1
"Yanto, telfon dia, suruh datang ke sini, selesaikan semuanya, anak tidak tahu diuntung, bagaimana bisa dia selingkuh!"
Mbak Ukha kesal bukan main,
Nyi Parijem tampak mengunyah sirih lagi, sementara di samping Mbak Ukha sosok perempuan bernama Marni tampak memandangi kakak iparnya yang selama ini selalu terlihat sinis padanya.
Wajah sosok itu terlihat sedih, namun sekaligus juga haru, melihat ternyata kakak iparnya seolah membela dirinya yang telah disalahi adiknya semasa hidup.
"Yanto, semua adalah karena dia, suruh dia ke sini."
Kata Mbak Ukha,
"Mas Yanto sejak dari supermarket tidak bawa hp Mbak, dia masih takut."
Kata Lukman,
"Apa aku jemput saja?"
Tanya Lukman pula,
Mbak Ukha yang takut ditinggal tentu saja langsung menggeleng tidak setuju,
"Telfon Munir saja, apa Rahmat."
Ujar Mbak Ukha memerintahkan,
Lukman pun akhirnya mengangguk menurut, ia permisi sebentar untuk keluar karena harus menelfon, tapi Nyi Parijem menyuruh Lukman ke belakang rumah saja.
"Kenapa Nyi?"
Tanya Lukman heran,
"Turuti saja, tidak usah tanya kenapa, yang pasti ini supaya masalah kalian cepat beres."
Omel Nyi Parijem, membuat Lukman akhirnya cepat-cepat mengangguk dan terburu-buru menurut berjalan ke bagian belakang rumah saja.
Mbak Ukha sendiri, sepeninggal Lukman tampak menggeser duduknya lebih ke kanan, karena tak mau terlalu dekat dengan hantu adik iparnya.
Ah siapa kata Nyi Parijem?
Marni?
Kenapa selama ini namanya adalah Mirna?
__ADS_1
Batin Mbak Ukha bingung.
**--------------**