Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
67. Tabirpun Tersingkap


__ADS_3

Sosok perempuan bergaun putih dengan rambut panjang menjuntai ke bawah melayang hanya sampai depan pintu,


Sosok itu tak bisa masuk, wajahnya sedih, karena sebetulnya ia ingin sekali menyaksikan Yanto, suaminya akhirnya tahu segalanya.


"Buka Yan."


Tiba-tiba suara Mbak Ukha terdengar di ambang pintu kamar.


Lukman tampak melewati Kakak perempuannya untuk masuk ke dalam kamar Tita lagi.


Yanto yang sempat menoleh ke arah Mbak Ukha, lantas menatap Lukman dan Munir bergantian, yang dimana keduanya tampak menganggukkan kepala tanda sama seperti Mbak Ukha, ingin Yanto cepat membukanya agar semua bisa jelas.


Yanto akhirnya mengangguk, dengan tangan tergetar Yanto pun tampak membuka kotak kayu tersebut,


Tampak ia begitu hati-hati, sekian detik ia menatap isi kotak kayu itu sebelum kemudian...


"Hah."


Yanto melempar kotak itu ke galian tanah lagi, membuat semua yang ada di sana bingung karena tidak tahu apa sebetulnya isi kotak tersebut.


"Apa Yan?"


Tanya Mbak Ukha,


Munir tampak sigap akan mengambil lagi kotak kayu tersebut, saat Yanto berteriak...


"Tidak... tidak mungkin, jangan Nir!"

__ADS_1


Kata Yanto mundur-mundur, wajahnya pucat dengan mata terus menatap galian tanah sambil kepalanya menggeleng-geleng seolah ia takut atau apa dengan yang baru ia lihat.


Munir yang terlanjur penasaran lantas tetap mengambil kotak kayu itu, dan tampak beberapa benda jatuh dari kotak kayu tersebut karena posisinya yang sudah terbuka memang terbalik.


Munir dan Lukman memandangi benda-benda itu, ada seperti wadah plastik macam toples kecil, gaun, dan foto.


Mbak Ukha mendekat ke arah Lukman yang tampak meminta Munir mengambil barang-barang itu.


Yanto beringsut ke pojok, ia macam orang stres, ia tampak mencengkram rambut kepalanya dengan kedua tangannya.


Munir memunguti barang yang berceceran dari kotak kayu dan memberikannya pada Lukman.


Lukman menerima ketiga barang yang diberikan Munir padanya.


Mbak Ukha terlihat berjongkok di samping Lukman, ikut melihat ada apa sebetulnya.


Dan...


Foto dua anak perempuan kembar sekitar usia sepuluh tahunan berdiri bergandengan tangan di depan rumah panti asuhan di salah satu kota di luar pulau jawa.


Lukman membalik foto tersebut, di mana di belakangnya tampak ada tulisan tangan.


Marni-Mirna 2001.


Lalu ada tulisan lagi.


Maafkan aku Mirna, ijinkan aku menjadi dirimu mulai saat ini. Maafkan aku belum bisa memakamkanmu dengan layak, kelak aku akan kembali ke tempat dukun aborsi untuk mengambil mayatmu, agar kamu bisa aku kuburkan dengan layak Mir. Aku bersumpah Mir, jika tidak, kamu boleh menghantuiku seumur hidup.

__ADS_1


Lalu Marni menggambar emot menangis berjejer sangat banyak.


Mbak Ukha dan Lukman saling bertukar pandang, lantas menoleh ke arah Yanto.


"Jadi dia tidak sadar menikahi orang yang berbeda,"


Kata Mbak Ukha,


"Berarti Mirna yang asli melakukan aborsi, dan saudara kembarnya yang selama ini kita tahunya dia adalah Mirna yang menjadi isteri Mas Yanto."


Lirih Lukman.


Lalu, Lukman mengambil cincin di saku celananya,


"Mungkinkah ini punya Mirna?"


Gumam Lukman lagi, dengan suara lirih,


Bersamaan dengan itu terdengar suara seperti motor berhenti di halaman rumah, Mbak Ukha segera berdiri dan bergegas keluar,


Terlihat dua motor di sana.


Nyi Parijem dan cucunya turun dari boncengan ojek yang mengantar mereka.


Mbak Ukha yang memesankan tadi,


Mbak Ukha cepat menghampiri tukang ojek untuk membayarkan ongkos mereka, lalu menggandeng Nyi Parijem menuju rumah.

__ADS_1


Tapi...


**-----------**


__ADS_2