
"Aku kan sudah bilang padamu untuk melepaskanku."
\*\*\*
Sementara itu, Gallen baru memeriksa pesan yang dikirim Zoya lewat dari satu jam setelah Zoya mengirimkannya. Gallen memaki. Apapun alasan Kevin datang ke rumahnya, sudah pasti pria itu akan membuat masalah!
Aku harus pulang sekarang juga!
Gallen tidak bisa membiarkan Zoya menghadapi pria itu sendirian. Bahkan meskipun dia tak ingin mengakuinya, Gallen yang sudah lama mengenal Kevin jelas tahu jika pria itu bisa sangat menyebalkan saat penasaran akan sesuatu. Dan tampaknya dia tahu apa alasan pria itu sampai datang ke rumahnya tanpa pemberitahuan.
"Sialan!"
Gallen mengemudikan mobilnya dengan liar. Caranya mengemudikan mobil tak ada bedanya dengan orang gila. Dia tak peduli akan keselamatan orang lain, apalagi dirinya sendiri. Jika polisi melihatnya, sudah pasti mobil Gallen akan dihentikan. Tapi, dia tak peduli dengan semua itu. Karena satu-satunya hal yang dirinya pikirkan adalah bagaimana dia bisa segera sampai ke rumah.
Kenapa jalannya terasa panjang begini, sih?! Jika seperti ini kapan aku bisa sampai ke rumah?
Gallen terus melajukan mobilnya di sepanjang jalanan yang ramai. Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, dan Gallen benar-benar kehabisan akal hanya dengan membayangkan apa yang terjadi di rumahnya saat ini. Jika Kevin benar-benar melakukan sesuatu, jika pria kurang ajar itu benar-benar membuat Zoya berada dalam masalah ...
Aku tidak akan pernah memaafkannya!
Waktu perjalanan sebenarnya menjadi lebih singkat akibat kebrutalan Gallen dalam mengemudikan mobil, namun hal itu tak benar-benar terasa bagi Gallen. Pria itu lantas cepat-cepat turun dan memilih masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan mobilnya yang terparkir asal sebab melihat mobil Kevin yang masih ada di pelataran parkir rumahnya. Apa yang pria itu lakukan? Mengapa dia masih ada di rumahnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Gallen hingga dia tak lagi bisa berpikir jernih.
Gallen yang segera masuk ke dalam dengan tergesa-gesa itu, semakin dibuat terkejut saat melihat temannya---yang tak lagi ingin dia sebut sebagai teman, terlihat tengah mengungkung Zoya dalam dekapannya sedangkan gadis itu tampak tak berdaya di atas sofa.
"Brengsek!"
Gallen maju tergesa-gesa, menarik tubuh Kevin dari Zoya, lantas mendorong kasar tubuh pria itu hingga terjatuh di atas lantai yang keras.
"Zoya? Kau bisa dengar aku?"
Zoya tak lagi menyahut. Gallen yang berang menatap tajam Kevin, membuat pria itu semakin tergagap karena tak biasanya temannya itu bertingkah demikian, "Kau apakan Zoya?!"
Kevin berdiri dari duduknya dan mencoba untuk menjelaskan, "Dengarkan aku, Gallen. Aku tidak benar-benar berniat membuatnya meminum alkohol. Aku hanya sedikit menggodanya! Kau pasti tahu benar bagaimana sifatku, kan?"
Gallen mencoba menggoyang tubuh gadis itu, namun Zoya masih juga tak merespon, "Kalau Sampai Zoya kenapa-kenapa, kau akan habis!"
Gallen kemudian menendang keluar temannya itu dari rumah. Meski mungkin benar yang dikatakan Kevin bahwa dia tahu dengan jelas seberapa jahilnya pria itu, tetap saja Gallen tak bisa memaafkannya. Bagaimana mungkin pria itu melakukan hal demikian pada gadis lugu yang tidak tahu apa-apa seperti Zoya? Zoya bahkan mungkin tidak akan curiga dengan apapun yang orang lain berikan sekalipun itu sebenarnya adalah racun.
Melihat gadis itu yang tak lagi merespon, Gallen segera mengangkat Zoya untuk dibawa ke kamar. Tubuh gadis itu pasti akan sakit jika tertidur di sofa. Dan meskipun itu bukan karena Gallen, dia tetap akan bertanggung jawab. Dia sendiri yang akan menjaga gadis itu semalaman sebagai bentuk permintaan maafnya karena lalai menjaga Zoya dari orang-orang seperti Kevin.
__ADS_1
Gallen menidurkan Zoya di atas ranjangnya. Gadis itu tampak tenang, seperti tertidur. Jika bukan karena aroma alkohol yang begitu kuat, mungkin orang tak akan percaya bahwa gadis itu sebenarnya sedang mabuk.
"Maaf."
Kalimat itu lolos begitu saja. Padahal, Gallen bukan tipe orang yang akan mudah mengatakan kata-kata maaf pada orang lain. Lebih tepatnya, sangat sulit. Bahkan Zoya pun sering memarahinya karena kebiasaan buruknya tersebut. Namun saat melihat kondisi Zoya saat ini, hatinya terasa ngilu. Andai saja Gallen pulang lebih cepat, mungkin tak akan seperti ini jadinya.
"Aku akan menghajar Kevin nanti. Aku janji." Ujarnya. Pria itu memang harus diberi pelajaran, jadi Gallen pasti akan menepati janjinya.
Entah gadis itu mendengarnya atau tidak, Zoya mulai bergerak dengan gelisah.
"U-Uh."
Gallen menyentuh dahi Zoya untuk memeriksanya. Dia juga mencoba memanggil-manggil gadis itu.
"Kau dengar aku?"
Samar-samar, Zoya mendengar sesuatu. Ia tak tahu apa atau siapa yang terus memanggilnya tersebut, tapi gadis itu mulai berbicara sembarangan setelah itu.
"Aku tidak suka ... hm, aku tidak suka pria itu ... " Katanya. Bahkan matanya masih enggan terbuka.
"Siapa?" Gallen yang merasa tertarik justru ikut bertanya. Mungkin ini akan menjadi menarik. Dia bahkan menyalakan ponselnya untuk merekam.
Gallen menyeringai. Zoya pasti akan menjerit saat mengetahui rekaman video yang dirinya buat saat ini.
"Apakah kau ingin mengatakan sesuatu pada bos mu?" Tanya Gallen dengan jahil. Mungkin saja, Zoya akan meminta maaf atas semua tindakan absurdnya yang membuat Gallen lelah, bukan?
Haha, kau pasti akan terkejut saat melihat video ini.
Mungkin karena mendengar nama bosnya dipanggil, Zoya mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Pandangannya berkabut dan juga goyang. Zoya jadi tidak yakin, dimana bosnya atau berapa banyak bosnya itu saat ini. Kepalanya sakit, dan Zoya jadi tak bisa berpikir dengan jernih.
"Bos ... kenapa ada banyak?" Tanyanya.
Zoya berusaha menyentuh Gallen, namun sepertinya tangannya justru mendarat di tempat lain.
"Apa yang kau pegang!" Dia terkejut.
Gallen menyingkirkan tangan Zoya. Dengan wajah yang memerah, dia menjauh dari gadis itu. Bahkan meskipun sebelumnya Gallen berpikir untuk menjaga Zoya semalaman, entah mengapa sepertinya hal yang buruk akan terjadi jika dia memutuskan untuk tetap disini. Jadi, Gallen akan meninggalkan kamar ini.
Namun, Zoya yang terlanjur gila karena efek minuman justru bangun dari tidurnya dan mencoba untuk terus mendekati Gallen. Disaat Gallen hampir membuka pintu untuk keluar, gadis itu menangkap tangannya dan menariknya untuk menjauhi pintu.
__ADS_1
"Bos ... ada tiga? Oh, atau empat?" Dia masih kebingungan. Gallen jelas tahu bahwa Zoya seperti itu karena alkohol, tapi tetap saja sesuatu yang aneh seperti menggelitik perutnya. Mungkin, karena Zoya menyentuh yang tidak seharusnya tadi. Dan sekarang, Zoya memeluk tangannya dengan bergelayut. Gallen harusnya paham dengan situasinya saat ini, tapi mengapa dia justru jadi terlihat seperti orang mesum yang langsung bereaksi hanya karena satu sentuhan yang tidak disengaja?
"Bos! Hehehe."
Saat Gallen tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Zoya bertindak semakin jauh. Gadis itu memeluk tubuhnya dengan erat. Seperti kesenangan akan sesuatu, gadis itu juga meraba-raba punggung tegap Gallen yang sempurna. Gallen menegang. Dia mencoba mendorong Zoya, namun gadis itu justru semakin memeluknya erat.
"Lepaskan aku, Zoya!" Teriak Gallen.
Zoya tak mendengarkan. Dia hanya bergumam-gumam tak jelas, tak ingin melepaskan Gallen.
"Zoya!" Teriaknya lagi.
Gallen masih mencoba untuk bertahan. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat tangan-tangan Zoya seolah merayap di atas tubuhnya. Gallen menutup mata, tak ingin melihat penampilan Zoya yang tentu akan membuatnya semakin terangsang. Namun saat kesabarannya mulai menipis, Gallen akhirnya menyadari bahwa dirinya tak sesabar yang dirinya pikirkan. Dan Gallen yang berulang kali menelan air liurnya sendiri itu, akhirnya memilih untuk berhenti.
"Aku kan sudah bilang padamu untuk melepaskanku."
***
Saat sinar matahari menembus celah-celah jendela, Zoya yang tertidur dengan nyamannya itu akhirnya terbangun juga. Masih dengan mata yang tertutup, gadis itu bergerak-gerak di ranjangnya. Aneh, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa.
"Ukh,"
Zoya Melenguh. Entah mengapa ia merasa sakit di sekujur tubuhnya. Padahal hampir sebulan ini, ia tak pernah merasakan sakit meski harus mengurus rumah itu sendirian. Lalu mengapa tiba-tiba tubuhnya sakit seperti ini?
Aku harus bangun. Bos sebentar lagi pasti akan berangkat ke kantor.
Meskipun matanya masih mengantuk dan tubuhnya terasa sakit, Zoya tetap memaksakan diri untuk bangun. Bagaimanapun juga, ini adalah tugasnya. Sudah sewajarnya dia menyiapkan sarapan dan bekal untuk bosnya. Namun, ada yang aneh lagi. Benda berat apa yang melingkar di perutnya ini?
Ukh, apa ini? Aku tidak ingat jika bantal gulingnya seberat ini.
Dengan perlahan, Zoya membuka kedua matanya. Ia ingin menyingkirkan benda berat yang menimpanya itu dari perutnya.
Namun, apa yang dirinya lihat justru sangat berbeda dengan apa yang dirinya bayangkan. Zoya tak pernah berpikir akhir seperti ini akan terjadi padanya. Karena hal pertama yang dirinya lihat, adalah sebuah lengan besar yang tengah memeluk tubuhnya.
Le-Lengan? Lengan siapa?
Dengan takut-takut, Zoya menoleh ke samping. Disana, terlihat wajah polos sang bos yang tengah tertidur lelap di sampingnya.
Gila!
__ADS_1
***