Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
25. Milo Beraksi!


__ADS_3

..."Aku masih bisa berbohong tentang Noah pada Bos karena Noah enggak mirip dengan Bos. Tapi kalau Bos dan Milo bertemu, aku enggak akan punya kesempatan untuk mengelak lagi!"...


...***...


Zoya membatu saat bocah laki-laki yang seharusnya ada di desa itu tiba-tiba saja sudah berada di depannya. Ia tak mengerti. Zoya bahkan sudah mengabarkan pada keluarganya bahwa Minggu ini ia dan Noah akan pulang. Lalu mengapa tiba-tiba saja Milo ada disini?


Astaga! Bisa stress aku!


Zoya cepat-cepat keluar dari rumah, lalu menutup pintu depan agar Gallen yang ada di dalam tak dapat mengintip keluar. Wanita itu tersenyum, tak mungkin baginya menunjukkan wajah marah apalagi kepada anak yang dengan susah payah menemuinya dari tempat yang jauh.


"Milo ke kota sama siapa?" Tanya Zoya setelah menyamakan tingginya dengan Milo, "Kakek Banu?" Tebaknya. Kakek Banu adalah Ayah Dafa, hanya dia satu-satunya yang mungkin datang ke kota ini sembari membawa anaknya.


Bahkan meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat panik, Zoya masih berusaha untuk tetap terlihat tenang di depan Milo.


Milo, putra pertamanya yang lebih ekspresif itu lantas mengangguk dengan kuat, "Ya! Kakek bilang dia ingin melakukan sesuatu di kota, jadi sekalian saja aku ikut dengannya." jawab bocah itu tanpa memahami bahwa dirinya baru saja membawa masalah untuk Mamanya.


"Hmm." Zoya mengusap pelan kepala anaknya sembari tersenyum. Tak diragukan lagi jika dirinya memang merindukan bocah laki-laki itu. Tapi, di dalam ada Gallen. Apa yang harus dirinya katakan jika Gallen sampai bertemu dengan Milo yang wajahnya persis sama dengan dirinya ini?


"Anak mama udah makin besar." Ucap Zoya pelan masih sembari mengusap kepala anaknya.


Bocah laki-laki itu terlihat senang dengan sentuhan itu. Dia terkikik, sampai tiba-tiba kembali teringat dengan kembarannya, "Oh, Mama." Ujarnya. Milo terlihat bingung. Sambil menelengkan kepala, bocah itu pun bertanya pada Zoya.


"Dimana Noah? Aku tidak melihatnya sedari tadi." tanya bocah itu.


Zoya tersenyum dengan sangat tertekan saat mendengar itu.


"Noah masih di sekolah sekarang. Milo ingat Bu Guru Winona, kan?" ujarnya yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh Milo.

__ADS_1


"Ibu Guru Noah yang baik itu, kan?"


Zoya mengangguk, "Iya, Noah akan pulang bersamanya nanti. Ah, begini. Bagaimana kalau Milo pergi ke sekolah Noah? Biar Mama telpon Ibu Guru Winona, ya." Tawarnya. Pokoknya ia harus mengirim Milo jauh dari Gallen agar keberadaannya tidak diketahui!


Aku masih bisa berbohong tentang Noah pada Bos karena Noah enggak mirip dengan Bos. Tapi kalau Bos dan Milo bertemu, aku enggak akan punya kesempatan untuk mengelak lagi!


Wanita itu mencari nama seseorang di daftar kontraknya, mencoba menghubungi satu nomor. Namun, anaknya yang daritadi nurut-nurut saja itu tiba-tiba menahan tangan Zoya dan memintanya untuk Berhenti. Zoya menoleh. Ia melihat Milo yang tersenyum lebar hingga gigi putihnya yang rapi terlihat jelas, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Zoya semakin jantungan.


"Mama, jangan. Aku akan menunggu saja. Kamar Noah kosong, kan? Aku akan beristirahat disana." Katanya. Mulut Zoya ternganga. Belum sempat lagi Zoya menjawab, anak itu tiba-tiba saja sudah berlari untuk menuju ke dalam.


"Milo!"


Bocah itu bergerak dengan cepat, tak lagi mengindahkan panggilan Mamanya. Noah yang terlihat malas bergerak saja akan berubah menjadi sangat gesit saat berusaha menghindar dari kejaran Zoya. Lalu bagaimana dengan Milo yang memang setiap harinya dilatih bagai tentara oleh sang kakek untuk menjadi bocah desa yang kuat? Boro-boro menangkap, Zoya malah dibuat ngos-ngosan karena berusaha mengikuti pergerakan anaknya.


"Milo!" Panggil Zoya lagi.


Milo menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba. Bukan karena panggilan Mamanya, namun sesuatu yang lain kini membuat seluruh atensinya terpusat pada satu objek. Tatapan mereka saling bersirobok. Milo yang tak tahu menahu mengenai pria yang kini tengah duduk di meja makan rumah itu pun menoleh pada sang Mama, lalu berbicara sambil menunjuk ke arah Gallen yang kini masih menatap dengan bingung.


"Paman ganteng itu calon suami Mama?" Tanyanya, absurd.


***


Waktu terasa bergerak dengan lambat. Pelipisnya basah karena bulir-bulir keringat yang keluar tanpa bisa dicegah. Zoya menundukkan kepala, *******-***** jarinya dengan gugup. Gallen pasti bisa memahami situasinya dengan baik. Pria itu tak mungkin buta untuk melihat betapa miripnya dia dengan Milo. Semua kebohongannya sudah berakhir. Tak mungkin bagi wanita itu untuk berkelit lagi.


Zoya menelan ludahnya sendiri. Entah kalimat apa yang akan pria di hadapannya itu katakan. Sedikit banyak Zoya juga ikut andil dalam membuat masalah ini, jadi ia pun harus menyiapkan diri untuk menerima semua kemarahan yang mungkin keluar dari mulut pria itu.


Demikian pula dengan Gallen. Orang yang tak lagi berselera untuk makan itu hanya diam dalam waktu yang lama, menatap meja makan usang yang ada di rumah itu. Lebih tepatnya, kontrakan. Karena Zoya hanya mengontrak disini, bukan benar-benar memiliki rumah itu.

__ADS_1


"Jadi, apa yang aku katakan itu benar? Bahwa kau hanya ingin menyembunyikan anakku dariku?" Tanya Gallen setelah termenung cukup lama. Dia bahkan tak memberi ruang untuk sekedar berbasa-basi. Pria itu benar-benar terlihat serius sekarang.


Zoya yang mendengar pertanyaan itu pun menatap ke depan pelan-pelan, menemukan Gallen yang kini menatap serius ke arahnya.


"Aku yang memilih untuk mempertahankan mereka. Bos enggak salah apa-apa." Jawabnya.


Gallen semakin menatap Zoya dengan tajam. Tentu saja dia merasa kesal mendengar pernyataan tersebut.


"Apa maksudmu? Kau mau aku berpura-pura tidak tahu dan pergi seolah ini bukan apa-apa?" Tanya Gallen dengan kesal. Bukankah Zoya benar-benar keterlaluan sekarang? Dia ingin Gallen menjadi sosok ayah yang tak bertanggung jawab karena meninggalkan kedua anaknya meskipun tahu keberadaan mereka?


Gallen ingin mendengar jawaban langsung dari mulut Zoya. Namun, wanita itu tak lagi menjawab. Ia hanya tertunduk tanpa memberi penjelasan lebih. Tentu saja, jawabannya adalah iya. Zoya tak ingin Gallen terus terlibat dengan dirinya. Sebagaimana yang selalu dirinya katakan dalam hati, Milo dan Noah adalah tanggung jawabnya. Zoya tak ingin membuat pria itu ikut terkena masalah atas keputusan yang dirinya buat sendiri saat itu.


"Hah." Gallen menghela napas panjang. Setelah berhasil mengetahui kabar wanita yang terus dicari-carinya selama hampir enam tahun, lalu mengetahui fakta yang mengejutkan bahwa mereka ternyata memiliki dua orang anak, sekarang Zoya berharap Gallen akan melepaskannya? Tentu saja itu tidak akan terjadi, wahai pemirsa!


"Haha." Gallen tertawa. Zoya tak paham mengapa pria itu tertawa, karena tampaknya tidak ada hal lucu yang terjadi diantara mereka. Atau ... Gallen sebenarnya berniat melakukan sesuatu?


A-Apa yang harus aku lakukan? Kabur? Tapi, Milo dan Noah masih ada di kamar itu. Bagaimana mungkin aku kabur sendiri?


Belum lagi Zoya berpikir tentang rencana apa yang akan diambilnya, tiba-tiba saja Gallen sudah berdiri dari kursi yang sebelumnya dia duduki. Pria itu mendekat, membuat Zoya yang kebingungan dengan sikapnya semakin bergidik ketakutan.


"Bo-Bos! Apa yang akan bos lakukan?" Tanyanya dengan sedikit berteriak.


Gallen tak menjawab. Dia hanya terus mendekat. Zoya yang sebelumnya duduk di kursi itu berniat untuk beranjak, namun Gallen mendorong Zoya lebih dulu hingga wanita itu kembali terduduk sementara kursinya terdorong ke belakang. Zoya hampir terjungkal karena kursi yang dirinya duduki terangkat. Namun, Gallen yang menyadari itu langsung menahan kursi yang hampir terbalik tersebut dengan kedua tangannya.


"Zoya ... " Suara rendah pria itu terdengar. Zoya yang masih sibuk mengatur napas yang saling memburu karena terkejut tak lagi dapat menjawab. Ia hanya memegang erat kedua sisi samping kursi, sedang Gallen kini berada di atasnya.


"Ayo kita menikah!" Ujar Gallen kemudian.

__ADS_1


***


__ADS_2