
..."Tentu saja aku akan sangat senang jika kau bersedia, tapi aku yakin kau pasti akan menolaknya jika aku menyarankan itu."...
...***...
Setelah semua barang selesai dikemas, Zoya, Gallen, bahkan si kecil Noah langsung memindahkan semua barang-barang itu ke dalam mobil. Ibu dan Bapak mantan pemilik kontrakan masih setia menunggu di luar, tersenyum menatap kekompakan ketiga orang itu.
"Semua barangnya sudah selesai diangkut, kan?"
Zoya mengangguk pada Gallen, "Ya. Sekarang aku mau pamitan dulu sama bapak dan ibu pemilik lama kontrakan ini, sekalian ngembaliin kuncinya." Ia mengangkat dan menunjukkan kunci itu pada Gallen. Karena gantungannya sudah diambil, jadi kuncinya terlihat kecil.
"Oke, aku ikut."
Gallen, yang sepertinya sangat menikmati peran barunya sebagai seorang Papa itu langsung mengangkat Noah dalam gendongannya. Mereka pergi ke depan rumah, menghampiri kedua pemilik lama kontrakan itu yang masih setia menunggu.
"Pak, Bu. Ini kuncinya." Zoya mengembalikan kunci itu pada sang istri, "Kami udah selesai beres-beres."
"Oh, saya pikir kuncinya mau dibawa sekalian sama --- " Bapak pemilik kontrakan itu menoleh saat sang istri menyikutnya, "Hehe, enggak. Bapak salah ngomong kayaknya." Ralat pria paruh baya itu.
Zoya menoleh ke belakang dimana ada Gallen dan Noah disana. Gallen terdengar mendecih saat mendengar kecerobohan bapak itu, namun dia segera mengatur ekspresinya saat matanya menangkap mata Zoya yang ternyata sedang menatapnya. Sialan, sepertinya dia ketahuan menyuruh bapak itu untuk diam.
Zoya mendengkus.
"Kalau begitu kami pergi dulu ya, Pak, Bu." Pamit Zoya.
"Iya, hati-hati ya." Ujar kedua orang itu.
Namun sebelum Zoya masuk ke dalam mobil, Ibu paruh baya tadi tiba-tiba memanggilnya kembali.
"Zoya!"
Mendengar namanya dipanggil, tentu saja wanita itu menoleh.
"Seleramu bagus." Katanya. Ibu pemilik lama kontrakan itu bahkan memberikan dua jempolnya pada Zoya sebagai bentuk dukungan.
Zoya terkekeh. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah absurd pasangan paruh baya itu. Meskipun agak kesal karena diminta untuk pindah secara tiba-tiba, namun sebenarnya mereka orang yang baik. Namun, tentu saja. Sebagai manusia, tak heran jika mereka tergoda dengan tawaran uang yang cukup banyak sebagai ganti untuk kontrakan mereka yang dibeli. Sekarang jika ingin menyalahkan, sepertinya Zoya memang harus menyalahkan orang gila yang membeli kontrakan itu dengan harga mahal. Dan dipikirkan bagaimana pun juga, Zoya tetap yakin bahwa pelakunya adalah Gallen.
Dengan kata lain, Gallen memang gila karena membeli rumah kontrakan itu hanya untuk mengusirnya dari sana sehingga Zoya bisa ikut ke rumahnya.
"Kami pergi dulu, Pak, Bu." Pamit Zoya kembali.
Pasangan paruh baya itu kemudian mengiyakan kata pamitan itu. Sambil melambaikan tangan, keduanya mengantarkan mereka pergi hingga mobil akhirnya pergi menjauh dari lingkungan itu.
"Mereka adalah orang tua yang baik, meski sepertinya agak cerewet." Komentar Gallen.
Zoya yang mendengar itu terkekeh, "Maksud Bos karena Bapak kontrakan hampir menyebutkan siapa pemilik baru rumah kontrakan itu tadi?" Godanya. Sebenarnya Zoya tahu bahwa orang itu adalah Gallen. Namun jika Gallen ingin menyembunyikannya, Zoya pun akan mengikuti saja permainan itu.
"Dasar. Aku kan sudah bilang jika itu bukan aku." Gallen tahu bahwa Zoya menyindirnya, namun dia masih tak ingin mengaku juga.
Zoya tertawa, tak tahu harus menanggapi bosnya yang kekanakan ini dengan cara apalagi. Mobil masih terus melaju dengan diiringi gelak tawa orang-orang di dalamnya. Sangat ceria, berbeda dengan saat Gallen berkendara sendirian.
"Ada yang mau dituju?" Tanya Gallen.
Orang yang ditanyai itu tampak berpikir sejenak, "Bagaimana jika memeriksa rumah kontrakan baru itu dulu?" Sarannya. Terutama karena mereka memang harus segera pindah, karena itu Zoya menyarankan hal demikian.
"Apa tidak terlalu cepat? Kalian bisa menginap di rumahku untuk beberapa hari lagi."
__ADS_1
Zoya menggeleng. Ia juga tahu akan hal itu, tapi tak ada salahnya jika mereka memeriksa rumah kontrakan yang akan Zoya tempati itu lebih dulu, "Kami harus memeriksanya dulu. Dengan begitu aku bisa tahu apakah tempat itu cocok dengan kami atau enggak." Jawab Zoya.
Gallen terdengar memikirkan itu untuk beberapa saat, "Kriteria rumah seperti apa yang mau dicari?"
Sebisa mungkin, Gallen akan mencari tempat yang paling dekat dari rumahnya. Dengan begitu dia gak perlu bingung lagi jika ingin menemui Zoya dan anak-anaknya.
"Hm," Satu jarinya menyentuh dagu, "Sebenarnya lingkungan dan kondisi rumah itu penting, tapi aku juga harus memikirkan biayanya. Jadi, yah, yang sederhana aja asal nyaman untuk ditempati." Jawabnya.
Gallen terpikirkan beberapa tempat. Sepertinya, tinggal di apartemen cukup bagus untuk wanita itu. Beberapa rumah lainnya yang dia miliki juga tampaknya lumayan. Karena Gallen memiliki beberapa bangunan yang jarang dikunjunginya, termasuk apartemen dan rumah-rumah itu. Jika Zoya bersedia menggunakannya, itu akan bagus untuk mengurangi pengeluaran wanita itu.
"Bagaimana kalau aku meminjamimu tempat tinggal?" Tanyanya.
Zoya menoleh, "Maksudnya rumah yang Bos tempati sekarang?"
Gallen tersenyum miring.
"Tentu saja aku akan sangat senang jika kau bersedia, tapi aku yakin kau pasti akan menolaknya jika aku menyarankan itu."
Zoya mengangguk dengan cepat. Tentu saja, kan alasan dirinya ingin segera mencari kontrakan karena Zoya tak ingin terus serumah dengan Gallen.
"Aku punya beberapa apartemen dan rumah kosong yang dapat kalian tinggali. Tempatnya cukup bagus dan kau bisa menghemat biaya karena aku tidak akan memungut biaya sewa sedikitpun. Jadi, bagaimana jika --- " Zoya mengangkat satu tangannya.
"Sepertinya aku sudah bisa memahami arah pembicaraan ini." Katanya.
Gallen menoleh sesaat, menunggu wanita itu kembali bicara.
"Tapi jika aku menerima itu, bukankah sama saja dengan aku memanfaatkan Bos? Lagipula kita belum memiliki hubungan apa-apa, orang-orang pasti akan merasa aneh jika mereka tahu aku tinggal di salah satu rumah bos." Katanya.
Sebenarnya tawaran itu sangat menarik. Zoya bahkan sempat tergiur saat mendengarnya. Namun sekarang ia merasa dilema. Ia khawatir jika keberadaannya ini akan dimanfaatkan orang untuk menjatuhkan Gallen apabila ketahuan bahwa pria itu membawa masuk seorang wanita beranak ke salah satu rumah rahasianya.
"Aku lumayan suka pemilihan kata-kata mu. Belum memiliki hubungan berarti ada kemungkinan untuk suatu hari kita akan memiliki hubungan." katanya. Gallen rupanya malah salfok pada kata-kata Zoya.
Zoya menyipitkan matanya, heran dengan tingkah aneh bujang lapuk satu ini.
"Bos, bos kebelet kawin, ya?" Tanya Zoya, menyindir.
"Iya, nih. Yang diajak kawin masih ngajak revisi status terus. Kira-kira lamarannya kapan di ACC, ya?"
Zoya membulatkan mata mendengar itu.
"Bos! Bos kok jadi alay, sih?"
Gallen tertawa dengan senangnya. Pria itu menatap lurus ke depan, lalu setelah yakin tidak ada hambatan di depan barulah dia menengok ke samping lagi.
"Kayaknya kamu kira aku ini terlalu kuno, kolot, padahal di kantor semua orang bilang kalau aku ini pintar dan selalu mengikuti tren, jadi tentu saja aku tahu gombalan-gombalan murahan yang anak-anak seusiamu ini suka." Jawabnya yang membuat Zoya tertawa karena merasa lucu.
"Aku kamu dong." Zoya sepertinya baru kali ini mendengar Gallen menyebut kata itu. Kalimatnya justru terkesan semakin baku, "Coba ngomongnya juga lebih santai, gitu."
"Iya, bertahap." Jawab Gallen, "Kamu juga coba latihan, dong."
Zoya mengangkat satu alisnya, "Latihan apa?"
"Ya itu, ubah cara bicara. Kamu suruh aku ganti kata-kata 'kau' jadi 'aku', kamu juga latihan ubah cara bicara lah." Pintanya.
Zoya mengangguk mendengar itu, "Iya, karena enggak enak kalau bos bicara dengan anak kecil tapi pakai kata-kata 'kau'. Tapi, aku harus ubah apa? Kayaknya cara bicaraku udah bagus." Zoya tampak bingung. Biasanya ia memang mudah dekat dengan anak kecil, tapi apakah ternyata cara bicaranya masih salah?
__ADS_1
Gallen tersenyum jahil melihat kebingungan Zoya.
"Lupa sama permintaanku tadi?" Dia menatap Zoya untuk melihat ekspresi wajahnya.
Zoya membulatkan mata setelah menyadari itu. Mendengar kata 'permintaan tadi', Zoya langsung teringat kata apa yang Gallen ingin dengar dari mulutnya.
"Sa --- " Zoya menutup mulutnya, "Gila, ya? Masa mau langsung dipanggil gitu?!"
"Mulut, katanya tidak boleh bicara yang buruk-buruk di depan anak."
Zoya menutup mulutnya. Ia menoleh ke belakang, dimana Noah hanya duduk tanpa bicara sepatah kata pun dari tadi. Zoya pun langsung meminta maaf pada anaknya.
"Uh, Bos sih."
Gallen terkekeh. Mereka masih sibuk mendebatkan hal itu dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Gallen menyetujui rencana Zoya untuk melihat-lihat rumah kontrakan yang dibicarakan oleh teman kerjanya.
***
"Hmm."
Alby menatap Gallen yang masih memangku wajah sembari memejamkan mata. Pertemuan dengan klien telah selesai, namun pria itu masih tak juga berpindah posisi dari tempatnya duduk. Alby menepuk pelan pundak Gallen, mencoba mengingatkan bahwa sudah waktunya kembali ke kantor.
"Bos, Anda mau tetap disini?"
Gallen mengangkat kepalanya lagi. Dia mengambil minumannya dan menyeruputnya sedikit.
"Sebenarnya, aku sedang memikirkan sesuatu yang penting."
Dahi asistennya itu berkerut. Apakah ini soal klien tadi? Pembicaraan berjalan lancar, jadi masalah apa yang begitu penting hingga membuat Gallen berpikir cukup lama?
"Apa bos mau berbagi pendapat dengan saya?"
Gallen mengangguk, "Hm, kupikir ada bagusnya juga membahas ini denganmu. Duduklah." Pinta Gallen pada Alby.
Alby mengangguk. Saat pertemuan tadi, dia hanya berdiri di belakang Gallen sembari memegang dokumen-dokumen penting yang akan dibahas dengan klien mereka. Namun sekarang, saat klien itu pergi, Gallen justru memintanya untuk berbagi pendapat. Gallen bahkan meminta Alby untuk duduk, yang artinya pembicaraan mereka mungkin akan berjalan cukup lama. Alby jadi gugup. Ia tak sabar untuk mendengar pemikiran brilian dari bos nya ini.
"Oke, apa kau ingin memesan minuman dulu?"
Alby mengangguk, "Cappucino satu."
Gallen kemudian memanggil pelayan dan memesankan minuman yang Alby mau.
"Oke, ini sebenarnya adalah masalahku dan Zoya."
Alby mengangguk-anggukkan kepala sampai tiba-tiba dia sadar dengan apa yang dikatakan bosnya.
"Hah? Zoya?"
Gallen mengangguk, "Dia ingin segera pindah dari rumah, padahal aku rasa kami cukup bahagia tinggal bersama."
"Pindah?"
Alby membuka mulutnya dengan tak percaya. Jadi, sekarang Gallen ingin dia menjadi konsultan cinta?
***
__ADS_1