
..."Aku tidak ingin merusak pendidikan yang telah kau berikan kepada anak kita."...
...***...
"Noah ... " Zoya sebenarnya tidak ingin memenuhi keinginan anaknya. Namun saat dilihatnya mata Noah yang memerah karena kantuk, mau tidak mau ia akhirnya menyerah, "Kalau Noah maunya begitu, bagaimana lagi." Ujarnya.
Gallen bersorak dalam hati. Akhirnya, Zoya benar-benar akan ikut dengannya. Wanita itu akan kembali ke rumah dimana mereka banyak menghabiskan waktu bersama dulu. Meski sangat disayangkan bahwa kedatangannya hanya sebagai tamu, itu cukup untuk saat ini.
Siapa tahu, kan. Mungkin saja Zoya akan luluh pada Gallen jika mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Apalagi tampaknya Noah juga mendukung rencananya. Maka dari itu, sebisa mungkin Gallen harus mencari cara agar Zoya dan Noah dapat tinggal dalam waktu yang sama di rumahnya.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita segera kembali? Kasihan Noah jika terlalu lama di luar begini." Ajak Alby.
Zoya mengangguk. Ia lantas menggandeng anaknya itu dan duduk di bangku tengah. Zoya memastikan bahwa anaknya telah duduk dengan nyaman. Saat ia baru saja menutup pintu, tiba-tiba Gallen masuk dari pintu lainnya dan ikut duduk di kursi tengah.
"Lho, kok bos kesini juga?" Tanya Zoya, bingung.
Gallen yang mendengar itu pun menoleh, "Ini kan memang tempat dudukku." Katanya.
Zoya masih terlihat bingung. Dulu sekali, sepertinya Gallen selalu membawa mobilnya sendiri. Zoya jadi tidak tahu menahu apa yang terjadi jika orang lain yang membawa mobilnya. Apa bos memang selalu duduk di kursi tengah? Kalau begitu, apakah ia merebut tempat duduk orang lain?
"Heh, aku bisa menebak isi pikiranmu. Duduklah dan jangan merasa tidak enak. Aku juga tidak merasa terbebani, kok." Katanya.
Teguran itu membuat Zoya tidak bisa berkata-kata. Oke, sepertinya Gallen bertambah kemampuan menjadi cenayang sekarang. Apa karena itu dia bisa menebak apapun tentang Zoya?
"Kita berangkat sekarang." Alby bersuara dari depan.
Zoya mengangguk. Ia tidak bisa mengomel lagi sekarang. Mereka bertiga duduk di kursi tengah dengan Noah yang berada di tengah-tengah. Dibiarkannya Noah menyandar di lengan Zoya. Setelah membelai lembut kepala sang anak, ia lalu membuang pandangannya ke luar jendela dan tak menatap sedikitpun pada Gallen yang sedari tadi memperhatikannya.
Gedung-gedung tinggi. Jalanan ramai oleh pengendara. Meskipun tak persis sama seperti enam tahun yang lalu, namun arah yang mereka tuju masih sama. Rasanya, Zoya masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana perasaannya saat pertama kali tiba di kota ini enam tahun lalu. Sangat menyenangkan. Karena Zoya tak tahu bahwa ia akan dijual pada awalnya. Kemudian kebingungan saat melarikan diri dari rumah bordil itu, Zoya masih ingat. Bahkan, ia juga bisa mengingat bagaimana putus asanya dirinya saat harus meninggalkan kota ini dengan terburu-buru setelah kejadian malam itu. Entah mengapa, Zoya langsung tersenyum saat mengingat itu. Bukankah ia telah melewati waktu yang sulit dulu? Karenanya sekarang, ia hanya bisa mengenang semua hal itu sambil tersenyum.
Zoya menoleh kala tangannya digenggam oleh seseorang. Wanita itu tersenyum lagi. Sepertinya Noah sedang bahagia, karena anak yang irit bicara itu bahkan tersenyum dalam tidurnya.
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak, anakku."
***
"Biar aku saja yang ---"
Gallen telah mengambil alih Noah lebih dulu. Pria itu, bahkan meskipun Zoya mengatakan bahwa dirinya akan menggendong Noah sendiri, namun dia tetap menggendong Noah dengan tangannya sendiri. Zoya sempat terkejut, namun ia memilih untuk mengikuti pria itu sembari membawa barang-barangnya yang lain.
"Kalau berat ---"
"Apa kalian tidur bersama?" Tanya Gallen. Belum lagi Zoya menjawab, pria itu justru membalas kata-katanya sendiri, "Oh, tidak. Anak-anak harus dilatih tidur di kamar sendiri." Katanya.
Gallen kemudian pergi ke salah satu kamar. Rumah itu memang sangat besar, tidak heran jika ada banyak kamar di dalamnya. Namun, memangnya mereka harus tidur di kamar terpisah saat menumpang di rumah orang lain?
Klak
Pintu dibuka.
Saat pintu kamar yang mereka datangi terbuka, Zoya langsung terkejut melihat isi di dalamnya. Sebuah kamar tidur dengan tema luar angkasa. Ada gambar planet dan anggota sistem tata surya lainnya. Zoya jadi terbengong sendiri saat melihat itu. Bukankah itu berarti Gallen telah menyiapkan ini dengan baik meskipun kedatangan mereka belum pasti? Mengapa pria itu sampai melakukan ini?
"Sttt," Gallen melarangnya bicara, "Kita bicara di luar. Noah bisa bangun nanti." Usulnya.
Zoya mengangguk dengan cepat. Bahkan Gallen pun tampak begitu sayang pada putranya sampai-sampai tak ingin membangunkan Noah dari tidurnya.
Hati Zoya sedikit menghangat.
Setelah memastikan bahwa Noah telah tidur dengan nyaman, kedua orang itu lalu keluar dari kamar tersebut. Dengan canggung, Zoya mengikuti langkah Gallen yang mengajaknya duduk di ruang tengah. Alby langsung pulang setelah mengantar mereka. Sekarang, hanya ada mereka berdua saja.
"Apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Gallen langsung.
Zoya sempat terdiam dulu sambil mengingat-ingat apa yang hendak dikatakannya tadi.
__ADS_1
"Ah," Ia akhirnya ingat, "Sebenarnya tempat tidur kami tidak perlu dipisah. Kami bisa tidur bersama di kamar yang sama." Ujar Zoya.
Memang benar bahwa selama ini Zoya mengajarkan pada anak-anaknya untuk tidak bergantung dan mulai tidur di kamar mereka sendiri. Namun saat di tempat orang lain hal itu tidak perlu dilakukan. Mereka bisa, kok, tidur di kamar yang sama. Jadi Gallen tak perlu membeda-bedakan kamar mereka.
Namun, Gallen yang mendengar itu justru menggeleng, "Tidak, aku sudah melihat bagaimana kau mendidik Noah saat di kontrakan. Dan menurutku itu bagus, melatih anak tidur sendiri agar mereka menjadi lebih berani. Aku tidak ingin merusak pendidikan yang telah kau berikan kepada anak kita." Jawabnya.
Wajah Zoya sedikit memerah saat mendengar mata terakhir yang diucapkan oleh Gallen.
"Lagipula aku punya banyak kamar, kau tidak perlu khawatir." Lanjutnya.
Zoya tak mungkin mendebat Gallen hanya karena hal ini. Ia pun akhirnya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Oke, kalau begitu aku tidur dimana?"
Satu seringaian muncul di wajah Gallen, "Kau masih ingat dimana kamarmu, kan?" Katanya.
Zoya sempat mengerutkan alis sebelum akhirnya sadar, "Bos sengaja menggodaku, ya?" Katanya.
"Haha," Gallen sedikit terhibur melihat ekspresi Zoya yang terlalu jujur di setiap suasana, "Aku kan memberikan kamar itu padamu. Jadi sudah sewajarnya kau menempati kamar itu lagi." Jawabnya.
Zoya jadi teringat masa lalu setelah mendengar itu. Saat itu, Zoya memang bekerja sebagai ART di rumah Gallen. Namun, Gallen selalu memperlakukan Zoya dengan baik. Dia memberikan kamar yang bagus. Mereka saling membantu dalam pekerjaan, menonton TV bersama, bahkan makan pun bersama.
Di kamar itu pun, kenangan lucu saat Gallen membelikannya pembalut dan minuman pelancar haid masih teringat dengan jelas olehnya. Lalu kejadian malam itu ...
Blush
Astaga, Zoya juga masih ingat beberapa bagian dari kejadian malam itu. Padahal seharusnya ia melupakan itu sejak lama. Ada apa dengan otaknya ini? Kenapa justru hal-hal seperti ini tersimpan dengan jelas di otaknya?
Gallen yang menyadari bahwa wajah Zoya memerah tanpa sebab itu awalnya menyipitkan mata. Saat menyadari sesuatu, dia lalu memanggil wanita itu.
"Hei," Dia tersenyum dengan puas, "Sedang berpikir mesum, ya?" Tanyanya.
__ADS_1
Wajah Zoya semakin memerah mendengar itu.
***