Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
14. Dafa Bersedia Menikahi Zoya


__ADS_3

..."Pak, Bu, saya tahu tidak seharusnya saya ikut campur. Tapi ... saya bersedia menikahi Zoya."...


...***...


Zoya tak mampu berkata sepatah kata pun. Lidahnya terasa kelu. Gadis itu hanya terdiam di posisinya hingga bapaknya yang kesal mendatanginya lalu mencengkeram kedua bahunya dengan kuat.


"Jawab Bapak, Zoya!"


Tubuh Zoya bergetar hebat. Gadis itu mencoba membuka mulutnya, namun suaranya yang pelan juga ikut terdengar bergetar.


"Ma-Maafin Zoya, Pak."


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipinya. Zoya terhuyung ke belakang, nyaris terjatuh andai saja Dafa tak menangkapnya.


"Siapa yang ngajarin kamu kayak gini, hah?! Kurang ketat bagaimana lagi kami mendidik dan menjagamu, Zoya!"


Zoya menyentuh pipinya yang memerah. Bekas tamparan bapaknya terasa panas dan sakit. Gadis itu menggigit bibirnya. Dengan menahan suara, buliran bening mengalir deras dan membasahi kedua pipinya.


Ibunya tak berkata apapun. Dia hanya menahan suaminya agar tak lagi menyerang putri semata wayang mereka. Namun dibalik kebisuan itu, Zoya tahu. Bahwa orang yang sedari tadi terus menyembunyikan wajahnya dari Zoya sebenarnya sedang menangis.


"Ibu, Bapak."


Zoya melepaskan diri dari pelukan Dafa. Gadis itu bersimpuh di bawah kaki kedua orang tuanya. Sembari menyentuh kaki keduanya, ia meminta maaf masih sembari menangis.


"Maafin Zoya. Zoya juga enggak tahu kalau akan seperti ini jadinya." Ujarnya.


Bapak yang sedari tadi mencoba menahan amarahnya lantas bertanya, "Siapa orangnya? Siapa orang yang telah melakukan itu denganmu?"


Zoya lagi-lagi menggigit bibirnya. Jika mengaku, pada akhirnya tidak ada gunanya ia melarikan diri dari Gallen. Pria itu akan ikut terseret, meski kesalahan terbesar sebenarnya ada pada dirinya. Dan Zoya tak ingin itu terjadi, ia tak ingin melibatkan bosnya yang sudah banyak membantunya itu.


"Enggak tahu," Bohongnya. Ia menutup matanya saat mengatakan kebohongan itu, "Zoya mabuk hari itu sehingga tidak tahu siapa orang yang melakukannya."


Bapak pun jatuh terduduk. Dia tak menyangka anak yang dibesarkannya dengan sangat hati-hati itu pada akhirnya akan jatuh pada keadaan semacam ini. Saking kecewanya, dia pun menangis. Rasanya dia telah benar-benar gagal dalam menjadi orang tua.


"Bapak kecewa sama kamu, Zoya."


Zoya hanya menunduk masih dalam posisi bersimpuhnya. Ya, ini pilihannya sendiri. Ia yang memilih untuk melarikan diri dari Gallen, dan ia pula yang memilih untuk melahirkan bayi itu. Jadi, Gallen tak perlu tahu. Cukup ia saja yang menanggung dosa itu.


Dafa yang sedari tadi masih berada di rumah itu dan melihat bagaimana kacaunya keadaan mereka tiba-tiba ikut bersimpuh. Zoya sadar itu, tapi ia bahkan tak punya kemampuan walau hanya sekedar untuk menolehkan kepala. Lemas, rasanya seluruh tulangnya telah dicabut seutuhnya.

__ADS_1


"Pak, Bu, saya tahu tidak seharusnya saya ikut campur. Tapi ... " Dafa menatap gadis di sampingnya, "Saya bersedia menikahi Zoya."


Kedua orang tua Zoya serentak menoleh. Begitu pun dengan Zoya, yang setelah mendengar kata-kata itu langsung terdiam tanpa suara.


"Apa maksud kamu, Nak Dafa?" Tanya bapak lagi.


Dafa mengambil tangan Zoya, menggenggamnya dalam genggaman tangannya yang besar, "Saya siap bertanggung jawab untuk Zoya, Pak." Katanya.


"Dafa!" Teriak Zoya. Gadis itu menggeleng, tak ingin Dafa yang tak ada hubungannya dengan masalah ini ikut terkena imbasnya.


Namun Dafa yang melihat itu hanya tersenyum, lalu meminta Zoya untuk tenang. Dia mungkin sudah memutuskan dengan baik untuk melakukan ini, tapi Zoya benar-benar tidak ingin orang yang tidak bersalah ikut terkena masalah karena dirinya.


Bapak dan Ibu Zoya kemudian saling memandang. Setelah berpikir beberapa saat, mereka masih tak tahu harus menjawab apa. Pada akhirnya, keduanya dengan sopan mempersilakan Dafa untuk kembali ke rumahnya lebih dahulu, karena mereka masih harus mendiskusikan sesuatu dengan putrinya.


"Aku pulang dulu." Pamit Dafa. Zoya yang mengantarnya hanya menunduk, tak berani menatap pria yang baru saja mengatakan bersedia untuk menanggung aib ini bersamanya.


"Kamu seharusnya enggak mengatakan itu."


Dafa tersenyum. Dia menyentuh kedua pipi teman masa kecilnya itu dan mengangkatnya, membuat Zoya mau tak mau akhirnya mengangkat wajah dan bertatapan dengan Dafa, "Hei, kenapa harus merasa bersalah begitu?" Katanya.


"Aku enggak papa, lagipula aku yang mengajukan itu duluan, kan. Yah, anggap aja beli satu gratis satu." Katanya, berusaha menenangkan gadis di depannya yang sekarang menggembungkan pipi karena kesal.


"Ini bukan candaan, Dafa."


"Gapapa, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kamu banyak-banyak istirahat aja, supaya anak kita sehat."


Zoya tertegun.


Anak kita katanya.


"Kalau begitu sekarang aku pulang." Dafa berjalan keluar dari halaman Zoya dengan sepeda motornya, lalu berhenti di depan dan tersenyum jahil.


"Selamat malam, calon istrinya Dafa."


Pria itu lantas pergi setelah mengatakan hal-hal aneh barusan. Apa ini? Padahal situasinya sedang begini, tapi kenapa Dafa justru terlihat natural sekali dalam menerimanya? Kenapa pria itu terlihat senang-senang saja, dan bukannya tertekan karena harus menikahi seorang wanita yang telah hamil anak pria lain?


"Zoya."


Panggilan itu membuatnya menoleh. Di ambang pintu, sang ibu tengah berdiri dengan wajah yang serius.


"Masuklah."

__ADS_1


Zoya mengangguk. Dengan mengekor pada Ibunya, gadis itu kemudian kembali masuk untuk bertemu dengan bapaknya dan kembali membahas masalah tadi.


***


Waktu berlalu dengan cepat tanpa menunggu siapapun. Tanpa terasa, beberapa bulan telah berlalu begitu saja. Saat ini usia kandungan Zoya sudah memasuki trimester ketiga. Diusia ini, Zoya tak lagi mengalami mabuk parah seperti hal nya pada saat trimester pertama. Namun, beban yang dibawanya terasa sangat luar biasa berat karena perutnya yang benar-benar besar, tak seimbang dengan tubuh Zoya yang sebenarnya mungil.


Sekarang gadis itu tengah duduk bersantai di depan ruang TV. Disampingnya ada meja yang berisi makanan dan minuman. Akhir-akhir ini ia mudah kelaparan, jadi Ibunya menyediakan banyak makanan untuknya.


Drrt


"Halo?"


Zoya tersenyum mendengar candaan yang dilontarkan lawan bicaranya. Dafa sekarang sedang ada di kota, berkuliah. Namun pria itu masih terus menghubunginya setiap hari.


"Aku enggak kenapa-napa, kok. Tenang aja."


Zoya tersenyum saat Bapaknya mendekat. Pria yang memiliki wajah datar itu membawakannya segelas susu, lalu menyuruhnya untuk minum.


"Terimakasih, Pak."


Bapak hanya menjawab dengan singkat. Meski sebelumnya sempat sangat kecewa dan marah pada Zoya, pria yang memang terkenal galak itu semakin berubah lembut seiring bertambah besarnya perut sang putri. Awalnya karena merasa kasihan. Dia kemudian membantu diam-diam setiap hal yang dilakukan putrinya tanpa Zoya ketahui. Namun akhir-akhir ini, saat melihat bahwa Zoya mulai kesulitan bergerak, dia langsung tak malu-malu lagi dan sering menyiapkan makanan atau susu untuknya.


Zoya kembali melanjutkan perbincangannya begitu Bapak pergi.


"Kakiku memang bengkak, tapi enggak masalah. Lagipula aku selalu pakai sendal jepit kalau keluar rumah."


Dafa tertawa di seberang sana. Pria itu sudah menduga bahwa Zoya pasti akan bisa melewati masalah ini tanpa berlarut-larut dalam kesedihan.


Saat berita kehamilan Zoya tersebar tanpa diketahui mulanya, orang-orang mulai menggunjingkannya. Terutama karena selama ini Zoya selalu menjunjung tinggi etika berteman dengan laki-laki, namun naasnya dia sendiri justru hamil tanpa mengetahui siapa yang menghamilinya. Yah, meskipun Dafa bersedia bertanggung jawab. Namun, semua orang tahu bahwa bukan pria itu pelakunya, jadi semua orang masih tak bisa berhenti membicarakannya.


Namun karena sifat Bapak Zoya yang galak, orang tak akan berani berkata-kata secara langsung. Tentu saja, karena mereka takut dimarahi. Akhirnya mereka hanya bisa berbicara secara diam-diam di belakang sambil berharap bahwa bapak Zoya tidak akan memergoki mereka.


Namun setelah waktu berlalu, hampir tidak ada yang membicarakan Zoya kembali. Mereka justru penasaran dengan bayi yang akan dilahirkan gadis itu. Karena Zoya yang bertubuh mungil itu tiba-tiba memiliki perut besar, orang-orang jadi merasa lucu saat melihatnya. Dan mereka pun tahu bahwa Zoya sebenarnya adalah gadis yang baik, sehingga tiba-tiba saja rasa bersalah menghinggapi mereka saat mengingat bahwa mereka pernah membicarakan gadis baik itu tanpa memikirkan perasaannya.


"Hm, kalau begitu aku akan tutup telponnya."


Zoya tersenyum dan menutup panggilan telepon itu. Ia menyandarkan duduknya pada sofa. Sungguh, ternyata hamil benar-benar melelahkan. Bahkan hanya duduk seperti ini saja rasanya sesak, bagaimana jika ia harus bekerja keras atau sekedar membantu pekerjaan rumah?"


"Anakku, tumbuhlah dengan baik di dalam sana. Sebentar lagi kita akan bertemu, Oke?"


Gadis itu kemudian mengelus perutnya dengan senang saat merasakan tendangan dari bayinya yang masih ada di dalam perut.

__ADS_1


***


__ADS_2