
...Selamat tinggal, kota pertama yang pernah kusinggahi. Selamat tinggal, semua orang yang ada di sini. Sekarang, aku akan benar-benar pergi....
...***...
Sejak kecil, Zoya selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya mengenai pentingnya sikap tanggung jawab. Bapaknya bahkan selalu mengingatkan bahwa tanggung jawab merupakan ciri dari orang yang berbudaya. karena orang yang berbudaya adalah orang dapat menyadari baik atau buruknya perlakuan yang dirinya lakukan pada orang lain, sehingga dia dapat berhati-hati dalam bertindak dan bertanggung jawab saat melakukan kesalahan. Namun, apa yang harus dirinya lakukan sekarang?
Bagaimana dia harus bertanggung jawab atas bosnya yang sekarang hanya menggunakan selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun itu?
Aduh, Pak. Aku harus bagaimana sekarang?
Zoya lantas segera memungut pakaiannya yang tercecer begitu saja di atas lantai dan mengenakannya dengan tergesa. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang. Kepalanya sakit dan tubuhnya terasa panas. Apalagi melihat apa yang terjadi saat ini. Zoya rasanya ingin menangis jika mengingat kesuciannya yang hilang dan terenggut secara tidak terhormat, juga merasa bersalah pada Gallen karena membuat pria itu ikut terlibat dalam kebodohannya.
Aku tidak bisa terus disini. Aku tidak punya keberanian untuk melihat bos nanti.
Dilihatnya lagi sang bos yang masih tertidur lelap, tampak nyaman meskipun kelelahan. Andai Zoya tak sedikitpun mengingat apa yang terjadi semalam, mungkin ia bisa berkelit saat bicara dengan Gallen. Namun sayangnya, ia ingat! Meski tak banyak, Zoya ingat bahwa ialah yang lebih dulu menggoda Gallen, bahkan duduk di atas tubuh pria itu.
Zoya menutup matanya erat-erat. Malu dan juga kotor, begitulah yang kira-kira ia rasakan. Ia sadar takkan mampu berhadapan secara langsung dengan pria itu, maka dari itu Zoya memilih untuk kabur.
Maaf, Bos. Padahal aku yang memutuskan untuk membalas kebaikanmu, tapi sekarang justru aku yang memilih untuk pergi.
Zoya melihat lagi ke arah Gallen. Ia cukup sadar diri dengan tindakannya saat ini sehingga tak membawa satu barang pun dari rumah itu selain uang yang Gallen berikan kemarin. Sungguh, ini benar- benar hal yang tidak pernah dirinya duga. Padahal kemarin Zoya menolak mentah-mentah saat Gallen memberikannya uang, namun sekarang ia justru menggunakan uang itu sebagai ongkos untuk dirinya pulang ke Desa.
Di atas kertas kecil yang dirinya tinggalkan bersamaan dengan ponselnya, Zoya menuliskan sebuah pesan singkat. Mungkin itu tak cukup untuk memaafkan kesalahan yang dirinya lakukan, namun Zoya masih tetap berharap bahwa pesan itu akan sampai dan Gallen bisa memaafkannya meski hanya bagian kecilnya saja.
***
Tangan besar itu bergerak meraba sebelahnya. Kosong. Tidak ada apapun di sana. Gallen membuka sebelah matanya. Dia ingat gadis itu semalam masih tertidur dalam pelukannya, lalu kemana dirinya pergi?
"Pffft."
Gallen mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Pria itu menutup matanya dengan lengan dan tersenyum mengingat apa yang terjadi semalam. Benar-benar menakjubkan. Gallen memang tak pernah menghabiskan waktunya dengan wanita, apalagi sampai tidur bersama. Dia terlalu sibuk dan tak punya waktu untuk itu. Apalagi, dirinya memang tidak suka berdekatan dengan para kaum yang suka memamerkan belahan dada dan rok ketat itu. Zoya lah yang pertama dan satu-satunya yang pernah melakukan itu dengannya. Dan Gallen benar-benar puas dengan pengalaman pertamanya ini.
Tapi jujur saja, Gallen memang tidak menyukai konsep one night stand yang sering Kevin atau teman-temannya lakukan. Itu tidak sesuai dengan pendiriannya. Bagi Gallen jika seseorang melakukan itu, sama saja dengan merusak dirinya sendiri. Dan Gallen sangat menghargai tubuhnya sehingga enggan untuk melakukan itu.
Karenanya saat akan melakukan ini, dia sudah memikirkannya. Gallen tak ingin melakukan ini hanya karena memanfaatkan kesempatan di kala Zoya tengah kehilangan akal, tapi dia juga ingin menegaskan hubungan mereka. Pria itu merasa sudah cukup mengenal Zoya setelah satu bulan perkenalan mereka, dan dia tak perlu ragu lagi karena Gallen yakin gadis itu adalah satu-satunya yang dia inginkan.
Mungkin urutannya memang terbalik, tapi aku akan melamarnya.
__ADS_1
Gallen menoleh ke arah kamar mandi. Darisana terdengar suara air yang bergemericik. Mungkin, Zoya sedang membersihkan diri. Tapi, Gallen mulai tak tenang setelah terus menanti. Rasanya tak sabar untuk lekas membicarakan niatannya ini pada Zoya. Mengapa gadis itu lama sekali?
Gallen lantas mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai dan memakai celananya. Dalam keadaan topless, pria yang telah mengambil kesucian Zoya itu pun mendekat ke arah suara, "Aku ingin berbicara padamu. Apa kau masih butuh waktu?"
Gallen mendekatkan telinganya pada pintu kamar mandi. Namun, tak terdengar satupun jawaban dari sana.
"Zoya?"
Dahinya berkerut menyadari tak ada sesiapapun yang menjawab. Gallen semakin bingung dan khawatir. Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan? Mengapa Zoya tak menjawab sepatah katapun kalimat yang Gallen lontarkan?
Setelah memikirkan baik buruknya tindakan yang akan dirinya ambil, Gallen kemudian memutuskan untuk mendobrak pintu tersebut.
"****!"
Gallen kemudian segera mengenakan pakaian atasannya dan bergegas keluar rumah. Zoya tidak ada! Gadis itu sengaja menyalakan air hanya untuk mengelabuhi Gallen agar mengiranya berada di kamar mandi!
Zoya ... Aku sudah memberikan kepercayaanku padamu. Bagaimana mungkin kamu membuangku bagai sampah seperti ini?!
Gallen yang bergerak dengan terburu-buru itu berhenti saat menemukan ponsel yang dirinya belikan tergeletak di atas meja. Dia mengambilnya. Di balik ponsel itu, sebuah catatan kecil tersematkan.
Bos, saya benar-benar tidak sengaja. Tapi saya terlalu malu untuk menemui Anda. Karenanya, sekarang saya akan pergi. Maaf, saya janji suatu saat nanti akan membayar semua utang saya pada anda saat kita bertemu kembali.
Gallen membuang catatan itu setelah meremasnya. Dia segera bergegas menuju garasi mobil, menaiki salah satu koleksi mobilnya dengan ponsel yang menghubungi seseorang.
"Halo, kenapa Bos---"
"Alby!" Putus Gallen. Kepanikannya bahkan dapat terdengar dengan jelas dari caranya bicara, "Tinggalkan semua pekerjaanmu, cepat cari Zoya sebelum dia pergi jauh!"
***
Zoya akhirnya sampai di sebuah loket bus yang akan membawanya ke tujuan. Gadis itu kemudian membeli satu tiket. Mobil yang akan ia naiki masih menunggu penumpang naik, jadi mungkin Zoya masih harus menunggu sebelum mobil itu bisa membawanya pergi.
Gadis itu menyandarkan kepalanya pada jendela. Terbayang kembali apa yang telah dirinya lalui selama satu bulan ini. Bukankah semuanya terlihat sangat menyenangkan? Lalu mengapa akhirnya jadi seperti ini?
Zoya ...
Gadis itu segera menggelengkan kepalanya saat desah suara Gallen di malam itu kembali terngiang di kepalanya. Apa yang sebenarnya ia lakukan? Mengingat hal mesum disaat dirinya lari dari kenyataan tersebut?
__ADS_1
Ukh, jangan diingat-ingat lagi! Anggap saja semua itu tidak pernah terjadi!
Zoya kembali menyandarkan kepalanya di jendela. Toh meskipun dirinya tidak kabur secara diam-diam seperti ini pun, Gallen tidak mungkin memedulikannya. Memangnya siapa dirinya ini? Hanya gadis desa biasa yang bodoh, tak terlihat menarik sedikitpun. Untuk seseorang yang sehebat Gallen, pasti sudah sangat hapal dengan lekuk tubuh wanita yang bahkan lebih wah dari dirinya.
Ya, pasti begitu. Sudahlah, lebih baik aku memikirkan bagaimana caraku berbicara pada Ibu dan Bapak nanti.
Setelah memutuskan demikian, Zoya melihat ke luar jendela. Jelas, loket dipenuhi banyak orang. Meski bukan waktunya libur ataupun mudik, tampaknya masih banyak orang yang memutuskan untuk bepergian. Bermacam-macam orang terlihat dari tempatnya saat ini. Seorang pria yang mengantarkan keluarganya pergi, bapak penjual cangcimen, bahkan seseorang yang dirinya kenal pun tampaknya ada disini.
Tunggu. Orang yang aku kenal?
Zoya melihat ke luar kembali. Itu Gallen dan Alby! Mereka datang untuk mencarinya?!
Bruk
Zoya menundukkan kepalanya. Mereka tidak boleh menemukan keberadaannya disini!
Tidak-tidak. Jika mereka memeriksa semua bus, mereka pasti akan menemukanku! Argh, bagaimana ini?
Zoya terus berdo'a dalam hati agar bus yang dirinya tumpangi segera berangkat. Tentu saja orang-orang di dalam memandangnya bingung. Namun, Zoya tak peduli! Satu-satunya yang dirinya pikirkan saat ini adalah bagaimana cara menghindari mata kedua pria yang tampaknya sedang mencarinya dengan emosi tersebut!
"Alby, periksa disana. Aku akan periksa mobil yang lainnya." Ujar Gallen. Pria itu bahkan tak tahu bagaimana ekspresi wajahnya dengan perasaan yang campur aduk seperti ini.
Tanpa banyak bicara, Alby mulai naik ke dalam bus lain dan memeriksa. Kebetulan, bus itu berada tepat di samping bus yang Zoya tumpangi. Dan sekarang jantung Zoya benar-benar diajak maraton menyadari hal itu.
Ayo berangkatlah Pak Supir!!! Apa lagi yang kalian tunggu?!
Zoya terus berdo'a dalam hati. Seperti didengar, seorang supir dan keneknya kemudian masuk ke dalam bus itu. Mereka lantas menginformasikan bahwa bus akan segera berangkat, dan Zoya merasa senang sekaligus sedih mendengar hal tersebut.
Selamat tinggal, kota pertama yang pernah kusinggahi. Selamat tinggal, semua orang yang ada di sini. Sekarang, aku akan benar-benar pergi.
Zoya menegakkan tubuhnya. Sekarang, entah mengapa ia memiliki firasat bahwa pada akhirnya ia tidak akan ditemukan. Dan mungkin juga, ini adalah terakhir kalinya bagi Zoya untuk bisa melihat dua pria yang banyak membantunya selama sebulan ini.
"Arggg! Kemana sebenarnya gadis itu pergi?!" Kesal Gallen. Dia berhasil menemukan tukang ojek yang ditumpangi Zoya. Tukang ojek itu mengatakan bahwa gadis itu pergi kemari. Tapi dari sekian banyak bus, mengapa tak sedikitpun mereka temukan keberadaan Zoya?
Sebuah bus bergerak. Entah berapa banyak bus yang sudah lalu lalang di depan mereka. Gallen menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa kesal dan menyesal karena tak bisa menahan gadis itu.
Sementara, Zoya yang sebenarnya ada di mobil yang melewati Gallen barusan pun benar-benar merasa sedih dengan kepergiannya yang terasa dipaksakan.
__ADS_1
***