
..."Pagi, sayang. Bangun, yuk?"...
...***...
Saat matahari terbit pada keesokan harinya, Zoya langsung membersihkan diri lalu turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Karena barang-barang mereka tertinggal di kontrakan, termasuk baju kerja Zoya, hari ini wanita itu lagi-lagi harus mengambil cuti kerja. Untung saja temannya itu telah lebih dulu mengusulkan agar ia beristirahat terlebih dahulu. Jika tidak, mau tidak mau Zoya harus mencari alasan mengapa ia lagi-lagi tidak bisa masuk kerja.
"Berasa ngambil kesempatan karena kenal orang dalam, deh." Gumamnya.
"Orang dalam siapa?"
Zoya menoleh. Gallen, yang hari ini mengenakan pakaian santai karena tak pergi bekerja langsung ambil tempat di meja makan. Kedua tangannya dilipat, diletakkan di atas meja makan.
"Bosku di tempat kerja. Karena aku sudah kenal lama dengannya, dia jadi memberikanku banyak waktu libur." Jelas Zoya. Bibirnya sedikit mencebik saat berbicara.
Sebelah alis Gallen terangkat mendengar cerita itu, "Lalu, apa masalahnya? Bukankah itu bagus?"
"Bagus, sih." Zoya berbalik dan memindahkan sup yang dimasaknya ke dalam mangkuk, "Tapi jadi enggak enak juga sama Dafa. Mungkin beberapa karyawan restoran merasa enggak adil karena aku bebas ambil libur kapan aja, padahal yang lain harus kerja full satu bulan. Kalau ambil cuti, ada batas waktunya." Jelas Zoya kemudian.
Gallen hanya diam. Bukannya memberi komentar, dia justru salah fokus pada nama yang disebut Zoya barusan.
"Dafa ... " Gumamnya.
Ah, dia ingat.
Tadi pagi dia pamitan, kayaknya dijemput sama calon mertuanya. Mungkin mau pulang kampung, Mas. Soalnya Mbak Zoya sama Mas Dafa kan emang sekampung.
"Pria yang digosipkan sebagai calon suaminya, rupanya." Gumam Gallen pelan. Pria itu mendecih. Sialan. Membuat mood nya jadi jelek saja. Kenapa pagi-pagi malah membahas saingan, sih?
Zoya meletakkan mangkuk berisi sup tadi di atas meja makan. Saat matanya tak sengaja menatap Gallen, Zoya justru dikejutkan dengan ekspresi wajah pria itu. Dahi Zoya berkerut. Kenapa lagi bosnya ini? Pagi-pagi sudah berwajah masam seperti ini.
"Bos sakit?" Tanya Zoya khawatir.
Gallen menatapnya tajam, "Ya, sakit hati." Jawab pria itu dengan suara merajuk. Tentu saja Zoya semakin bingung. Apa pria juga punya masa PMS? Tadi Gallen baru saja terlihat normal. Sekarang dia sudah merajuk lagi seperti ini. Yah, meski kata-katanya masih cukup terfilter dengan baik.
"Ih, bos merajuk. Lagian sakit hati kenapa, sih?" Tanya Zoya tak mengerti. Tentu saja, karena ia tak tahu menahu mengenai apa yang tetangga kontrakannya katakan.
Gallen hanya buang muka, malas menjawab. Toh dijelaskan juga Zoya tidak akan paham.
__ADS_1
"Oh, aku akan pergi ke kamar Noah dulu. Enggak biasanya dia telat bangun." Ujarnya.
Namun baru beberapa langkah Zoya pergi, Gallen sudah menghentikannya lagi.
"Aku saja yang membangunkannya." Katanya.
Zoya agak terkejut melihat itu, namun ia berusaha untuk memahami. Mungkin saja Gallen penasaran bagaimana rasanya membangunkan anak di pagi hari. Itu adalah hal baru untuk dirinya yang terbiasa sendiri, bukan?
"Boleh aja. Kalau begitu aku lanjut siapin yang lain." Putus Zoya.
Mereka lalu membagi tugas. Gallen pergi ke kamar Noah sedangkan Zoya kembali menyiapkan makanan dan peralatan makan untuk sarapan. Seperti keluarga bahagia, bukan? Sayang sekali Milo tidak ada disini. Karena jika Milo pun ada, keluarga ini pasti akan terasa semakin lengkap.
Klek
Gallen membuka pintu kamar Noah. Putranya itu masih bergelung dalam selimut, memeluk bantal berbentuk bintang yang memang ada di atas ranjangnya.
"Noah ... " Gallen mencoba membangunkan anak itu. Entah terlalu lelah atau karena baru kali ini tidur di kasur dan kamar mewah, Noah bahkan tak terganggu sedikitpun meski Gallen duduk di pinggir ranjangnya.
"Hei," Panggilnya lagi, "Kau tidak ingin sarapan?" Gallen mencoba membangunkannya dengan menepuk-nepuk pelan punggung tangan Noah.
Noah hanya bergerak-gerak pelan, tak ingin bangun. Sepertinya dia terlalu nyaman dengan tidurnya. Gallen menghela napas panjang. Sekarang ia harus berpikir keras. Bagaimana cara membangunkan anak dengan baik dan benar? Gallen tak mau caranya membangunkan Noah akan mengurangi penilaiannya jika Noah menganggap Gallen kasar saat membangunkannya.
"Pagi, sayang. Bangun, yuk?" Ujarnya.
Gallen bersuara riang dengan bibir tersenyum lebar bak seorang ayah yang sedang membangunkan putrinya. Hal yang sangat-sangat tidak dipercaya akan dilakukan oleh orang berwajah kasar nan kaku sepertinya.
Dan tentu saja, itu pun tak berhasil membangunkan Noah. Tidak sama sekali!
Oke, rasanya Gallen ingin menyembunyikan wajahnya di dalam lubang sekarang. Malu sekali mengatakan hal-hal yang tak biasanya dia katakan seperti ini, apalagi Noah tak terbangun sedikitpun setelah semua usahanya.
Gallen tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa, namun tiba-tiba saja suara kikikan membuatnya menoleh.
"Paman lucu." Kata bocah laki-laki itu.
Gallen membuka mulutnya, terkejut.
"Kau sudah bangun?"
__ADS_1
Noah mengangguk. Dia selalu bangun di jam yang sama, dan itu tetap sama meski tempat tidurnya berubah-ubah. Dia hanya merasa bahwa mungkin saja Mama dan Papanya butuh waktu berdua, karena itu Noah tak kunjung keluar dari kamarnya.
Namun saat melihat Gallen datang untuk membangunkannya, Noah jadi berpikir untuk sedikit mengerjai Papanya itu.
"Ah, jadi kau sedang menggodaku, ya?"
Noah terkikik. Gallen kemudian menggelitiki putranya itu, membuat Noah kegelian dan tertawa lepas.
"Sudahlah, Mamamu bisa marah kalau kita tidak segera keluar. Jadi bagaimana jika sekarang kita keluar, jagoan?" Katanya. Gallen mengangkat sebelah alisnya saat mengode Noah yang memang mengenakan baju tidur bergambarkan karakter jagoan dengan maskot kelelawar.
"Ayo!" Jawab Noah.
Gallen kemudian mengangkat Noah. Mereka keluar dari kamar, lalu segera menemui Zoya yang telah selesai menyiapkan sarapan. Zoya yang melihat putranya digendong seperti itu sempat terdiam, namun untungnya langsung sadar saat mereka berdua telah berdiri di depannya.
"Sudah cuci muka?" Tanya Zoya. Noah menunjukkan wajahnya yang bersih.
"Sudah."
"Gosok gigi?"
"Sudah."
"Kapan?" Zoya bahkan tak melihat ada setetes pun air baik di wajah maupun rambut bocah laki-laki itu.
Noah yang mendapati pertanyaan seperti itu pun menghela napas.
"Hah, memangnya aku seperti Mama. Tentu saja aku sudah membersihkan diri sejak pagi tadi, bahkan Mama mungkin masih belum bangun." Katanya.
Zoya hanya terkekeh, pintar sekali putranya ini membalik kata-katanya dan membuatnya malu.
"Dasar. Mama juga bangun pagi, ya. Tapi Mama sibuk di dapur daritadi. Yasudah, kita sarapan dulu kalau begitu."
Gallen kemudian mendudukkan Noah di salah satu bangku, sedangkan Gallen duduk di bagian pojok. Dengan demikian, Noah dan Zoya saling berhadapan dan Gallen berada di tengah-tengah mereka. Sungguh potret keluarga bahagia yang sangat manis, sayang sekali Gallen tak bisa mengabadikannya dengan benar. Oh, apa dia harus mengambil ponselnya untuk membuat satu atau dua foto bertema keluarga? Gallen selalu menginginkan itu sejak lama.
"Nanti bos jadi menemaniku untuk mengambil barang-barang, kan?" Tanya Zoya tiba-tiba, membuat lamunan Gallen terpecah.
"Tentu saja, siapa lagi yang akan menemanimu jika bukan aku." Katanya.
__ADS_1
Zoya hanya menggeleng, sepertinya Gallen sedang malu-malu kucing sekarang.
***