
..."Aku akan menemui calon istri dan juga anak-anakku."...
...***...
Zoya membuka matanya lebar-lebar saat kalimat sakral itu akhirnya terucap. Pria itu, pria yang selama ini dipanggilnya dengan bos, ternyata diam-diam menyimpan perasaan padanya? Dan lagi katanya sudah sejak lama?
"Bos ... " Kebingungan itu terlihat dengan jelas di wajahnya, "Jangan bercanda seperti itu, ah. Masa Bos suka sama aku." Lagi-lagi Zoya menolak untuk percaya. Coba bayangkan, deh. Masa seorang bos jatuh cinta pada bawahannya? terlebih lagi seorang pembantu. Gallen buta atau bagaimana? Ada lebih banyak wanita cantik di luaran sana!
"Haah," Gallen menghela napas panjang. Dia yang tidak sabaran atau justru Zoya yang memang ingin mengajaknya bertengkar? Kenapa susah sekali bagi wanita itu untuk sekedar menjawab "iya"?
"Kalau kau menikah denganku, kau tidak perlu pusing membawa apapun. Hanya cukup kau dan anak-anak kita. Selebihnya, aku yang akan urus." Tawar Gallen.
"Tapi, Bos --- "
"Tidak ada tapi-tapi," Gallen memotong kalimat Zoya. Wanita itu menatap Gallen, namun tak berani berujar sepatah katapun, "Aku akan datang kesini lagi besok. Kuharap, aku akan mendengar jawaban yang tepat darimu." Katanya.
Selesai mengatakan itu, Gallen kembali berdiri. Pria itu sempat menatap sejenak pada pintu kamar Noah yang tertutup. Namun, tanpa alasan yang jelas, dia memilih untuk tidak berpamitan pada kedua anaknya itu. Gallen kembali menatap Zoya, yang karena terkejut dengan gerakan Gallen yang tiba-tiba akhirnya terlonjak.
"Ingat itu, aku akan datang kesini lagi besok." Katanya dengan penuh nada peringatan.
Zoya menelan air liurnya dengan susah payah. Seiring dengan menjauhnya Pria itu, Zoya langsung memakinya dalam hati. Pria itu ... bisa-bisanya dia malah menakuti Zoya seperti ini!
***
"Hahh." Zoya menjatuhkan dirinya ke atas kasur dalam posisi tengkurap dan kepala yang terbenam di bantal. Pikirannya masih belum tenang sekarang. Bahkan ketika ia tiba-tiba terbayang akan wajah Gallen, Zoya akan langsung memukul dan meninju bantal yang ada di dekatnya untuk melampiaskan rasa marah.
"Ah, dasar. Gara-gara bos aku jadi aneh seperti ini." Omelnya sendiri. Zoya melihat ke satu arah dinding, dinding yang menjadi pembatas antara kamarnya dengan kamar Noah. Dan sekarang, tidak hanya ada Noah disana. Namun juga Milo yang baru mengunjungi mereka siang ini.
Zoya memperbaiki posisi tidurnya. Sebenarnya jika memikirkan anak-anak itu, Zoya memang patut disalahkan. Memisahkan anak-anak dari ayah mereka hanya karena merasa itu adalah pilihan terbaik tanpa berdiskusi, tentu saja Zoya salah. Zoya akan memaklumi jika Gallen mengajukan diri untuk bertanggung jawab dengan cara memberikan mereka kasih sayang sebagaimana mestinya. Tapi, untuk menikah, Zoya rasanya belum siap.
__ADS_1
Mungkin usianya memang sudah pantas untuk menikah, namun sepertinya sejak punya anak ia sama sekali tidak memikirkan masalah itu. Zoya benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk kebahagiaan Milo dan Noah, karena itu lah sampai sekarang ia masih juga tak mencari pasangan. Dan jika ditanya bagaimana pendapatnya tentang menikah dengan Gallen, Zoya mungkin tidak tahu pasti.
Apa ia mencintai Gallen?
Atau hanya bertanggung jawab satu sama lain demi kedua anak kembar mereka?
"Aku benar-benar enggak tahu." Zoya mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan. Gallen akan datang besok, namun Zoya masih belum tahu harus menjawab apa. Apa yang harus ia lakukan?
Drtt
Getar ponsel membuat Zoya menoleh. Satu pesan masuk dari orangtuanya di desa membuat Zoya cepat-cepat membuka pesan tersebut dan membacanya. Menyadari maksud pesan tersebut, Zoya tersenyum kecil. Mungkin, ia memang butuh sedikit refreshing.
***
"Aku akan kembali seminggu lagi."
Zoya merasa lega. Sebelumnya ia memang sudah merencanakan untuk mengambil cuti bahkan sudah mengatakan itu pada Dafa, namun rencana itu pada akhirnya dimajukan. Selain memang ingin istirahat, Zoya juga ingin memikirkan baik-baik dulu apa yang dikatakan Gallen di hari kemarin. Bila pikirannya selalu kusut selama di kota, mungkin saja hal yang berbeda akan terjadi jika Zoya pulang ke rumah. Karena itulah, ia dan anak-anak akan pulang lebih dulu bersama Ayah Dafa yang juga akan pulang setelah selesai mengecek pekerjaan anaknya.
Dafa yang sibuk dengan urusan restoran akan sulit untuk mengambil cuti dalam beberapa hari ke depan. Kedatangan Ayahnya ke tempat ini sedikit banyak memberikan bantuan untuk mereka. Jika ayahnya yang membawa Zoya, Dafa pun tak perlu khawatir. Ia bisa dengan tenang membiarkan mereka pulang meski tanpa pengawalan darinya.
Yah, meski sebenarnya bukan kewajiban Dafa juga untuk melakukan itu.
"Kami pergi dulu." Pamit Ayah Dafa.
Dafa turut mengantarkan keempat orang itu menuju mobil. Setelah semua orang masuk dan barang pun selesai dimasukkan, mobil itu akhirnya berangkat untuk kembali ke desa.
***
Di rumah, Gallen tengah bersiap-siap di depan kaca. Ia sudah memeriksa penampilannya berkali-kali, takut jika ada sesuatu yang dirinya lewatkan.
__ADS_1
"Bos," Panggil Alby. Alby yang masih tidak tahu menahu mengenai masalah Gallen dan Zoya tentu bingung dengan tingkah bosnya itu, "Sebenarnya Anda mau pergi kemana? Kenapa berdandan serapi itu?" Tanyanya.
Gallen merapikan dasinya sekali lagi. Setelah merasa yakin dengan penampilannya, pria yang kini mengetahui bahwa dirinya telah menjadi ayah dari dua orang anak itu lalu menoleh dan menatap sang sekretaris, "Aku akan menemui calon istri dan juga anak-anakku." Katanya.
Alby terdiam, tak mengerti dengan kata-kata Gallen.
"Maaf, bisa ulangi apa yang barusan Anda katakan?"
"Hah," Gallen menghela napas melihat tingkah sekretarisnya, "Kau tidak salah dengar. Aku memang akan pergi untuk menemui calon istri dan anak-anakku." Ulangnya lagi. Pemberitahuan mendadak dari Gallen itu tentu saja membuat Alby mengerutkan dahi, terkejut dan juga bingung.
"Bagaimana mungkin Anda memiliki anak sebelum menikah? Ah, atau jangan-jangan ..."
Gallen menoleh ke arah Alby. Apa dia bisa menebaknya?
Sementara itu, Alby yang sengaja melama-lamakan kalimatnya itu kemudian melanjutkan kata-katanya, "Apakah wanita yang Anda cintai itu adalah seorang janda yang memiliki beberapa anak?"
Oke, memang tidak seharusnya Gallen berharap pada manusia.
Mendengar tebak-tebakan dari Alby yang tak sedikitpun mendekati kenyataan, Gallen akhirnya memilih untuk keluar saja dari ruangan itu.
"Aduh, Bos. Nyonya Pamela memang tidak melarang Anda untuk mendekati wanita, tapi --- " Ucapan Alby terhenti saat tiba-tiba saja Gallen berbalik dan mengangkat satu telunjuknya di depan bibir.
"Berisik. Dia bulan janda, tapi anak-anak itu memang anakku. Apakah itu cukup untuk membuatmu mengerti?" Gallen sengaja mengatakan hal itu untuk membungkam mulut Alby.
Alby terdiam, sangat terkejut mendengar informasi itu.
"Heeee?!"
***
__ADS_1