Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
16. Buah Hati


__ADS_3

..."Tiba-tiba dadaku sakit. Aku merasa seseorang memanggilku, dan entah kenapa pikiranku langsung mengarah ke gadis bodoh itu."...


...***...


Melahirkan bukan hal yang mudah, Zoya tahu dengan jelas tentang hal itu. Ia sudah banyak bertanya pada para ibu tentang pengalaman mereka saat melahirkan. Beberapa bahkan langsung memilih untuk operasi caesar karena takut akan rasa sakitnya, padahal opsi itu juga tidak berarti bahwa mereka akan benar-benar terbebas dari rasa sakit karena penyembuhan bekas operasi nyatanya lebih lama daripada melahirkan secara normal. Namun yang tidak dirinya sangka, bahwa kehamilannya yang semula terkesan baik-baik saja dan mudah, tetap mengalami masalah saat proses persalinannya.


Ya, persalinan Zoya mengalami kesulitan.


Entah berapa lama ia sudah berjuang untuk melahirkan anak-anaknya, namun sampai sekarang mereka belum juga lahir. Saking sakitnya, beberapa kali ia hampir jatuh pingsan.


"Zoya! Nak, jangan tidur dulu!"


Samar-samar ia mendengar suara sang ibu yang memanggil-manggil dirinya. Zoya mengerjap-ngerjapkan matanya, tak lagi bisa melihat dengan jelas.


"Sakit, Bu ... " Rintihnya.


Ibu memegang tangannya. Putri satu-satunya itu terlihat tak lagi punya kekuatan, "Kamu pingin liat anak-anakmu, kan? Jangan menyerah dulu, sayang. Zoya pasti bisa." Suaranya terdengar parau.


Bulir bening mengalir di pipi Zoya. Sungguh, rasanya ia ingin menyerah. Namun saat mendengar suara sang ibu, ia mengurungkan niatnya. Bagaimana pun juga anaknya harus lahir, mereka berhak hidup di dunia ini.


"Ibu, tarik napas dalam-dalam dan ikut arahan saya lagi, ya."


Zoya kembali mengikuti arahan dari Dokter. Setelah diperintahkan untuk mengejan, ia kembali berusaha melahirkan anaknya.


"Engh!"


Perjuangan Zoya membuahkan hasil. Beberapa saat kemudian, anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki lahir. Disusul anak kedua yang juga berjenis kelamin sama. Saat tangisan keduanya terdengar, Zoya menangis karena bahagia.


"Dok! Ibunya mengalami perdarahan!"


Seisi ruangan yang semula bahagia karena kelahiran si kembar, mendadak menjadi kembali ricuh setelah mendengar kalimat tersebut. Dokter kembali mengambil alih penanganan, sedang kedua bayi kembar tersebut yang beratnya kurang diurus oleh yang lainnya.


"Zoya, Zoya dengar ibu, kan?"


Pandangan matanya telah buram sepenuhnya. Suara dari luar pun tak lagi terdengar jelas. Namun, disaat antara hidup dan matinya itu, satu-satunya yang muncul di ingatannya hanya Gallen. Pria itu terlihat menekuk wajah di depannya, dan Zoya yang melihat itu pun bersuara pelan.


"Bos, maafkan saya."


Setelahnya, Zoya langsung kehilangan kesadaran.


***

__ADS_1


Sementara itu, lagi-lagi Gallen tak bisa fokus pada pekerjaannya.


"Alby," Panggilnya. Alby yang memang sedang ada di ruangan bos nya itu pun menoleh.


"Masih belum ada kabar tentang Zoya?"


Gerakan tangan Alby yang tengah merapikan beberapa dokumen pun terhenti. Aneh, sudah dua kali bosnya itu bertanya tentang Zoya pada hari ini. Apa yang sebenarnya yang ada di pikirannya?


"Bos, Anda mencemaskan Zoya lagi?"


Gallen menyentuh dadanya, "Tiba-tiba dadaku sakit. Aku merasa seseorang memanggilku, dan entah kenapa pikiranku langsung mengarah ke gadis bodoh itu."


Alby yang mendengar itu hanya tersenyum. Sepertinya bosnya memang sudah dibuat sakit karena rindunya pada gadis itu.


"Saya sudah meminta banyak orang untuk mencari Zoya, tapi sampai saat ini memang belum ada kabar."


"Berapa lama lagi sampai aku bisa mendapatkan hasilnya?"


Alby mengedikkan bahu, "Entahlah. Mungkin satu bulan, mungkin satu tahun, tapi mungkin juga ... " Alby menghentikan kata-katanya setelah melihat ekspresi mengerikan di wajah Gallen, "Bos, sebenarnya apa yang Anda lakukan pada Zoya sampai dia kabur seperti itu?"


Gallen kembali mengalihkan wajahnya. Sejak awal, dia memang tak pernah mau menceritakan apa yang terjadi padanya dan Zoya pada malam itu, sehingga tidak aneh jika Alby merasa bertanya-tanya tentang alasan kepergian gadis itu yang misterius.


Alby hanya menghela napas sembari mengangguk-anggukkan kepala. Yah, mau bagaimana lagi. Bukankah ini memang sudah resikonya jika bekerja bersama bos yang sering uring-uringan seperti Gallen?


"Baiklah, saya akan berusaha lebih keras lagi." Katanya kemudian, mengalah.


***


Setelah tidak sadarkan diri pasca melahirkan, baik Zoya dan kedua bayinya perlu mendapatkan perawatan intensif. Bahkan pihak keluarga pun tidak bisa langsung mengambil bayi kembar itu lantaran mereka harus masuk ke ruang NICU.


Bapak dan Ibu tengah terduduk di ruang tunggu. Tak lama kemudian, Dafa yang sebelumnya pergi untuk melihat si kembar pun kembali.


"Nak, kamu selalu di rumah sakit sejak Zoya melahirkan. Kuliahmu gimana?" Tanya Ibu.


Dafa yang mendengar itu hanya tersenyum kecil. Memang sejak mendengar Zoya yang masuk rumah sakit, pria itu langsung memutuskan untuk pulang meskipun saat itu dia sedang ada di kelas.


"Enggak apa-apa, Bu. Lagipula selama ini saya enggak pernah ambil cuti, jadi saya bisa libur agak lama." Jawabnya.


Bapak yang mendengar itu melirik diam-diam. Sebenarnya, Dafa adalah anak yang sangat baik. Dia tahu karena melihat secara langsung tumbuh kembangnya sejak masih kecil. Mungkin dia juga tidak akan menolak jika Dafa benar-benar mengambil posisi sebagai menantu, tapi ...


Zoya enggak mau Dafa terkena getah atas masalah yang Zoya buat.

__ADS_1


Putrinya itu menolak. Pembicaraan itu terjadi tepat setelah kedua orang tuanya mengetahui kehamilannya.


Bagi Zoya, menjadikan Dafa sebagai kambing hitam untuk mengakui bahwa dirinyalah yang menghamili Zoya bukanlah pilihan yang tepat. Jikapun Dafa benar ingin menikahi Zoya, dan ia bersedia melakukan itu, Zoya mau pernikahan itu terjadi memang karena keduanya sama-sama menginginkan hal itu, bukan untuk menutupi kehamilannya.


Dan meskipun Zoya sudah membuat pilihan seperti itu pun, Dafa tidak sama sekali merasa sakit hati ataupun marah. Pria itu masih selalu datang, bahkan menelepon Zoya hanya sekedar untuk mengetahui keadaannya. Dafa juga banyak membelikan barang-barang untuk cucunya, seolah-olah dia benar merupakan ayah untuk kedua bayi itu. Entahlah, Bapak pun merasa sepertinya Dafa benar-benar menganggap mereka sebagai anak kandungnya sendiri, sampai-sampai dia memilih libur dari kuliahnya hanya untuk mengurusi keperluan Zoya dan bayi kembarnya.


"Kamu jangan lupa istirahat, disini masih ada bapak dan ibu yang bisa jagain Zoya dan si kembar."


Dafa mengangguk masih sambil tersenyum. Meskipun disuruh seperti itu, dia tak bisa benar-benar istirahat. Karena kondisi Zoya belum benar-benar baik, pulangpun Dafa tak akan bisa tenang.


"Bapak dan Ibu juga, jangan lupa istirahat. Dafa bisa jagain mereka." Katanya.


***


Beberapa hari kemudian, kondisi Zoya berangsur membaik. Ia juga telah kembali sadar. Setelah sadar, hal pertama yang ditanyakannya adalah kondisi si kembar. Sayangnya, ia tak bisa langsung melihat kedua putranya yang masih di ruang NICU. Zoya sangat sedih mendengar kabar itu.


"Tapi mereka baik-baik aja kan, Bu?" Tanyanya untuk kesekian kali.


Ibu mengangguk, "Iya, gapapa. Tapi memang masih harus di ruang NICU dulu untuk beberapa lama." Jawab Ibunya. Dafa yang melihat kesedihan di wajah Zoya kemudian mengeluarkan ponselnya.


"Sepertinya kamu harus berterimakasih padaku," Dia menunjukkan layar ponselnya, "Aku udah ngambil foto si kembar. Yah, meskipun cuma bisa dari jauh."


Zoya yang mendengar itu langsung merebut ponsel Dafa. Ia menutup mulutnya melihat dua makhluk kecil yang ada di foto itu. Meskipun alat-alat ditubuh mereka cukup membuat ngilu, tapi Zoya merasa mereka sangat lucu.


"Kasihannya anak Mama," Ia mengelus layar ponsel Dafa, "Cepatlah sembuh supaya kita bisa main bareng, ya." Katanya.


Dafa yang melihat itu langsung menepuk-nepuk pelan kepala Zoya, "Tenang aja. Mereka kuat, kok. Karena mereka harus berhadapan dengan Mama yang cerewet---Aduduh!" Dafa meringis setelah menerima cubitan dari Zoya, "Bu, sepertinya Zoya udah sembuh. Cubitannya sakit banget."


Ibu yang melihat itu tertawa kecil. Kedua anak di depannya ini sudah sama-sama dewasa, bahkan Zoya sudah menjadi ibu dari dua anak sekarang. Tapi kelakuan mereka masih tidak ada ubahnya dengan anak kecil yang dulu berlarian di depan rumahnya.


"Nak Dafa disini dulu, ya. Ibu mau ketemu sama bapak."


Dafa tidak perlu berpikir untuk menjawab permintaan itu. Dia pun mempersilakan Ibu Zoya untuk pergi.


Diperjalanan menemui suaminya, Ibu kembali kepikiran. Saat Zoya melahirkan, bukankah ia sempat mengatakan sesuatu?


"Bos, katanya?" Dia memandang ke belakang, "Zoya memang pernah bilang kalau dia bekerja pada seseorang selama satu bulan itu, apakah orang itu?"


Berbagai perkiraan menyerang kepalanya. Ah, dia tidak tahu. Lagipula Zoya bilang ia tak ingat siapa pria yang menghabiskan malam dengannya, tapi mengapa ia meminta maaf pada bosnya?


***

__ADS_1


__ADS_2