
..."Ini beneran anak yang aku lahirin, kan? Kok sifatnya beda banget sama aku, ya?"...
...***...
5 Tahun Kemudian
"Aaaaa! Udah hampir jam 7!"
Ia langsung terlonjak dari tempat tidur. Setelah mandi bebek dan berpakaian, wanita berusia 26 tahun itu langsung menghadap cermin untuk berdandan.
Nah, sekarang tinggal berangkat!
Ia langsung mengambil tas kecil yang biasanya dirinya gunakan untuk menyimpan dompet dan ponsel, lalu keluar dari kamar untuk berangkat bekerja.
"Mama!"
Zoya langsung menahan kakinya. Dari belakang, seseorang memanggilnya dengan nada kesal.
Astaga, aku lupa belum ngurusin Noah!
Zoya lantas berbalik, menemukan anaknya yang tengah melipat tangan di depan dada.
"Noah udah siap-siap?" Zoya bersuara ramah. Noah telah terlihat rapi dengan pakaian TK nya. Anaknya itu memang sudah terbiasa bangun sendiri, bahkan mandi dan bersiap-siap seperti ini. Tentu, bukan karena Zoya yang selalu telat bangun. Namun Noah memang cepat dalam mempelajari hal baru sehingga dia bisa mengurusi dirinya sendiri dikala Mamanya sedang sibuk.
Noah mendengus. Mendengar suara Mamanya, tak langsung membuat anak laki-laki yang memegang predikat sebagai "Bayi tampan berwajah masam" itu bersikap manis. Justru, Noah yang masih berdiri di depan Mamanya itu langsung menyipitkan kedua matanya.
"Mama!" Zoya terkejut mendengar suara anaknya, "Aku kan udah bilang kalau mama kebanyakan nonton film! Lihat, lagi-lagi Mama kesiangan." Kesalnya.
Zoya meringis. Semalam dirinya memang menonton sebuah drama korea sampai lewat tengah malam. Tapi bagaimana pun juga, bisa-bisanya bayi berumur lima tahun ini memarahi dirinya?
Ini beneran anak yang aku lahirin, kan? Kok sifatnya beda banget sama aku, ya?
"Hehe." Zoya lantas mendekat pada anaknya, "Maafin Mama ya, sayang. Mama buatin bekal untuk Noah dulu, ya." Zoya hendak beranjak ke meja makan.
"Enggak usah." Dia mengangkat kotak makannya, "Aku sudah membuatnya sendiri."
Zoya menggaruk pelan pipinya. Oh, oke. Anaknya pasti benar-benar marah sampai tidak membiarkan dirinya menyiapkan bekal.
"Oke, kalau gitu kita berangkat ke sekolah sekarang." Putus Zoya.
__ADS_1
Ia lantas mengulurkan tangan. Meski Noah kesal, tetap saja dia tidak bisa mengacuhkan Mamanya sekarang.
***
"Hahaha," Dafa yang kala itu datang ke tempat kerja Zoya tertawa dengan puas. Meskipun hampir setiap hari kedua orang itu bertengkar, namun tetap saja baginya itu lucu.
"Noah pinter banget, sampai bisa marahin Mamanya." Ucapnya.
Zoya yang melihat itu memasang wajah masam. Dasar. Padahal ia ingin berbagi cerita, namun temannya yang satu ini justru asik menertawakannya.
"Ah, dasar. Malah ketawa."
Dafa berusaha menghentikan tawanya. Meski terlihat galak, anak yang hampir menjadi anaknya itu sebenarnya adalah anak yang baik dan cerdas. Dafa bisa menilai itu jika melihat betapa mudahnya Noah membuka ponselnya meskipun itu dikunci.
"Oh, ya. Gimana Milo? Kayaknya udah lama dia enggak ke kota." Tanyanya kemudian.
Zoya yang mendengar nama anak pertamanya disebut pun berpikir. Sembari menyandarkan punggungnya pada dinding, wanita itu pun menerka-nerka apa yang sedang anaknya itu lakukan, "Yah, kayaknya dia lagi asik main sama kakeknya. Milo kan dekat banget sama Bapak." jawabnya kemudian.
Dafa mengangguk-angguk. Memang benar, Milo sangat dekat dengan kakeknya. Itulah sebabnya kedua anak kembar itu tinggal secara terpisah sejak Zoya memutuskan untuk bekerja di kota.
Sekitar dua tahun yang lalu, keluarga Dafa membuka sebuah restoran di kota mereka. Dafa yang kala itu sudah cukup pandai mengelola restoran karena sebelumnya sudah ikut membantu mengelola restoran di cabang lain pun di tunjuk untuk mengelola restoran tersebut.
"Tahun depan si kembar udah masuk SD. Kamu mau mereka tetap beda sekolah?" Dafa penasaran. Sebenarnya dia mengerti bagaimana lelahnya mengurus dua anak disaat yang bersamaan, apalagi disaat mereka sedang aktif-aktifnya. Namun, kasihan saja jika memikirkan Milo yang ditinggalkan jauh di desa sana.
"Sebenarnya aku juga enggak mau jauh dari anak-anak, sih. Tapi ... " Ia memandang Dafa dengan mata berkaca-kaca, "Justru Milo yang menolak untuk ikut denganku!" Jawabnya kemudian yang membuat Dafa tercengang.
"Hah?"
"Iya." Zoya melipat bibirnya, "Dia bilang, 'Mama enggak asik, mama kan enggak bisa mancing ikan kayak kakek'. Dia juga pernah bilang kalau dia bosan kalau bersama denganku."
"Hahaha." Dafa kembali tertawa. Setelah mengingat-ingat, sepertinya dia bisa menerka sifat siapa yang turun pada Milo.
"Sifat Milo persis sepertimu saat kecil."
"Apa? Mana mungkin. Sejak kapan aku jadi seenggak diam itu?"
Dafa menggeleng sembari tertawa. Jelas-jelas dirinya ingat bahwa Zoya sangat aktif sejak kecil, persis seperti Milo sekarang. Sedangkan sikap pendiam dan sedikit galak yang dimiliki oleh Noah, mungkin diturunkan dari kakeknya.
"Iya, sikap Milo mirip sekali denganmu dulu. Kalau Noah mirip dengan Bapak." Katanya.
__ADS_1
Zoya berpikir dengan cermat. Ah, benar juga. Sifat Noah sangat berbeda dengannya. Anak itu sangat pendiam, namun akan menjadi galak pada orang-orang yang dianggap mengganggunya. Anak itu juga sangat suka membaca buku, mendengar berita, bahkan mengotak-atik ponsel ataupun laptop orang, itu sangat berbeda dengannya. Jadi ...
Sifat Noah pasti menurun dari Gallen!
"Oh, kamu benar. Sifat Noah pasti menurun dari bapaknya." Ujar Zoya. Dafa yang mendengar itu justru bingung.
"Bapaknya?"
Zoya menatap Dafa. Tunggu, bukannya Dafa juga mengatakan bahwa sifat Noah menurun dari bapak? Atau justru apa yang dikatakannya tidak sinkron dengan apa yang Dafa katakan?
"Ah, Ahaha. Maksudku mirip dengan bapakku." ralatnya kemudian setelah sadar. Dasar, bagaimana mungkin ia berpikir bahwa Dafa mengatakan Noah mirip dengan ayahnya? Dafa bahkan tidak pernah mengungkit hal itu seolah Zoya mendapatkan kedua anaknya berkat hadiah isi ulang pulsa!
Dafa bisa melihat senyuman canggung yang terpatri di wajah wanita itu. Sebenarnya, dia juga tidak yakin dengan kata-kata Zoya. Namun, pria itu tak ingin menebak-nebak. Biarkan saja, gak Zoya untuk bungkam. Bagi Dafa, dia bersedia mendengarkan apapun yang ingin Zoya katakan. Dan jika Zoya tak ingin mengatakannya, maka Dafa pun tak akan bertanya.
"Oke," Pria itu menatap jam di tangannya, "Waktu istirahat hampir selesai. Nah, Zoya, bagaimana kalau kita kembali ke dalam?"
Zoya mengangguk. Tentu saja, ia harus kembali ke dalam karena ini sudah tugasnya.
***
"Noah, kamu mau beli apa?" Winona, guru TK sekaligus teman dekat Zoya tengah membawa Noah untuk berbelanja. Anak itu tampak menimbang-nimbang barang apa yang diinginkannya.
Saat matanya menatap satu barang, Noah langsung bertanya, "Bu guru, opor ayam dibuat pakai santan, kan?" tanyanya. Winona yang mendengar itu pun terkekeh. Dirinya meminta Noah memilih camilan, namun Noah justru salah fokus ke barang lainnya. Merasa gemas, ia lantas menekuk lututnya untuk menyamakan tinggi dengan bocah tersebut.
"Iya. Noah suka opor ayam, ya?"
Anak itu mengangguk. Winona kemudian mengambilkan santan instan yang ada di salah satu rak yang ada di mini market tersebut, "Ini ibu guru belikan. Minta mamamu untuk masak opor ayam yang banyak, ya." Winona cekikikan. Bagaimanapun juga, Zoya sangat pandai memasak. Opor ayam adalah salah satu masakan andalannya. Lumayan juga, kan, kalau dapat makanan gratis?
Noah mengangguk. Saat ia akan berbalik, sosok pria tinggi yang ternyata berdiri dibelakangnya membuat kepala anak itu terantuk.
"Noah enggak apa-apa?" Tanya Winona khawatir. Ia juga menatap pria yang baru saja ditabrak oleh Noah, menunduk dengan hormat.
"Maaf, keponakan saya tidak sengaja menabrak Anda."
Pria itu lantas memandangi anak di depannya. Melihat anak itu yang memandangnya tanpa takut, dia kemudian menekuk lututnya untuk menyamakan tinggi tubuh mereka.
"Selera makanan yang bagus. Bagaimana jika ditambah dengan sambal kentang?" Kata pria itu dengan senyuman tipis.
***
__ADS_1