
"Bahkan jika ada cara untuk menyelamatkan nyawanya dengan mengorbankan anak yang ada dalam kandungannya, dia pasti akan menolak. Sebaliknya, dia akan dengan rela mengorbankan nyawanya demi anak itu. Karena seorang ibu pastilah sangat mencintai anaknya."
\*\*\*
Hari-hari setelahnya, Gallen dan Zoya semakin terlihat akrab. Mereka mulai terbiasa dengan keberadaan masing-masing dan saling membantu satu sama lain. Bahkan untuk urusan membersihkan rumah yang seharusnya menjadi tugas Zoya, Gallen yang merupakan bos tak merasa keberatan untuk membantu. Alby pun tak lagi terkejut melihat perubahan bosnya yang sangat drastis. Untuk Zoya, Gallen bahkan sampai bisa melakukan hal-hal yang rasanya tak mungkin dirinya lakukan untuk orang lain.
"B-Bos ...." Rintih Zoya.
Gallen yang sedang duduk di sofa segera mendekat, berjalan sedikit tergopoh melihat gadis itu yang berjalan pelan ke arahnya.
"Kau, apa yang terjadi?" Tanyanya.
Zoya menatap ragu bosnya, sebenarnya tak yakin untuk meminta tolong. Tapi, ia tak punya pilihan lain, "Anu, apa bos bisa membelikan saya pembalut?"
"Hah?"
Zoya meringis merasakan sakit di perutnya. Memang aneh jika dirinya meminta bosnya itu untuk membeli keperluan pribadinya, jadi Zoya kembali mencabut kata-katanya tadi, "Tidak, tidak jadi. Saya akan beli sendiri."
Baru beberapa langkah gadis itu berjalan, Gallen sudah menarik lengannya kembali. Meski dia sendiri pun merasa aneh dengan permintaan Zoya, Gallen tak bisa membiarkan orang yang sedang merasa kesakitan itu pergi sendiri.
"Aku akan membelinya." Putus Gallen.
Tanpa menunggu jawaban Zoya, Gallen telah pergi lebih dulu. Bukankah hanya membeli pembalut? Apa yang harus ditakutkan dari itu?
Dan Gallen pun pergi dengan percaya diri. Ini hanya persoalan kecil baginya, jadi seharusnya Gallen bisa menyelesaikannya. Namun, yang tak dirinya sangka, pada akhirnya dia justru merasa kebingungan juga.
"Hmm."
Dia memerhatikan deretan barang di depannya. Mau dipikirkan bagaimanapun, sepertinya ini memang salahnya. Gallen pergi dengan terburu-buru tadi. Dia bahkan tidak sempat menanyakan jenis pembalut apa yang gadis itu gunakan. Dan ternyata pembalut memiliki berbagai merek dan bentuk?
Yang mana yang harus aku beli? Aku tidak tahu apa perbedaannya!
Beberapa orang yang ada disana mulai berbisik-bisik. Tentu saja, karena itu terlihat lucu. Seorang pria berkulit eksotis, dengan tubuh tegap nan kekar itu berdiri di depan etalase yang menjual pembalut? Yang benar saja!
Ah, aku ambil secara asal saja!
Gallen kemudian mengambil beberapa jenis pembalut dengan merek dan bentuk yang berbeda, lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Saat melewati lemari pendingin, tak sengaja Gallen melihat minuman yang biasanya diiklankan sebagai minuman yang bisa meredakan nyeri haid. Meski Zoya tak meminta, Gallen juga mengambil beberapa botol minuman tersebut. Mungkin saja, Zoya membutuhkannya.
__ADS_1
Dan sekarang, Zoya yang tengah terduduk di kasurnya itu tertawa terbahak melihat belanjaan bosnya yang sangat banyak.
"Bos," panggilnya, "Mengapa Anda membeli sebanyak ini? Ini bahkan bisa jadi stok untuk satu tahun." Katanya lagi yang disambung dengan tawa. Zoya masih memegangi perutnya yang sakit, namun gelitikan akibat tingkah lucu bosnya membuat ia tak sanggup menahan tawa.
"Aku tidak tahu kau butuh yang mana. Siapa suruh ada banyak merek dan bentuk seperti itu." Jawabnya.
Zoya mengambil satu pembalut dari plastik, lalu menatap bosnya yang bersedekap dada, "Sebenarnya tidak masalah, mau apapun merek dan bentuknya." Jawab Zoya. Saat mengambil pembalut tersebutlah, Zoya menyadari sesuatu, "Eh, apa ini?"
Ia mengeluarkan botol minuman yang dibeli Gallen. Gallen kemudian menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal, mulai mencari-cari alasan, "Sepertinya itu sering diiklankan, jadi aku asal beli saja." Katanya.
Tak elak, senyuman tipis terbit di bibir Zoya. Gadis itu menggenggam erat salah satu botol minuman tersebut ditangannya, lalu menatap sang bos yang sedang malu sendiri.
"Terimakasih, Bos. Anda sangat perhatian dengan pekerja Anda, ya." Ledeknya.
Gallen memutar mata, melihat kesal pada gadis itu, "Dasar bodoh. Cepatlah sembuh!" Katanya.
Zoya terkikik geli. Bahkan setelah setengah bulan bekerja di rumah ini, Gallen masih saja mudah digoda seperti ini. Dan Zoya yang sudah tahu sifat bosnya ini pun masih sering menggodanya hingga Gallen terus merasa kesal.
***
Meski tidak dipungkiri bahwa sesekali Gallen masih dibuat kesal dengan tingkah absurd Zoya, pria itu semakin bisa menahan emosinya. Gallen tak lagi marah untuk hal-hal kecil, dia mulai terbisa menjadi bos yang baik bagi pekerjanya. Dan itu cukup membuat heran orang-orang sebab perubahan Gallen terbilang cukup cepat.
Gallen mengambil bekal yang telah disiapkan oleh Zoya. Pria itu mengangkat bekalnya tinggi, menunjukkan bahwa dia tak melupakan hal itu pada Zoya yang tengah berdiri cukup jauh dari posisinya.
Gallen dan Zoya sepertinya memang cukup cocok untuk satu sama lain. Terutama, karena sikap Zoya yang tak mudah sakit hati dengan semua kata-kata kasar sang bos. Gadis itu tampaknya berhasil menjinakkan Gallen yang terkenal galak, bahkan berhasil membuat pria yang tak pernah menyentuh makanan rumahan lagi itu untuk selalu membawa bekal dari rumah. Sangat luar biasa, bukan? Tentu saja para pekerja di kantor dibuat sangat penasaran dengan perubahan itu, juga sosok yang selalu membuatkan bekal untuk bos mereka hingga Gallen yang selalu terlihat menakutkan tiba-tiba berubah menjadi lebih lembut.
Dan rumor itu terus menyebar, hingga sampai pada satu titik dimana semuanya berubah menjadi mimpi buruk.
***
Saat malam datang, Gallen dan Zoya akan berkumpul di ruang tengah. Disana ada sebuah TV besar yang dapat mereka gunakan untuk menonton bersama. Hampir sebulan sejak Zoya tinggal di tempat ini, berbagai macam film sudah mereka tonton. Maklum, sebelumnya gadis itu tak pernah tahu menahu tentang film-film semacam itu. Meskipun Zoya pernah mendengar namanya, ia tak pernah benar-benar menonton film tersebut hingga baru sekarang lah ia menontonnya atas ajakan dari Gallen.
Saat ini, mereka tengah menonton salah satu film luar negeri tentang kisah cinta manusia dan vampir. Ini adalah seri keempat dari film itu. Gallen bilang, film itu memiliki lima seri. Masih tersisa satu seri lagi untuk mereka tonton.
"Ah!" Suara itu lolos dari bibir Zoya. Ia menoleh ke sebelah, meminta maaf pada Gallen karena mengganggu konsentrasinya.
"Maaf." Ujarnya.
__ADS_1
Gallen yang semula ikut menoleh pun kembali melihat ke depan, "Untuk?"
"Mengganggu bos," katanya, "Padahal bos sedang menonton."
Gallen memperbaiki posisi duduknya, lalu kembali menjawab, "Tidak apa, lagipula aku tidak melarangmu berbicara."
Zoya yang mendengar itu kembali melihat ke depan. Saat ini, sang pemeran utama pria tengah berusaha menyelamatkan pemeran utama wanita yang terlihat tak bernyawa setelah melahirkan, "Insting seorang ibu untuk melindungi anaknya itu benar-benar hebat." Katanya.
Gallen menoleh kembali. Meskipun dia mengatakan tidak masalah jika gadis itu berbicara, tapi sekarang dia sepenuhnya tak lagi merasa tertarik dengan pertunjukan yang ada di depan.
"Kenapa kau berpikir demikian?"
"Hm," gadis itu tersenyum, "Meskipun saya belum merasakannya, tapi sedikit banyak saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pemeran utama wanita dalam film itu." Katanya. Ia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di sandaran sofa.
"Bahkan jika ada cara untuk menyelamatkan nyawanya dengan mengorbankan anak yang ada dalam kandungannya, dia pasti akan menolak. Sebaliknya, dia akan dengan rela mengorbankan nyawanya demi anak itu. Karena seorang ibu pastilah sangat mencintai anaknya." Zoya menatap adegan dari film yang ditontonnya itu dengan penuh perhatian.
Untuk sesaat, Gallen hanya terdiam. Dia benar-benar mencermati setiap perkataan gadis itu tanpa terlewati. Pikirannya tenggelam. Kata-kata itu membuatnya melayang dalam kenangan puluhan tahun lalu, dimana seseorang menyelamatkan nyawanya dengan mengorbankan nyawanya sendiri.
Larilah!
"Bos?"
Gallen menoleh, mendapati Zoya yang kebingungan saat menatapnya. Gadis itu bertanya tentang apa yang terjadi, namun Gallen menjawab bahwa dia baik-baik saja. Meskipun kurang meyakinkan, tentu saja ia tak bisa bertanya lebih. Zoya tahu betul bahwa ia tak boleh ikut campur dalam urusan bosnya.
Satu-satunya yang terpikirkan oleh gadis itu, hanyalah mengalihkan pikiran bosnya yang tengah terbang entah kemana.
"Oh, ya, bos." Panggil Zoya. Gallen yang merasa bahwa namanya dipanggil menoleh, mulai merasa penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh gadis itu.
"Sebenarnya saya sudah merasakan ini sejak seri sebelumnya, tapi bukankah pemeran utama pria keduanya lumayan mirip dengan bos? Terutama warna kulitnya." Ujar Zoya.
Bahkan meskipun tidak disebutkan secara gamblang, seperti yang Alby pikirkan, Zoya terlalu polos sehingga setiap apa yang dipikirkannya dapat terlihat jelas di wajahnya. Dan sekarang pun begitu, Gallen bisa paham dengan jelas apa tujuan sebenarnya dari gadis itu. Hanya saja, Gallen ingin menghargai usaha Zoya yang ingin menghiburnya.
"Hm, tapi bukankah aku lebih tampan?" Jawab Gallen. Zoya sempat membulatkan matanya, terkejut dengan kepercayaan diri bosnya itu. Namun hanya dalam beberapa detik, gadis itu sudah memahami maksud perkataan Gallen dan terkekeh kecil.
"Ya, Anda memang tampan." Jawab Zoya.
Gallen pun tersenyum sembari menatap ke depan kembali, begitupun dengan Zoya yang sesekali masih terkikik. Bagaimanapun, mereka sepertinya memang suda terbiasa bersama.
__ADS_1
***