Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
32. Bertemu Kembali


__ADS_3

..."Dunia memang benar-benar kecil."...


...***...


"Rumah ini sudah dijual. Kepada pengontrak dimohon untuk menghubungi ke pemilik rumah lama." Zoya bingung bukan kepalang. Bagaimana ia bisa mencari rumah kontrakan baru dan memindahkan barang-barangnya dalam waktu satu hari?


Ia segera merogoh tas kecil yang dipakainya. Padahal sebelum pulang ke desa, Zoya langsung membayar uang sewa kontrakannya sebagai bentuk perpanjangan. Ia juga sudah berpamitan pada pemilik rumah sebelum pergi. Lalu, bagaimana bisa pemilik rumah malah menjual rumah tersebut tanpa sepengetahuannya?


"Halo, Bu. Saya Zoya."


Zoya mulai berbicara dengan pemilik rumah di telepon. Terjadi sedikit perdebatan disana. Tentunya karena Zoya merasa pemilik kontrakan telah bertindak semena-mena padanya, maka dari pada itu ia merasa tidak terima dengan tindakan mereka.


"Tapi Bu, saya kan sudah bayar biaya kontrakan untuk bulan ini. Masa saya diusir." Ujar Zoya lagi.


Ibu pemilik kontrakan kembali memberikan argumennya sendiri.


"Saya bukan minta dana saya dikembalikan, tapi ---"


Ibu pemilik kontrakan memotong kata-katanya lagi. Katanya, ada orang yang membeli rumah kontrakannya dengan harga tinggi. Bahkan, berkali-kali lipat dari harga normalnya. Tentu saja ibu pemilik kontrakan tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Karena itu pulalah, dia bersedia mengembalikan seluruh pembayaran bulan ini yang sudah Zoya berikan sebelumnya, bahkan menggandakannya sebagai bentuk permintaan maaf.


"Hah." Zoya menghela napas panjang. Pada akhirnya, ia tetap tidak bisa memenangkan pembicaraan itu. Uang memang selalu memenangkan segalanya. Dan sekarang Zoya bingung, harus apa dan kemana lagi ia pergi.


"Apa minta tolong Dafa dulu, ya?" Pikirnya. Disaat seperti ini, satu-satunya yang dia pikirkan adalah meminta tolong. Dan entah kenapa pikirannya justru tertuju pada teman masa kecilnya itu.


Namun, baru saja Zoya berpikir demikian, ingatan akan pembicaraannya beberapa hari yang lalu dengan sang ibu berkelebat di kepalanya.


Dia suka sama kamu, lah. Itu baru pemikiran ibu, ya.


"Hm." Zoya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Gara-gara teringat itu, ia jadi tidak bisa meminta tolong pada Dafa. Bagaimana jika yang dikatakan ibunya memang benar? Sangat tidak nyaman meminta tolong pada seseorang yang memiliki perasaan padanya disaat ia sendiri tidak yakin dengan perasaannya sendiri.


"Oh, Winona!" Zoya akhirnya teringat pada temannya itu. Ia kembali mencari sesuatu di ponselnya, berusaha menghubungi Winona yang hampir seminggu ini tak pernah dihubunginya.

__ADS_1


"Nomor yang anda tuju---"


Tut


Zoya memutus panggilan telepon tersebut. Ia kembali mencoba menghubungi nomor yang sama, namun lagi-lagi Winona tidak mengangkat panggilannya.


"Winona kemana, ya?"


Zoya kembali menghela napas panjang. Ditatapnya sang putra yang nampak kelelahan, kelaparan dan kehausan. Ia pun merasa tidak tega.


"Kita pergi beli makan dulu, yuk!" Ajaknya.


Noah hanya mengangguk. Dengan digandeng, Noah yang tetap diam itu akhirnya mengikuti langkah kaki Ibunya. Ada sebuah warung ayam geprek di seberang jalan. Zoya memesan dua ayam geprek, beserta nasi dan teh es.


"Nanti setelah selesai makan, Mama akan coba hubungi Bu Guru Winona lagi. Kalah tidak bisa, mau enggak mau kita minta tolong ke paman Dafa." Ujarnya.


Sebenarnya ia sangat tidak ingin merepotkan pria itu, namun kalau tidak ada lagi yang bisa menolongnya, mau bagaimana lagi? Zoya tak mungkin membiarkan Noah tidur di jalanan. Dan untuk menginap di hotel, uangnya tidak sebanyak itu. Meskipun cukup, mungkin itu hanya bisa bertahan untuk satu sampai dua hari saja di kamar paling murah.


"Makan yang banyak." Zoya memberikan sebagian ayam geprek yang ada di piringnya. Anggap saja itu adalah bentuk permintaan maafnya pada Noah.


***


"Totalnya tiga puluh lima ribu lima ratus. Ada yang mau ditambahkan lagi?"


Zoya menggeleng dan memberikan selembar uang berwarna biru pada wanita itu. Wanita yang berdiri di belakang meja kasir itu segera menerima uang tersebut, lalu mengetik beberapa hal di komputer dan memberikan kembalian kepadanya.


"Terimakasih telah berbelanja di IndoApril." Ujarnya.


Zoya tersenyum. Ia lantas keluar dari ruangan ber-AC itu, menghampiri Noah yang sudah duduk lebih dulu di meja depan.


"Ini, Mama sudah belikan yang Noah mau."

__ADS_1


Noah langsung melihat isi belanjaan di dalam kantung yang Mamanya bawa. Ada susu kotak, minuman teh dalam botol, juga beberapa makanan ringan. Noah mengambil susu kotak dan makanan ringan. Dia lalu menancapkan sedotan ke susu kotak dan langsung meminumnya.


Setelah selesai makan tadi, Noah bilang dia ingin beli minuman dan makanan ringan di IndoApril. Zoya tidak merasa keberatan. Toh kasihan juga anak itu yang sedari tadi tak juga bisa beristirahat di kamar. Karenanya, Zoya nurut-nurut saja saat anaknya itu meminta untuk dibawa kemari.


"Kita mau kemana lagi, Ma?" Tanya Noah akhirnya.


Zoya tampak berpikir. Seperti Noah, ia pun masih tidak tahu harus kemana. Winona masih tak juga mengangkat teleponnya. Dan Dafa, entah mengapa juga tidak bisa dihubungi. Sebenarnya tidak aneh jika mengingat sebentar lagi hari akan gelap. Restoran pasti tengah sibuk menyiapkan persiapan untuk makan malam. Tapi, sekarang Zoya jadi harus bagaimana, dong?


"Sebenarnya uang Mama masih cukup untuk kita menginap di hotel satu malam. Bagaimana kalau kita --- " Ucapan Zoya terhenti.


Mungkin karena tidak memerhatikan sekitar, Zoya jadi tidak sadar saat sebuah mobil mewah memarkir di parkiran toko IndoApril yang saat ini dirinya datangi. Dan lebih parahnya lagi, Zoya bahkan tidak menyadari siapa sosok yang baru saja turun dari mobil tersebut.


"Kak Alby!" Teriak Zoya.


Alby tersenyum lebar. Dia sudah tahu siapa orang yang akan ditemuinya. Namun saat bertemu secara langsung, Alby masih merasa tidak percaya.


"Hai, ternyata kamu masih kenal aku?" Candanya.


Zoya langsung berdiri dan menyalami pria itu. Bertahun-tahun telah berlalu, namun sepertinya tidak banyak hal yang berubah dari pria itu. Justru, sepertinya Alby semakin tampan dari saat mereka pertama kali berjumpa enam tahun lalu.


"Kok kita bisa ketemu disini, sih?" Zoya terlihat senang, "Dunia memang benar-benar kecil." Katanya.


Karena meskipun ia berada di kota yang sama dengan pria itu, aneh saja jika mereka bisa bertemu lagi. Apalagi, setelah enam tahun lamanya putus kontak. Tuhan sepertinya sangat baik karena mempertemukan mereka secara tidak sengaja seperti ini.


"Haha, ini sebenarnya bukan kebetulan. Aku datang kemari dengan seseorang." Ujarnya.


Zoya mengerutkan dahinya, "Seseorang?"


Alby menoleh ke belakang. Sepertinya, pria itu memang sengaja memerintahkan Alby untuk turun duluan. Padahal, mereka bisa turun bersama-sama. Seperti meminta dipanggil lebih dulu. Karena saat Zoya menoleh ke belakang, sosok yang katanya datang bersama Alby itu akhirnya ikut turun dan menemui dirinya.


"Bos?"

__ADS_1


***


__ADS_2